Menjadi Objektif
Itulah mengapa saya cenderung memilih untuk tidak berafiliasi dengan bendera ormas, atau menjadi bagian dari isme-isme yang ada (kecuali keyakinan yang saya anut). Cukuplah identitas agama, suku, dan negara ini yang mengekang saya, selebihnya biarkan saya definisikan diri sebagai Dasein.
Belakangan, ada hal membuat saya tersadar. Saya tidak sepenuhnya mampu menjadi orang merdeka seperti yang saya katakan sebelumnya. Ketika saya menjadi bagian sebuah lingkaran kecil, saya akan memiliki kecendrungan untuk melindungi lingkaran itu. Sadar atau tidak, hal itu membuat saya defensif. Saya lupa pada objektivitas dan kemerdekaan yang saya agungkan. Ketika ada suara minor yang berbeda dengan mayoritas di dalam lingkaran kecil ini, tanpa sadar saya menjadi represif dan menutup kesempatan bagi orang lain untuk bertanya. Beruntung, saya cepat disadarkan oleh seorang kawan.
Jika merefleksikan ini pada tataran yang lebih luas, teramat sering kita melihat orang yang dulunya lantang bersuara menentang keputusan penguasa yang tidak pro rakyat, namun menjadi kucing saat masuk dalam lingkarang penguasa. Ia tak lagi mampu mendengarkan suara yang berbeda dengan lingkaran penguasa. Bahkan, ia menjadi menjadi represif terhadap suara-suara orang kecil yang dulu biasa ia suarakan. Ia tak mampu melihat lingkarannya dengan cara yang objektif. Bisa sebutkan sendiri nama tokoh-tokohnya.
Respon cepat tak selalu tepat
Di sisi lain, saya menyadari bahwa ada kesulitan tersendiri ketika saya menentukan tempat untuk berpijak. Relativitas membawa saya pada titik di mana saya menganggap semua perasaan dan pendapat orang lain valid. Sehingga sering kali saya kesulitan menemukan suara saya sendiri. Jika dipaksa untuk merespon dengan cepat (pada hal yang tidak saya perdalam sebelumnya) saya cenderung akan terbawa arus dengan pendapat-pendatat dominan. Itulah yang terjadi ketika saya merepresi pendapat seorang kawan. Hanya jika saya memberi jeda dan jarak untuk menelaah dan memproses semua pendapat tadi untuk mengambil keputusan, barulah saya mampu melihat dengan jernih dan menemukan pijakan sendiri.
Namun di era 4.0 ini, segala sesuatunya berjalan denga cepat. Saya dan mungkin kita, tak lagi diberi jeda untuk merespon sesuatu. Semua informasi didapatkan dalam keadaan fresh and hot, dan hal ini dapat kita respon dalam hitungan detik. Ini bisa menjadi bola-bola api jika kita tak memiliki cukup waktu untuk menilik lebih dalam. Pada kasus yang saya alami, respon cepat dan berapi-api saya tak beakhir tepat.
Dalam konteks yang lebih luas, kita acap kali disuguhkan dengan fenomena media daring yang blunder karena mengejar kecepatan. Ketika kecepatan menjadi paradigma utama dalam produksi sebuah berita, potensi pelanggaran kode etik jurnalistik menjadi lebih terbuka. Demi mengejar kecepatan, sebuah media daring kerap menyajikan data yang salah, terkadang bahkan fatal, dan tentu menyesatkan bagi publik.