Ada
banyak hal yang saya refleksikan dari pertanyaan “kapan punya
anak?”. Pertama, jika suatu hari saya punya anak, lalu anak saya
bertanya “Apa alasan ibu memutuskan untuk melahirkan saya?”.
Lantas kira-kira apa jawaban yang proper atas pertanyaan tersebut?. Bagi saya, semua hal yang saya lakukan harus memiliki alasan yang
jelas. Setiap pilihan yang diambil harus melalui pertimbangan yang matang.
Dulu
sekali, ketika saya naik ke kelas 2 MTS. Saya selalu bertanya
“Siapa Saya?”. Saya sadar, saya bukan sekedar tangan yang bergerak, mata
yang melihat, atau tubuh yang melenggok kesana kemari. Saya adalah
saya, tapi siapa saya? Kenapa saya ada di sini?.
Ketika
masuk MA/SMA, saya mencoba mengenali diri dengan menelusuri apa yang
saya sukai. Mungkin saya dapat menjawab pertanyaan “siapa saya”
dengan mengenali jati diri, keinginan, tujuan, dan hal yang berkaitan dengan keberadaan saya. Saya
jautuh pada kesimpulan bahwa saya suka menulis, terutama menulis
diary. Saya juga suka membaca novel. Temanya tentu tidak jauh dari keberADAan saya. Saat itu saya juga membaca buku psikologi, dan
personality. Setelah menulusuri kesemuanya, saya belum juga puas.
Awal
masuk kuliah, saya mulai membaca beberapa sumber bacaan terkait agama dan kepercayaan. Tak hanya tentang agama yang tertera di KTP saya, tapi juga selain itu. Saya membaca sedikit
tentang Hindu, berdiskusi dengan teman Katolik, atau membaca artikel
mereka yang mengaku diri ateis. Saya menemukan diri saya
mempertanyakan kembali kepercayaan yang saya anut saat itu. “Kenapa saya tidak boleh menyembah
tuhan ini dengan semua cara?” jika pencipta yang dimaksud semua agama
itu adalah merujuk pada dzat yang sama. Pencipta itu diberi nama yang berbeda-beda oleh manusia, sehingga pada praktiknya, tata cara penyembahanpun
berbeda-beda.
Kembali
ke keyakinan saya, kami punya tata cara tersendiri untuk berdoa, ada
hukum-hukum yang mengatur cara kami hidup, berprilaku, dan lain sebagainya. Cara
berdoa inilah yang membedakan agama yang satu dan lainnya. Sehingga cara ibadah agama yang satu tidak dapat diterima oleh agama lainnya.
Di tengah kebimbangan saya berfikir, "Life is the matter of
choices. Once you decide to take it, you have to be responsible of the choice that you have chosen". Berarti,
ketika saya memilih untuk beragama islam, saya harus melakukan setiap
ajarannya dengan taat, apapun konsekuensinya.
Dalam sebuah sumber, orang yang mengaku atheis menganggap setiap agama memiliki kemungkinan
yang sama untuk salah. Mungkin begitu. Karena kita belum
mengetahui apa yang akan terjadi di alam berikutanya, setelah kehidupan dunia. Entah agama mana
yang akan benar, itu tergantung apa yang kita yakini. Setiap agama memiliki
klaim masing-masing perihal ini. Melalui kitab masing-masing, setiap
agama punya cerita akan seperti apa kehidupan setelah kematian. Di sini, keimanan terhadap kitab suci itu dipertaruhkan. Lalu saya sampai pada kesimpulan "bagaimana mungkin saya yang kecil ini mampu memikirkan hal yang tak definisikan seperti itu? Apa logika saya mampu mejangkau Dia yang Maha itu?".
Dalam
keputuasaan mencari jati diri yang kemudian merebet pada keyakinan itu, saya
memutuskan untuk tetap memilih islam, mempelajarinya kembali. “I'll take all the risk of this choice” tekad saya. Bertanggungjawab atas
pilihan adalah hal yang saya pelajari dari pengalaman hidup yang
singkat ini.
Lalu
apa kaitanya dengan memiliki anak?apakah alasan saya memiliki anak? Itu masih saya pertimbangkan. Saya harus selesai dengan pertanyaan ini dulu. Dalam pikiran saya, saya tidak ingin menjadi egois, memaksa anak untuk hidup di dunia yang
bagi saya cukup "Cruel". Bergulat dengan kehidupan yang entah
mereka akan sukuri atau tidak. Meskipun saya menyadari, penciptaan manusia dalam agama saya tujuannya adalah untuk menyembah sang Pencipta, serta menjadi Khalifah di muka bumi.
Bagi saya, alasan memiliki anak
tidak sesimple “ agar ada yang merawat di masa tua, agar ada yang mengingat kita dalam doa ketika sudah tiada, agar
kita merasa memiliki kebahagiaan yang lengkap, agar kita tidak
dianggap mandul, agar kita diterima di kehidupan sosial”.
Alasan-alasan ini saya fikir egois, karena masih berorientasi pada
diri sendiri. Kata orang-orang cinta pada anak itu “uncoditional”, tanpa syarat. Lah, sebelum ada saja sudah banyak syarat begitu.
Belum
lagi trend orangtua yang memaksa anak-anaknya untuk les dari umur 4
tahu, dari les baca, tulis, hitung, nari, musik, dengan harapan mereka akan menjadi anak yang cerdas tanpa pernah bertanya keinginan si Anak. Sejak kecil anak-anak dipaksanakn untuk begini dan
begitu, tanpa diberi kebebasan untuk memilih. Sudah dilahirkan atas
ego orang tua, setelah lahir malah dipaksakan untuk memilih jalan
yang sudah ditetapkan oleh orang tua. Duhh!! well ya, memang ini
diharapkan untuk kebaikan mereka, tapi apa harus seperti itu?
Ditambah dengan kecemasan, jika saya melahirkan anak di tahun-tahun ini, itu berarti saya
melepaskan si anak untuk bertarung di dalam ring, yang memaksa manusia tidak
hanya bertarung sesama manusia, tapi kecerdasan buatan yang kecerdasannya
berkali-kali lipat dari manusia. So
scary!!!!
Lagi pula, bukankah prestasi hari ini diukur dengan cara yg beda?. Mungkin zaman dahulu, melahirkan anak banyak dan selamat sampai dewasa merupakan sebuah prestasi. Mengingat kehidupan kala itu masih terbilang sulit, dunia medis dan teknologi tak semaju hari ini. Mungkin angka kematian bayi saat itu cukup tinggi juga. Jadi pertanyaan warisan "kapan punya anak?" Bisa saja tak lagi relevan. Karena hal itu bukan lagi dipandang sebagai prestasi (bagi sebagian orang).
Hari ini, prestasi bisa saja didefinisikan sebagai karir yang mapan, kepemilikan atas properti, lahan luas, rumah mentereng, dan hal-hal lainnya. Atau prestasi dalam benak saya yang berarti bermanfaat bagi orang lain. So, bisakah kita berhenti mengurusi kehidupan orang lain dengan bertanya "kapan punya anak?".
0 komentar:
Posting Komentar