Kamis, 08 Desember 2016

Live in piece

Pasca abad pertengahan, kemajuan ilmu pengetahuan tak lagi dapat dibendung. Dunia memasuki sebuah era yang mereka sebut sebagai era modern. Era ini telah merubah wajah dunia, segalanya serba instan dengan dikepalai oleh mesin. Ya, tenaga dan bahkan otak manusia semakin lama semakin tergantikan dengan hadirnya mahluk bernama "mesin". Mesin yang menghasilkan suara bising, memuntahkan asap pekat dengan bau menyengat.

Mesin-mesin berkolaborasi dengan manusia tak henti-hentinya mengeruk isi bumi dan berproduksi untuk memenuhi dahaga mahluk yang bernama manusia. Semakin lama mahluk yang tidak pernah merasa puas ini semakin serakah. Karna kebahagian, kesejahtraan dan segalanya diukur dari materi, untuk mengejar materi. Manusiapun saling menipu, menjatukan, bahkan saling melenyapkan. Tenti saja yang paling kuatlah yang akan bertahan. Semacam hukum rimba. Terdengar " hewani" bukan? Tak sekedar hewani, tapi hal ini mengerikan !!

Terkadang, terlintas dibenakku untuk menghindar dari dunia seperti ini. Kembali ke alam yang penuh dengan keindahan, kedamaian, kesederhanaan, dan jauh dari kebisingan, serta polusi. Menghindar dari konflik, hidup ditempat menjunjung tinggi kebersamaan, toleransi dan persaudaraan. Hidup dalam kesederhanaan, mengambil secukupnya dari alam. Terdengar konservatif bukan? Mungkin saja. Aku hanya membayangkan hidup dalam keluarga kecil, bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan. Sesekali pergi kepasar untuk mencari kebutuhan lainya, lalu mengajarkan adik-adikku membaca buku, belajar tentang agama, perbedaan, dan alam semesta. Ah mimpi itu terlalu ideal sepertinya, karna yang konservatif akan akan tergilas oleh arus. Mungkin aku terlalu banyak menonton Kartu serial Krishna yang hidup di sebuah desa bernama Vrindavan. Bukankah itu terdengar lebih damai daripada hidup dalam ambisi yang tidak akan pernah ada habisnya?

Rabu, 21 September 2016

Existence- essence- perfect.


  • Existence

Selalu terfikir olehku, aku lahir, tanpa tahu untuk apa? aku lahir begitu saja, tanpa ada persetujuan ingin atau tidak? istilahnya kecebur gitu aja. Meski begitu, terlahir ke dunia ini dianggap sebagai sebuah kemenangan. Karena, ada jutaan sel sperma yg bersaing satu sama lain untuk membuahi sel telur, dan yang mampu melewati tantangan itu adalah the chosen one untuk melihat dunia. Sering terpikir olehku, bagaimana rasanya tercipta menjadi orang lain atau mahluk lain. Misalnya, bagaimana rasanya terlahir sebagai anak sang presiden, anak penyandang cacat atau bagaimana rasanya jika aku terlahir sebagai burung yang bisa terbang bebas diangkasa. kenapa aku terlahir menajadi aku? mengapa tidak dilahirkan menjadi mahluk tuhan yang lain?

Bahkan, ketika mempelajari sejarah orang-orang terdahulu dan menemukan pemikiran yang sama dengan mereka, entah karena pemikiran itu adalah common sense atau apa, sehingga terkadang membuat ku kadang berfikir, kenapa mereka dilahirkan terlebih dahulu? bagaima jika mereka adalah aku? apakah aku pernah ada dahulu? apa mungkin reinkarnasi itu ada?. Ataukan mungkin setiap orang terlahir dengan ide-ide yang sudah ada, hanya saja mereka lupa, dan apa yang dilakuakn seperti belajar adalah cara mengingat kembali ide-ide yang sudah ada itu?? Pertanyaan itu mengalir terus menerus. Memang menggelontorkan pertanyaan begitu mudah, tapi tidak dengan mencari jawabnya. Dalam kesendirian dan kesunyian aku terus mencari-cari. Namun, yang kutemukan hanya jalan buntu. Pada akhirnya, untuk mengobati rasa penasaran akan jawaban dari segala pertanyaan, aku berkata “Mungkin tuhan pernah bertanya, meminta prsetujuanku, apakah aku sanggup atau tidak dengan apa yg akan Ia gariskan, akan tetapi aku lupa. Dan menjalani setiap detik adalah cara untuk mengingat apa yg telah ia gariskan”. Seorang teman yang aku anggap adviser pernah berkata  “better to do an action than thinking of question that u don’t know the answer”.  
  • Essence

