Selasa, 10 Maret 2020

"Kapan Punya Anak?" Pertanyaan yang tak berkesudahan


Ada banyak hal yang saya refleksikan dari pertanyaan “kapan punya anak?”. Pertama, jika suatu hari saya punya anak, lalu anak saya bertanya “Apa alasan ibu memutuskan untuk melahirkan saya?”. Lantas kira-kira apa jawaban yang proper atas pertanyaan tersebut?. Bagi saya, semua hal yang saya lakukan harus memiliki alasan yang jelas. Setiap pilihan yang diambil harus melalui pertimbangan yang matang.

Dulu sekali, ketika saya naik ke kelas 2 MTS. Saya selalu bertanya “Siapa Saya?”. Saya sadar, saya bukan sekedar tangan yang bergerak, mata yang melihat, atau tubuh yang melenggok kesana kemari. Saya adalah saya, tapi siapa saya? Kenapa saya ada di sini?.

Ketika masuk MA/SMA, saya mencoba mengenali diri dengan menelusuri apa yang saya sukai. Mungkin saya dapat menjawab pertanyaan “siapa saya” dengan mengenali jati diri, keinginan, tujuan, dan hal yang berkaitan dengan keberadaan saya. Saya jautuh pada kesimpulan bahwa saya suka menulis, terutama menulis diary. Saya juga suka membaca novel. Temanya tentu tidak jauh dari keberADAan saya. Saat itu saya juga membaca buku psikologi, dan personality. Setelah menulusuri kesemuanya, saya belum juga puas.

Awal masuk kuliah, saya mulai membaca beberapa sumber bacaan terkait agama dan kepercayaan. Tak hanya tentang agama yang tertera di KTP saya, tapi juga selain itu. Saya membaca sedikit tentang Hindu, berdiskusi dengan teman Katolik, atau membaca artikel mereka yang mengaku diri ateis. Saya menemukan diri saya mempertanyakan kembali kepercayaan yang saya anut saat itu. “Kenapa saya tidak boleh menyembah tuhan ini dengan semua cara?” jika pencipta yang dimaksud semua agama itu adalah merujuk pada dzat yang sama. Pencipta itu diberi nama yang berbeda-beda oleh manusia, sehingga pada praktiknya, tata cara penyembahanpun berbeda-beda.

Kembali ke keyakinan saya, kami punya tata cara tersendiri untuk berdoa, ada hukum-hukum yang mengatur cara kami hidup, berprilaku, dan lain sebagainya. Cara berdoa inilah yang membedakan agama yang satu dan lainnya. Sehingga cara ibadah agama yang satu tidak dapat diterima oleh agama lainnya. 

Di tengah kebimbangan saya berfikir, "Life is the matter of choices. Once you decide to take it, you have to be responsible of the choice that you have chosen". Berarti, ketika saya memilih untuk beragama islam, saya harus melakukan setiap ajarannya dengan taat, apapun konsekuensinya.

Dalam sebuah sumber, orang yang mengaku atheis menganggap setiap agama memiliki kemungkinan yang sama untuk salah. Mungkin begitu. Karena kita belum mengetahui apa yang akan terjadi di alam berikutanya, setelah kehidupan dunia. Entah agama mana yang akan benar, itu tergantung apa yang kita yakini. Setiap agama memiliki klaim masing-masing perihal ini. Melalui kitab masing-masing, setiap agama punya cerita akan seperti apa kehidupan setelah kematian. Di sini, keimanan terhadap kitab suci itu dipertaruhkan. Lalu saya sampai pada kesimpulan "bagaimana mungkin saya yang kecil ini mampu memikirkan hal yang tak definisikan seperti itu? Apa logika saya mampu mejangkau Dia yang Maha itu?".

Dalam keputuasaan mencari jati diri yang kemudian merebet pada keyakinan itu, saya memutuskan untuk tetap memilih islam, mempelajarinya kembali. “I'll take all the risk of this choice” tekad saya. Bertanggungjawab atas pilihan adalah hal yang saya pelajari dari pengalaman hidup yang singkat ini.

Lalu apa kaitanya dengan memiliki anak?apakah alasan saya memiliki anak? Itu masih saya pertimbangkan. Saya harus selesai dengan pertanyaan ini dulu. Dalam pikiran saya, saya tidak ingin menjadi egois, memaksa anak untuk hidup di dunia yang bagi saya cukup "Cruel". Bergulat dengan kehidupan yang entah mereka akan sukuri atau tidak.  Meskipun saya menyadari, penciptaan manusia dalam agama saya tujuannya adalah untuk menyembah sang Pencipta, serta menjadi Khalifah di muka bumi. 

Bagi saya, alasan memiliki anak tidak sesimple “ agar ada yang merawat di masa tua, agar ada yang mengingat kita dalam doa ketika sudah tiada, agar kita merasa memiliki kebahagiaan yang lengkap, agar kita tidak dianggap mandul, agar kita diterima di kehidupan sosial”. Alasan-alasan ini saya fikir egois, karena masih berorientasi pada diri sendiri. Kata orang-orang cinta pada anak itu “uncoditional”, tanpa syarat. Lah, sebelum ada saja sudah banyak syarat begitu.

Belum lagi trend orangtua yang memaksa anak-anaknya untuk les dari umur 4 tahu, dari les baca, tulis, hitung, nari, musik, dengan harapan mereka akan menjadi anak yang cerdas tanpa pernah bertanya keinginan si Anak. Sejak kecil anak-anak dipaksanakn untuk begini dan begitu, tanpa diberi kebebasan untuk memilih. Sudah dilahirkan atas ego orang tua, setelah lahir malah dipaksakan untuk memilih jalan yang sudah ditetapkan oleh orang tua. Duhh!! well ya, memang ini diharapkan untuk kebaikan mereka, tapi apa harus seperti itu?

Ditambah dengan kecemasan, jika saya melahirkan anak di tahun-tahun ini, itu berarti saya melepaskan si anak untuk bertarung di dalam ring, yang memaksa manusia tidak hanya bertarung sesama manusia, tapi kecerdasan buatan yang kecerdasannya berkali-kali lipat dari manusia. So scary!!!!

Lagi pula, bukankah prestasi hari ini diukur dengan cara yg beda?. Mungkin zaman dahulu, melahirkan anak banyak dan selamat sampai dewasa merupakan sebuah prestasi. Mengingat kehidupan kala itu masih terbilang sulit, dunia medis dan teknologi tak semaju hari ini. Mungkin angka kematian bayi saat itu cukup tinggi juga. Jadi pertanyaan warisan "kapan punya anak?" Bisa saja tak lagi relevan. Karena hal itu bukan lagi dipandang sebagai prestasi (bagi sebagian orang).

Hari ini, prestasi bisa saja didefinisikan sebagai karir yang mapan, kepemilikan atas properti, lahan luas, rumah mentereng, dan hal-hal lainnya. Atau prestasi dalam benak saya yang berarti bermanfaat bagi orang lain. So, bisakah kita berhenti mengurusi kehidupan orang lain dengan bertanya "kapan punya anak?".


0 komentar:

Posting Komentar

 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design