Salah satu pekerja di PT tersebut mengungkapkan dari 100 Kg kepiting rajungan, hanya sekitar 23 Kg yang berisi daging kepiting. “Dari 1 kwintal, paling cuma 23 Kg isinya. Tergantung bagus atau gaknya rajungan itu” Ujar perempuan yang sudah bekerja untuk PT ini sejak tahun 2000. Saat ditanya terkait penggunaan cangkang kepiting, mereka serempak mengatakan “eee, biasanya dibuang, kalo ada yang pesen baru kita bungkus, bisa jadi makanan ayam”.
Di PT inilah Harniati, ketua kelompok usaha perempuan dusun Keranji, mengambil cangkang kepiting untuk bahan baku kerupuk. Harniati mengatakan, Ia bisa mendapatkan satu karung cangkang kepiting hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp. 25.000. “ kan dulunya dibuang jadi sampah, ee sekarang kita bisa olah. Sekarung itu kita bayar 25 ribu” terangnya.
Upaya kelompok usaha perempuan ini mampu merubah limbah cangkang kepiting menjadi komoditas yang memiliki nilai jual. Ini tak hanya membawa keuntungan bagi kelompok usahanya, akan tetapi juga bagi penyedia bahan baku, PT Sinar Selatan.
Selain itu, seperti yang diungkapkan para pekerja di PT tersebut, dari 100 Kg rajungan hanya 23 Kg daging kepiting yang bisa diambil. Sehingga, bisa diperkirakan kurang lebih 77 Kg yang berupa kulit kepiting menjadi limbah. Pemanfaatan cangkang kepiting menjadi olahan kerupuk mampu mengurangi limbah cangkang kepiting, yang tentunya baik untuk lingkungan.
