puzzle 1
“kita akan bertemu di
kuburan”
Sinar mentari pagi
menembus barisan dedaunan lebat diluar jendela kamarku. Lalu, masuk melalui celah-celah kecil di jendela kamarku tanpa seijinku. Aku yang awalnya tidur dengan lelap,
tak tahan akan godaanya, terpaksa aku harus bangkit dan melepas pelukan hangat
selimut biru bergambar boneka puca. Sinar itu meliuk-liuk tepat dimataku, ia
bergoyang seiring dengan perintah angin pagi. Betapa nyenyaknya
tidurku pagi ini, masih terbayang dibenakku mimpi indah nan bersejarah. Mimpi bertemu dengan
seorang pageran dari kerajaan mesir kuno, dan berpakaian ala fir'aun. Terbangun dari
mimpi seindah itu, rasanya tak dapat dipercaya.
Memang, mimpi dan kenyataan
adalah dua hal yg masih misteri bagiku. Mimpi bisa terasa begitu nayata,
bahkan kita bisa benar-benar menangis ketika bermimpi menangis. Sebaliknya ada bagian
dari kenyataan yg terasa seperti mimpi. Sempat terfikir olehku, bahwa hidup ini
dengan segala realitasnya, hanyalah mimpi. Dan kita akan benar-benar terbangun
darinya ketika sang maut membaangunkan kita,tapi entahlah.
“kak” teriakan si bungsu
menyadarkanku dari lamunan panjang pagi itu, dengan wajah suram dan toples
beris keong ditanganya ia merayuku “ buatin mie buat sarapan”. Aku mengiyakan
sambil menarik hidung peseknya. Aku tahu, mie buatanku memang berbeda, setiap
pulang liburan ia akan memintaku membuatkan mie special untuknya. Kuahnya harus dimasak terpisah dengan air rebusan mienya. Setelah semuanya siap, kami makan bersama. Ayah yg lebih dulu mulai makan, hanya makan dengan garam dan air. Aku terhenyuk,
laki-laki penyabar, pendiam dan penuh kasih sayang itulah ayah disisi lain. Aku
takkan pernah bisa memahami dua sisi berbeda yg ada padanya. Aa bisa
berubah sewaktu waktu layaknya musim kemarau dan musim huja yg silih berganti.
Adik bungsuku Sigar,
asik dengan mie dimangkoknya. Ia masih terlalu polos untuk merasakan iba, meski
begitu ia telah terpapar radiasi syndrom kapitalis. Saat aku mecoba mencicipi
mie di mangkonya, dengan tatapan sebal ia melarangku. lantas aku berkata “nanti
kaka mau beli pop mie aja, gak mau bagi-bagi sama ade”. Dengan sigap ia membagi
mienya denganku dan menyendokkanya ke piringku. Yah, mungkin dia punya motto
memberi sesedikit mungkin, untuk mendapatkan sebanya-banyaknya. Padahal, kami
tak memiliki hubungan darah dengan bapak kapitalis Adam Smith, tapi entah
apa yg menghegemoninya untuk menjadi seperti itu.
Ketika ia menyendokkan mie ke
piringku, tak sengaja ia menjatuhkannya. Ia mengambil sebagian mie yg jatuh dan
memasukkannya kemulutnya, yg tersisa dilantai hanyalh remah-remahnya. Tak
kusangka, ia berbicara pada remah-remah itu seraya berkata “besok kita ketemu
di kubur ya”. Anak umut 5 tahun
berbicara seperti itu? tahu apa dia soal kuburan? Memang malaikat kurang kerjaan
membawakanya remah-remah mie kedalam kuburan? inilah syndrome mitos yg cukup melekat pada
anak seumuran Sigar.