Mencari tahu arti keberadaanku takkan dapat terlepas dari perbuatan, jadi mungkin temanku benar. Aku tak harus menarik diri dari lingkungan hanya untuk berfikir dan menghabiskan seluruh waktu dari hidupku untuk mencari jawaban dari pertayaan itu. Berbuat sesuatu dan menjadi bermakna untuk lingkungan adalah salah satu jalan untuk mengingat kembali apa yang sesungguhnya telah tuhan gariskan sebagai jawaban dari pertayaan-pertanyaan diatas.  Seperti apa rasanya menjadi orang yg berarti bagi orang lain? aku belum tahu, karna aku baru memulai. Lagipula, berarti atau tidaknya seeorang ditentukan oleh penilaian orang yang menganggapnya berarti. Seberapa besar aku dapat berarti berbanding lurus dengan seberapa berat dan seberapa besar tanggngjawab yang aku ambil. Apakah aku akan dapat menyelesaikan misi yang telah digariskan dan dapat mencapai kesempurnaan? Meskipun kesempurnaan itu tak pernah ada dan usaha kita untuk mencapai kesempurnaan adalah kesia-sian, namun mereka yang mengkonstruksi pikiranku berkata bahwa kesempuraan itu berarti “akhir”.
  • Perfect


Sempurna, sebuah kata yang sulit bagiku untuk mendefiniskan seperti apa dan bagaimana rasanya. Entah karna mengekor atau apa, tapi seperti yang mereka katakana,  kesempurnaan hanya milikNya. Mungkin, karna penilaian manusia mengenai tingkat kesempurnaan itu berbeda-beda sehingga tak ada hal yang nampak sempurna bagi manusia. Mungkin juga, karna manusi tak pernah merasa puas, sehingga tak ada yang benar-benar sempurna baginya. Di atas langit ada langit katanya. Dan lagi-lagi, orang yang mengkonstruksi pemikiranku berkata bahwa kesempurnaan itu dapat tercapai pada akhir hayat, atau kematian itu sendiri. Akupun masih bingung mengapa demikian? hipotesisku, mungkin saja ini dikarenakan pada saat kematian itulah manusi akan merasa cukup dan dititik itulah kesempurnaan itu tercapai.  Tak puas rasanya menemukan diriku yang diinterfrensi oleh apa yang aku baca dan berdasarkan pengalaman orang lain. Hal itu membuatku merasa ingin kembali ke titik nol, dimana aku terbebas dari segala macam konstruksi. Tapi tentu saja, kerajaan memory tak bisa dihapus dan dikosongkan  begitu saja. Jadi biarlah seperti itu, seperti anggapan orang-orang itu bahwa kesempurnaan adalah kematian itu sendiri.  In conclusion, anggap saja fase hidup seperti ini: lahir(existence)-> berarti (essence)->mati (perfect). jika difase kedua, seseorang tak mampu menjadi berarti mungkin ia mati sebelum waktunya. 

Sabtu, 16 Juli 2016

Think again about Cool-yah

Dari tempat dimana bintang bersinar begitu terang, namun tidak dengan mimpi. Mimpi disini, bukan mimpi ketika kau terlelap, namu apa yang ingin kau raih saat kau membuka matamu, lalu kau bergerak.

Di tempat ini, aku hanya ingin istirahat sejenak dari rutinitas mengejar angka-anagka yang tak kupahami untuk apa. Ya, angka-angka yang hangat disapa dengan sebutan GPA, yang mengukurku dan segenap kemampuanku, dari banyak aspek katanya. Padahal yang kau butuhkan unuk mendapatkan GPA tinggi hanyalah memuaskan ekspektasi para penentu ukuran itu. Ukuran tersebut bisa saja hanya sebatas pertimbangan mereka, atau hanya berdasarkan apa yang mereka suka. hah, tidakkah semuanya terlihat seperti pemahat yang memahat sebuah patung sesuai keinginannya?
Lantas dimana kebebasan yang mereka gembar-gemborkan?
Tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia katanya. Semua tujuan, terlihat ideal bukan? namun pada kenyataannya tak ada yag benar-benar ideal. Bukankah hakikat manusia untuk bebas? Bebas untuk memilih dan menentukan jalanya sendiri. Namun, berada dibawah bayang-bayang ekspektasi orang lain, bukankah sebuah penjajahan yang menihilkan kebebasan?

