Jumat, 25 Maret 2016

luna llena en el cielo de 20- purnama di langit ke 20

puzzle 1
“kita akan bertemu di kuburan”
Sinar mentari pagi menembus barisan dedaunan lebat diluar jendela kamarku. Lalu, masuk melalui celah-celah kecil di jendela kamarku tanpa seijinku. Aku yang awalnya tidur dengan lelap, tak tahan akan godaanya, terpaksa aku harus bangkit dan melepas pelukan hangat selimut biru bergambar boneka puca. Sinar itu meliuk-liuk tepat dimataku, ia bergoyang seiring dengan perintah angin pagi. Betapa nyenyaknya tidurku pagi ini, masih terbayang dibenakku mimpi indah nan bersejarah. Mimpi bertemu dengan seorang pageran dari kerajaan mesir kuno, dan berpakaian ala fir'aun. Terbangun dari mimpi seindah itu, rasanya tak dapat dipercaya. 

Memang, mimpi dan kenyataan adalah dua hal yg masih misteri bagiku. Mimpi bisa terasa begitu nayata, bahkan kita bisa benar-benar menangis ketika bermimpi menangis. Sebaliknya ada bagian dari kenyataan yg terasa seperti mimpi. Sempat terfikir olehku, bahwa hidup ini dengan segala realitasnya, hanyalah mimpi. Dan kita akan benar-benar terbangun darinya ketika sang maut membaangunkan kita,tapi entahlah.

“kak” teriakan si bungsu menyadarkanku dari lamunan panjang pagi itu, dengan wajah suram dan toples beris keong ditanganya ia merayuku “ buatin mie buat sarapan”. Aku mengiyakan sambil menarik hidung peseknya. Aku tahu, mie buatanku memang berbeda, setiap pulang liburan ia akan memintaku membuatkan mie special untuknya. Kuahnya harus dimasak terpisah dengan air rebusan mienya. Setelah semuanya siap, kami makan bersama. Ayah yg lebih dulu mulai makan, hanya makan dengan garam dan air. Aku terhenyuk, laki-laki penyabar, pendiam dan penuh kasih sayang itulah ayah disisi lain. Aku takkan pernah bisa memahami dua sisi berbeda yg ada padanya. Aa bisa berubah sewaktu waktu layaknya musim kemarau dan musim huja yg silih berganti.


Adik bungsuku Sigar, asik dengan mie dimangkoknya. Ia masih terlalu polos untuk merasakan iba, meski begitu ia telah terpapar radiasi syndrom kapitalis. Saat aku mecoba mencicipi mie di mangkonya, dengan tatapan sebal ia melarangku. lantas aku berkata “nanti kaka mau beli pop mie aja, gak mau bagi-bagi sama ade”. Dengan sigap ia membagi mienya denganku dan menyendokkanya ke piringku. Yah, mungkin dia punya motto memberi sesedikit mungkin, untuk mendapatkan sebanya-banyaknya. Padahal, kami tak memiliki hubungan darah dengan bapak kapitalis Adam Smith, tapi entah apa yg menghegemoninya untuk menjadi seperti itu. 

Ketika ia menyendokkan mie ke piringku, tak sengaja ia menjatuhkannya. Ia mengambil sebagian mie yg jatuh dan memasukkannya kemulutnya, yg tersisa dilantai hanyalh remah-remahnya. Tak kusangka, ia berbicara pada remah-remah itu seraya berkata “besok kita ketemu di kubur ya”. Anak umut  5 tahun berbicara seperti itu? tahu apa dia soal kuburan? Memang malaikat kurang kerjaan membawakanya remah-remah mie kedalam kuburan? inilah syndrome mitos yg cukup melekat pada anak seumuran Sigar.

0 komentar:

Posting Komentar

 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design