- Existence
Selalu terfikir
olehku, aku lahir, tanpa tahu untuk apa? aku lahir begitu saja, tanpa ada
persetujuan ingin atau tidak? istilahnya kecebur gitu aja. Meski begitu, terlahir ke dunia ini dianggap sebagai
sebuah kemenangan. Karena, ada jutaan sel sperma yg bersaing satu sama lain
untuk membuahi sel telur, dan yang mampu melewati tantangan itu adalah the chosen one untuk melihat dunia. Sering
terpikir olehku, bagaimana rasanya tercipta menjadi orang lain atau mahluk
lain. Misalnya, bagaimana rasanya terlahir sebagai anak sang presiden, anak
penyandang cacat atau bagaimana rasanya jika aku terlahir sebagai burung yang
bisa terbang bebas diangkasa. kenapa aku terlahir menajadi aku? mengapa tidak
dilahirkan menjadi mahluk tuhan yang lain?
Bahkan, ketika
mempelajari sejarah orang-orang terdahulu dan menemukan pemikiran yang sama
dengan mereka, entah karena pemikiran itu adalah common sense atau apa, sehingga terkadang membuat ku kadang
berfikir, kenapa mereka dilahirkan terlebih dahulu? bagaima jika mereka adalah
aku? apakah aku pernah ada dahulu? apa mungkin reinkarnasi itu ada?. Ataukan
mungkin setiap orang terlahir dengan ide-ide yang sudah ada, hanya saja mereka
lupa, dan apa yang dilakuakn seperti belajar adalah cara mengingat kembali
ide-ide yang sudah ada itu?? Pertanyaan itu mengalir terus menerus. Memang
menggelontorkan pertanyaan begitu mudah, tapi tidak dengan mencari jawabnya. Dalam
kesendirian dan kesunyian aku terus mencari-cari. Namun, yang kutemukan hanya
jalan buntu. Pada akhirnya, untuk mengobati rasa penasaran akan jawaban dari
segala pertanyaan, aku berkata “Mungkin tuhan pernah bertanya, meminta
prsetujuanku, apakah aku sanggup atau tidak dengan apa yg akan Ia gariskan,
akan tetapi aku lupa. Dan menjalani setiap detik adalah cara untuk mengingat
apa yg telah ia gariskan”. Seorang teman yang aku anggap adviser pernah berkata
“better to do an action than thinking of question that u don’t know the
answer”.
- Essence
Mencari tahu
arti keberadaanku takkan dapat terlepas dari perbuatan, jadi mungkin temanku
benar. Aku tak harus menarik diri dari lingkungan hanya untuk berfikir dan
menghabiskan seluruh waktu dari hidupku untuk mencari jawaban dari pertayaan
itu. Berbuat sesuatu dan menjadi bermakna untuk lingkungan adalah salah satu
jalan untuk mengingat kembali apa yang sesungguhnya telah tuhan gariskan
sebagai jawaban dari pertayaan-pertanyaan diatas. Seperti apa rasanya menjadi orang yg berarti
bagi orang lain? aku belum tahu, karna aku baru memulai. Lagipula, berarti atau
tidaknya seeorang ditentukan oleh penilaian orang yang menganggapnya berarti. Seberapa
besar aku dapat berarti berbanding lurus dengan seberapa berat dan seberapa
besar tanggngjawab yang aku ambil. Apakah aku akan dapat menyelesaikan misi
yang telah digariskan dan dapat mencapai kesempurnaan? Meskipun kesempurnaan
itu tak pernah ada dan usaha kita untuk mencapai kesempurnaan adalah
kesia-sian, namun mereka yang mengkonstruksi pikiranku berkata bahwa kesempuraan
itu berarti “akhir”.
- Perfect
Sempurna, sebuah
kata yang sulit bagiku untuk mendefiniskan seperti apa dan bagaimana rasanya. Entah
karna mengekor atau apa, tapi seperti yang mereka katakana, kesempurnaan hanya milikNya. Mungkin, karna
penilaian manusia mengenai tingkat kesempurnaan itu berbeda-beda sehingga tak
ada hal yang nampak sempurna bagi manusia. Mungkin juga, karna manusi tak
pernah merasa puas, sehingga tak ada yang benar-benar sempurna baginya. Di atas
langit ada langit katanya. Dan lagi-lagi, orang yang mengkonstruksi pemikiranku
berkata bahwa kesempurnaan itu dapat tercapai pada akhir hayat, atau kematian
itu sendiri. Akupun masih bingung mengapa demikian? hipotesisku, mungkin saja ini
dikarenakan pada saat kematian itulah manusi akan merasa cukup dan dititik
itulah kesempurnaan itu tercapai. Tak
puas rasanya menemukan diriku yang diinterfrensi oleh apa yang aku baca dan berdasarkan
pengalaman orang lain. Hal itu membuatku merasa ingin kembali ke titik nol,
dimana aku terbebas dari segala macam konstruksi. Tapi tentu saja, kerajaan
memory tak bisa dihapus dan dikosongkan
begitu saja. Jadi biarlah seperti itu, seperti anggapan orang-orang itu
bahwa kesempurnaan adalah kematian itu sendiri. In conclusion, anggap saja fase hidup seperti
ini: lahir(existence)-> berarti (essence)->mati (perfect). jika difase
kedua, seseorang tak mampu menjadi berarti mungkin ia mati sebelum waktunya.