Rabu, 21 September 2016

Existence- essence- perfect.


  • Existence

Selalu terfikir olehku, aku lahir, tanpa tahu untuk apa? aku lahir begitu saja, tanpa ada persetujuan ingin atau tidak? istilahnya kecebur gitu aja. Meski begitu, terlahir ke dunia ini dianggap sebagai sebuah kemenangan. Karena, ada jutaan sel sperma yg bersaing satu sama lain untuk membuahi sel telur, dan yang mampu melewati tantangan itu adalah the chosen one untuk melihat dunia. Sering terpikir olehku, bagaimana rasanya tercipta menjadi orang lain atau mahluk lain. Misalnya, bagaimana rasanya terlahir sebagai anak sang presiden, anak penyandang cacat atau bagaimana rasanya jika aku terlahir sebagai burung yang bisa terbang bebas diangkasa. kenapa aku terlahir menajadi aku? mengapa tidak dilahirkan menjadi mahluk tuhan yang lain?

Bahkan, ketika mempelajari sejarah orang-orang terdahulu dan menemukan pemikiran yang sama dengan mereka, entah karena pemikiran itu adalah common sense atau apa, sehingga terkadang membuat ku kadang berfikir, kenapa mereka dilahirkan terlebih dahulu? bagaima jika mereka adalah aku? apakah aku pernah ada dahulu? apa mungkin reinkarnasi itu ada?. Ataukan mungkin setiap orang terlahir dengan ide-ide yang sudah ada, hanya saja mereka lupa, dan apa yang dilakuakn seperti belajar adalah cara mengingat kembali ide-ide yang sudah ada itu?? Pertanyaan itu mengalir terus menerus. Memang menggelontorkan pertanyaan begitu mudah, tapi tidak dengan mencari jawabnya. Dalam kesendirian dan kesunyian aku terus mencari-cari. Namun, yang kutemukan hanya jalan buntu. Pada akhirnya, untuk mengobati rasa penasaran akan jawaban dari segala pertanyaan, aku berkata “Mungkin tuhan pernah bertanya, meminta prsetujuanku, apakah aku sanggup atau tidak dengan apa yg akan Ia gariskan, akan tetapi aku lupa. Dan menjalani setiap detik adalah cara untuk mengingat apa yg telah ia gariskan”. Seorang teman yang aku anggap adviser pernah berkata  “better to do an action than thinking of question that u don’t know the answer”.  
  • Essence

Mencari tahu arti keberadaanku takkan dapat terlepas dari perbuatan, jadi mungkin temanku benar. Aku tak harus menarik diri dari lingkungan hanya untuk berfikir dan menghabiskan seluruh waktu dari hidupku untuk mencari jawaban dari pertayaan itu. Berbuat sesuatu dan menjadi bermakna untuk lingkungan adalah salah satu jalan untuk mengingat kembali apa yang sesungguhnya telah tuhan gariskan sebagai jawaban dari pertayaan-pertanyaan diatas.  Seperti apa rasanya menjadi orang yg berarti bagi orang lain? aku belum tahu, karna aku baru memulai. Lagipula, berarti atau tidaknya seeorang ditentukan oleh penilaian orang yang menganggapnya berarti. Seberapa besar aku dapat berarti berbanding lurus dengan seberapa berat dan seberapa besar tanggngjawab yang aku ambil. Apakah aku akan dapat menyelesaikan misi yang telah digariskan dan dapat mencapai kesempurnaan? Meskipun kesempurnaan itu tak pernah ada dan usaha kita untuk mencapai kesempurnaan adalah kesia-sian, namun mereka yang mengkonstruksi pikiranku berkata bahwa kesempuraan itu berarti “akhir”.
  • Perfect


Sempurna, sebuah kata yang sulit bagiku untuk mendefiniskan seperti apa dan bagaimana rasanya. Entah karna mengekor atau apa, tapi seperti yang mereka katakana,  kesempurnaan hanya milikNya. Mungkin, karna penilaian manusia mengenai tingkat kesempurnaan itu berbeda-beda sehingga tak ada hal yang nampak sempurna bagi manusia. Mungkin juga, karna manusi tak pernah merasa puas, sehingga tak ada yang benar-benar sempurna baginya. Di atas langit ada langit katanya. Dan lagi-lagi, orang yang mengkonstruksi pemikiranku berkata bahwa kesempurnaan itu dapat tercapai pada akhir hayat, atau kematian itu sendiri. Akupun masih bingung mengapa demikian? hipotesisku, mungkin saja ini dikarenakan pada saat kematian itulah manusi akan merasa cukup dan dititik itulah kesempurnaan itu tercapai.  Tak puas rasanya menemukan diriku yang diinterfrensi oleh apa yang aku baca dan berdasarkan pengalaman orang lain. Hal itu membuatku merasa ingin kembali ke titik nol, dimana aku terbebas dari segala macam konstruksi. Tapi tentu saja, kerajaan memory tak bisa dihapus dan dikosongkan  begitu saja. Jadi biarlah seperti itu, seperti anggapan orang-orang itu bahwa kesempurnaan adalah kematian itu sendiri.  In conclusion, anggap saja fase hidup seperti ini: lahir(existence)-> berarti (essence)->mati (perfect). jika difase kedua, seseorang tak mampu menjadi berarti mungkin ia mati sebelum waktunya. 
 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design