Kamis sore lalu, grup WhatsApp(WA) Blogger Lombok tiba-tiba ramai. Bunda muslifa, sebagai kepala suku hendak mengajak beberapa Blogger Lombok untuk ikut di acara Lounching Pasar Malam di Aruna Seggigi. I'm so exited to hear that. Tak butuh waktu lama, I put my name on the list. Kupikir ini kesempatan bagus untuk bertemu kawan-kawan blogger yang hanya saya temui lewat grup WA.
Usai solat magrib, bersama dua orang blogger yang sudah lebih dulu saya kenal, Asmak dan Fadil, kami langsung meluncur ke lokasi acara. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja untuk sampai di hotel Aruna Senggigi. Sampai di area kolam, kami disambut dengan hangatnya suasana pasar malam. Para pekerja yang tak henti-hentinya menebar senyum sembari melayani pesanan para tamu, anak-anak yang tiduran di karpet sambil bermain game dan bercengkrama dengan keluarganya, alunan live music yang menyegarkan di telinga dan hati, serta gerombolan muda-mudi yang asik mengobrol diikui gelak tawa.
Terlampau asik mengamati suasa pasar malam ini membuat saya lupa, di depan saya sudah ada bang Ajie dan bang Didit yang sudah lebih dulu tiba di lokasi. Bergantian saya menjabat tangan keduanya sembari memperkenalkan diri. Bang Didit tiba-tiba nyeletuk, " dalam bayangan saya, hikmah itu emak-emak yang badannya lebar". Semua tertawa menyadari bandan saya tak selebar yang dibayangkan bang Didit.
Ka Asmak langsung menggeret saya ke stand Nasi Puyung. Tapi, saya lebih suka melipir ke stand popcorn🤭. Awalnya berharap dapat popcorn asin, ternyata hanya ada rasa karamel yang semanis hidup saya. Tak lupa, kami memesan jus jeruk untuk minuman bersama. Kami memilih untuk duduk di karpet dibandingkan di kursi, agar lebih leluasa tiduran dan duduk bersila. Saya tiduran sambil menonton babang penyanyi memainkan gitar akustiknya. Band Ajie datang membawa Wedang, dan Bang Didit membawa Nasi Liwet. Ada juga Satai Usus dan Telur Puyuh. Satu persatu kami icip makanan yang sudah terkumpul di tengah-tengah kami. Menu yang belum sempat saya coba adalah Bakso.
Setelah makan, masing-masing dari kami memilih menu favorit. Minuman favorit kami jatuh pada Wedang , si hangat yang sangat cocok untuk suhu Lombok di bulan Juli. Dinginnya cuaca di Lombok yang terkadang bisa mencapai 20 derajat Celcius membuat kami butuh minuman jenis ini. Kehangatan wedang menambah hangatnya meet up kami malam itu. Sedangkan untuk makanan, pilihan kami beda-beda. Ka asmak memilih Nasi Balap, Bang didit dengan Nasi Liwet, dan saya yang bunda Muslifa sebut sebagai anak bioskop banget memilih Popcorn.
Harga makan dan minuman di sini bervariasi, dari satu dolar hingga tiga dolar.
Terbilang murah untuk tempat yang berkonsep taman dengan makanan street food, tapi jauh dari riuhnya kendaraan dan polusi. Untuk mendapatkan dolar ini, anda bisa menukarkannya dengan uang rupiah di stand khusus penukaran. Satu dolar seharga sepuluh ribu saja. Dolar ini khusus untuk berbelanja di area pasar malam. Jika dolar anda tak habis anda belanjakan malam itu, anda bisa menukarnya kembali dengan uang asli, atau kembali berbelanja pada jawal pasar malam berikutnya.
Pasar Malam Aruna ini hanya ada empat kali dalam semingggu, yakni hari Senin, Rabu, Jum'at, dan Minggu. Dibuka dari jam 19.00-21.00. Tentu, jadwal pasar malam ini ramah bagi muda-mudi yang ingin hang out tapi masih terjerat jam malam. "You have to go home before 10 o'clock!" Mom says.