Akupun ikut terbawa arus. Arus yang terlalu deras untuk dilawan. Dan mungkin akan terlihat lucu untuk menjadi badut diantara banyak kartu Spade, Heart, Diamond, Club.  Mungkin juga karna aku terlalu takut untuk memilih jalan yang berbeda,( meskipun aku selalu berfikir bahwa aku tetap menjadi diriku sendiri untuk menjadi berbeda) . Mengapa begitu takut memilih jalan yang berbeda? untuk keluar dari sistem pendidikan mainstream. Padahal, banyak yang memilih untuk berbeda dan mampu bertahan dan bahkan sukses dengan pilihanya itu.  Alasanya sederhana, menjadi sebuah kebajikan ketika seorang anak menjadi apa yg orang tua harapkan. meskipun dengan begitu harus terpenjara dalam sebuah sistem pendidikan.  apa itu melawan nurani? entahlah

Apakah menjalani hal ini merupakan keihlasan  atau hanyalah dalih?
Aku tak benar-benar tahu seperti apa keihlasan itu, namun yang kulakukan hanyalah mengikuti arus.seperti yang orang-orang katakan”let it flow”. Bukankah hidup ini layaknya sebuah pohon yang memilki banyak cabang? kau hanya perlu memilih untuk melalui dan mejalani satu ranting dari banyak cabang tersebut. Pilihan itu akan mengantarmu pada sebuah akhir yang telah digariskan. Akan tetapi, setiap ranting akan memberikan cerita yang berbeda. Cepat atau tidaknya kau mencapai ujung pohon, tergantung pada cabang dan ranting mana yang kau pilih. Bisa saja ranting itu penuh lika-liku dan panjang atau mulus dan singkat. Namun, tak ada ranting yang mudah untuk dilalui, karna semuanya memiliki tantangan tersendiri. Terserah padamu bagaimana untuk melalu tantangan-tantangan tersebut. 

Ada beberapa tipe ranting yang mugkin akan ditemui, yang penuh resiko dan yang aman. Mungkin ada yang harus melewati ranting itu dengan berdarah-darah karna ia memilih ranting yang penuh dengan resiko. Ranting tersebut berbeda dari yang lain (read: anti-mainstream) yang tak pernah dilalui orang serta tak ada guideline untuk melewatinya. Sehingga untuk lolos dari ranting itu kau harus harus jatuh bangun. Adapun orang yang memilih ranting aman, yang banyak dilalui orang , akan mudah menaklukkannya karna ada guideline dari orang sebelumnya pernah melewati jalan tersebut. Semua pilihan ada ditanganmu. Untuk mengikuti jejak yang telah ada atau membuat jejak baru.  Begitu gambaran singkat perjalanan sebagai proses untuk mencapai ujung pohon.

Mengenai keputusan untuk memilih cabang dan ranting itu.  Tentu saja setiap orang akan bertanggung jawab terhadap semua pilihannya, dan kualitas orang tersebut akan ditentukan oleh seberapa beresiko pilihan yang diambil. Mungkin aku terlalu oportunis, karna tak berani untuk menggambil sebuah pilihan yang berbeda dan lebih beresiko. Bertahan untuk berbeda dan menjadi diri sendiri challenging bukan? Lantas, sanggupkah manusia mejadi diri sendiri? Benar-benar mejadikan apa yang mereka inginkan tanpa membiarkan lingkungan membentuknya..? Dan tanpa membiarkan dirinya terpengaruh pemikiran orang lain?

Jumat, 25 Maret 2016

luna llena en el cielo de 20- purnama di langit ke 20

puzzle 1
“kita akan bertemu di kuburan”
Sinar mentari pagi menembus barisan dedaunan lebat diluar jendela kamarku. Lalu, masuk melalui celah-celah kecil di jendela kamarku tanpa seijinku. Aku yang awalnya tidur dengan lelap, tak tahan akan godaanya, terpaksa aku harus bangkit dan melepas pelukan hangat selimut biru bergambar boneka puca. Sinar itu meliuk-liuk tepat dimataku, ia bergoyang seiring dengan perintah angin pagi. Betapa nyenyaknya tidurku pagi ini, masih terbayang dibenakku mimpi indah nan bersejarah. Mimpi bertemu dengan seorang pageran dari kerajaan mesir kuno, dan berpakaian ala fir'aun. Terbangun dari mimpi seindah itu, rasanya tak dapat dipercaya. 

