Jumat, 17 Agustus 2018

Perayaan Hari Kemerdekaan dan Politik Etis

Sama seperti pesta pada umumnya, perayaan hari ini pasti akan berakhir. Lantas apa yg akan tersisa? Anggaran yang dihabiskan untuk perayaan hari ini tentu tidak sedikit, tapi itu tidak ada apa-apanya. Kan bangsa ini adalah bangsa yang kaya, kalau cuma pesta kaya gini mah kecil. Malu juga si, bangsa kaya raya kok pelit untuk sekedar membiayai peringatan hari jadinya. Pajak rakyat memang diperuntukkan untuk itu kan?
Dibalik kemegahan peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia di Istana Negara, di luar sana banyak orang memperingatinya dengan cara yang berbeda. Ada yang sibuk bermain tarik tambang ketika tambang-tambang di Negeri ini ditarik oleh investor, ada juga yang sibuk dengan pakaian rapi nan indah serta hidangan beraneka rupa, ketika kaum miskin kebingungan mencari pengganjal perut dan penutup badan untuk menghalau hawa dingin. Ada yang sibuk dengan memperhatikan manuver-manuver pesawat TNI yang di udara, ketika para veteran perang berjalan dengan kaki tiga karena telah diusia senja tak kunjung sejahtera. Ada juga yang sedang khidmad melaksanakan upacara dipuncak gunung, atau menyatu dengan keindahan alam di bawah laut sembari mengibarkan bendera kebanggan.
Bagi sebagian orang, berbaris, hormat bendera, serta bernyanyi menghadap sang saka merah putih terkesan militer, maka aku memilih tenggela dalam lautan kata-kata sebuah novel sejarah tentang bapak yang terlupakan. Novel tersebut berjudul "Tan sebuah novel"  karya Hendri Teja. Ketika orang berpanas-panasan upacara di bawah terik matahari sembari hormat berdera dan diiringi lagu indonesia raya, saya larut dalam bacaan sembari merasakan semangat Ibarahim muda yang memuncak ketika penulis menceritakan tentang keberhasilannya menyelenggarakan kongres pelajar Hindia di Nederland kemudian membentuk Perhimpunan Pelajar Hindia Nederland (PPHN). Hal yang menarik bagiku dalam buku ini adalah program politik etis. Ya, perogram yg mengizinkan rakyat Nusantara untuk bersekolah dibiayai oleh pengusaha-pengusaha Nederland. Kesempatan ini memang diperuntukkan untuk kalangan tertentu. Sebagai seorang yang memiliki gelar Datuk, Ibrahim muda diperkenankan mengenyam pendidikan tak hanya di Bukit tinggi, namun juga berkesempatan untuk menimba ilmu ke Nederland.
Program politik etis yang diselenggarakan sebagai bentuk balas budi pada rakyat Hindia yang kala itu menyokong pemasukan yang cukup tinggi ke dalam kas Nederland. Untuk tetap mendapatkan keuntungan, tentu cara-cara yang dilakukan oleh pengusaha Nederland untuk menghisap manusia-manusia polos dari Hindia menggunakan cara yang represif seperti menyiksa para pekerja, mereka juga diminta bekerja maksimal dengan upah yang minim. Kembali ke Ibrahim muda dan kawan-kawannya di PPHD, mereka adalah orang-orang pilihan karena berasal dari keluarga terhormat. Bagaiaman dengan keadaan dunia pendidikan hari ini? Biaya pendidikan yang terbilang cukup tinggi, hanya mampu diraih oleh mereka yang tergolong mampu.
Saya fikir, sampai hari ini politik etis alias balas budi masih berlangsung, sebuah negara akan memberikan beasiswa bagi pelajar dari Indonesia untuk belajar di Negaranya sebagai balasan karena telah diberikan ruang investasi atau kerjasama dibidang ekonomi berupa import barang dari negara tersebut, tentu cara itu tidak lagi dengan cara yg represif tapi persuasif (ISA). What make it different? Hanya perubahan dari cara penjajahan dari represif ke persuasif. Selain itu, politik balas budi  ketika ibarahim muda medapatkan beasiswa ke Nederland itu kita belangsung ketika kita belum memperingati 17 agustus, sedang  sekarang kita sudah memperingati 17 Agustus 
Merdeka %??
 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design