Memang, mimpi dan kenyataan adalah dua hal yg masih misteri bagiku. Mimpi bisa terasa begitu nayata, bahkan kita bisa benar-benar menangis ketika bermimpi menangis. Sebaliknya ada bagian dari kenyataan yg terasa seperti mimpi. Sempat terfikir olehku, bahwa hidup ini dengan segala realitasnya, hanyalah mimpi. Dan kita akan benar-benar terbangun darinya ketika sang maut membaangunkan kita,tapi entahlah.

“kak” teriakan si bungsu menyadarkanku dari lamunan panjang pagi itu, dengan wajah suram dan toples beris keong ditanganya ia merayuku “ buatin mie buat sarapan”. Aku mengiyakan sambil menarik hidung peseknya. Aku tahu, mie buatanku memang berbeda, setiap pulang liburan ia akan memintaku membuatkan mie special untuknya. Kuahnya harus dimasak terpisah dengan air rebusan mienya. Setelah semuanya siap, kami makan bersama. Ayah yg lebih dulu mulai makan, hanya makan dengan garam dan air. Aku terhenyuk, laki-laki penyabar, pendiam dan penuh kasih sayang itulah ayah disisi lain. Aku takkan pernah bisa memahami dua sisi berbeda yg ada padanya. Aa bisa berubah sewaktu waktu layaknya musim kemarau dan musim huja yg silih berganti.


Adik bungsuku Sigar, asik dengan mie dimangkoknya. Ia masih terlalu polos untuk merasakan iba, meski begitu ia telah terpapar radiasi syndrom kapitalis. Saat aku mecoba mencicipi mie di mangkonya, dengan tatapan sebal ia melarangku. lantas aku berkata “nanti kaka mau beli pop mie aja, gak mau bagi-bagi sama ade”. Dengan sigap ia membagi mienya denganku dan menyendokkanya ke piringku. Yah, mungkin dia punya motto memberi sesedikit mungkin, untuk mendapatkan sebanya-banyaknya. Padahal, kami tak memiliki hubungan darah dengan bapak kapitalis Adam Smith, tapi entah apa yg menghegemoninya untuk menjadi seperti itu. 

Ketika ia menyendokkan mie ke piringku, tak sengaja ia menjatuhkannya. Ia mengambil sebagian mie yg jatuh dan memasukkannya kemulutnya, yg tersisa dilantai hanyalh remah-remahnya. Tak kusangka, ia berbicara pada remah-remah itu seraya berkata “besok kita ketemu di kubur ya”. Anak umut  5 tahun berbicara seperti itu? tahu apa dia soal kuburan? Memang malaikat kurang kerjaan membawakanya remah-remah mie kedalam kuburan? inilah syndrome mitos yg cukup melekat pada anak seumuran Sigar.

mi sol- mentariku


Tak tahukah engakau aku terluka
aku berkata, aku baik-baik saja
Saat itupula aku terkulai lemah tak berdaya 

Kenyataan tak semanis angan-angan
Kini kau meraih rembulanmu

janji itu hanyalah mawar berbisa
Terdengar indah  namun mematikan
biarlah,, biarlah, bayangmu memudar  bersama senjakala

namun, jangan biarkan asaku sirna bersamanya
izinkan aku tuk menyambut mentariku
sekali saja,  lalu untuk selamanya

kali ini, takkan ku biarkan senja merayunya
ia akan tetap disisiku hingga malam tiba
Meyelimutiku dari dinginya angin malam
Menghalau titikan embun dari dedaunan 

akupun begitu, 
Takkan ku biarkan rembulan mengganggunya
Takkan ku biarkan bintang mengitarinya
Kanku biarkan ia bersamaku saja, hingga waktu itu tiba


I AM COMING

WELCOME BACK :)




Hari ini cukup sepesial bagi saya,  bukan karna hari ulang tahun saya, bukan juga karna memperingati hari wafatnya Isa Almasih.  tapi, ini karna baru kepikiran buat comeback ke dunia Blogger  setelah lama vakum.

Sebenerya tadi cuma iseng buka blog Sahabat, dan ternyata I found that her post is really awesome,maybe it seems very simple but it's deep and gorgeous .  postinganya seputar kehidupan sehari-hari bersama sahabat, pacar (ini yang bikin jleb- I'M JOMBLO) dan seputar kopi. yups, dia seorang penggemar kopi.

selain stalking blog sahabat yang satu itu,secara  gak  sengaja juga buka blog salah seorang senior. never in my wildest imagination that I imagine him could writing such that kind of things(lebay) dan ternyata tulisannya ngalir deras.

Both two people inspire me to sign up and create new account, dengan nama baru-min verden- berharap tunangan dengan blog kali ini langgeng ya :D (Amin)
 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design