Sedih?
Marah?
Indah?
Semua menjadi satu..
Dalam kesendirian, terkadang perasaan itu menyergap..
Sulit dipahami..
Beci? Ya, tapi bukan padamu..
Perasaan ini,
Ah, sudahlah..
Bisakah saya mengatakan "Aku Mencintaimu?"
Kendati perasaan ini belum berarah
Bisakah aku mengatakan "Aku Rindu?"
Keinginan itu membuncah
Lalu, seketika berbalik ke titik nadirnya
Senin, 27 November 2017
Fall?
Jumat, 21 Juli 2017
Boomingkan wacana kesehatan untuk Indonesia sehat
Rabu, 12 Juli 2017
Yang rumit itu istimewa
Dia Maha segala, sedangkan ciptaan tidak ada apa-apanya
Ciptaan dibuat tunduk karena tak berdaya dihadapanNya
Ciptaan yang tunduk akan diberika surga
Dan yang membangkan akan diberi gajaran berupa neraka
Dia meciptakan penyakit, juga obatnya
Dia menciptakan masalah, juga solusinya
Ciptaan kemudian kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaan dari mana, mengapa, untuk apa dan segala tentang "ADAnya".
Ciptaan merasa dirinya begitu rumit, tentu saja. jika ia dapat memahami dirinya dengan otaknya maka ia adalah ciptaan yang tidak istimewa.
Jika untuk menjadi istimewa ciptaan harus menjadi rumit, bagaimana dengaNya?
Tidakkah Ia juga akan terkesan terlalu rumit untuk memahami diriNya sehingga Ia menciptakan kita?
*Istigfar*
Sebelum ini terlintas dibenakku, sepertinya Kau sudah lebih dahulu tahu 😁
"Seharian aku tengah bingung, medalami sebuah kelainan yang oleh para ahli disebut sebagai bipolar. Sebuah keadaan dimana emosi tidak stabil dengan perubahan yang sangat signifikan. Dari depresi hingga hiperaktif (red: mania). Jika menjadi bipolar disebut sebagai " disorder" dan merupakan ketidak normalan aku menyadari bahwa Tuhan menciptaan manusia yang begitu rumit dan istimewa dengan segala problematikanya. Mereka menjadi unik dengan caranya, terutama pada hal psikologis. Jika saja dengan otak ini aku mampu memahami manusia, mungkin tuhan telah menciptakan mahluk yang begitu bodoh tapi, karena ia terlalu kompleks untuk dipahami maka ia menjadi ciptaan yang spesial"
Rabu, 24 Mei 2017
Generasi
Suatu kerajaan atau dinasti pasti pernah mencapai masa kejayanya. Namun, pada akhirnya kerajaan itupun mengalami kemunduran dan pada akhirnya runtuh.
Penyebabnya pun beragam, bagiku salah satu penyebanya adalah tidak tuntasnya transfer ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika generasi satu tingkat dibawahnya menerima transfer ilmu setingkat lebih sedikit, maka semakin ke belelakang, generasi tersebut akan mendapatkan transfer ilmu yang lebih sedikit pula, dan seterusnya sampai mereka berada diujung keruntuhan. Karena generasi satu tingkat dibawahnya menerima ilmu dan didikan yang berbeda maka hasil didikan itu melahirkan orang-orang yang berbeda pula.
Namun, hal itu tentu saja bisa di atasi. Jika saja generasi selanjutanya mau belajar lebih, tidak hanya dari 1 sumber ,namun juga sumber sebelum-sebelumnya. Jika generasi setelahnya memiliki kesadaran penuh untuk menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya.
Permasalahn selanjutnya adalah faktor pada kondisi seperti apa generasi itu dibesarkan. Ketika suatu generasi dibesarkan pada masa kejayaan, maka generasi tersebut akan terbiasa dengan kehidupan yang mewah. Sehingga lahirlah generasi yang oportunis. Ketika generasi oportunia ini lahir dan tak biasa berada dalam tekanan maka itu adalah akhir dari masa kejayaan kerajaan tersebut.
Dan faktor selanjutnya adalah setiap generasi memiliki corak yang berbeda, ketika dihadapkan dengan generasi dengan kesadaran yang rendah, kualitas yang tidak begitu baik, etos kerja yang rendah pula, keberanian yang tergadaiakan, maka habisalah kerajaan ini. Pola didikan seperti yang dikatakan pada faktor penyebab pertama tadi akan mempengaruhi generasi macam apa yang dihasilkan oleh kerajaan tersebut.
07/desember/2016
Rabu, 08 Maret 2017
Kau tau
Hari ini mungkin hari bahagiamu
Dimana tawa dan senyummu tercapur indah
Semua kata manis akan tertuju kepadamu
Hingga do'a dan harapanpun terselip di setiap celah
Tapi hari ini terasa sedih bagiku
Walau bahagiamu aku pinta tak berselang
Hanya aku tersadar di sendiriku
Detik yang diberikanNya telah hilang
Waktumu sudah semakin menipis
Dengan semua yang sudah terjadi
Membatku ingin melihatmu terus
Kekal, tak akan pernah pergi
Kau tahu bahwa aku manusia biasa
Aku tahu kau bersamanya
Sedikitpun aku tak pernah takut
Jika kau memang bersamanya
Hanya satu yang aku takut
Dimana aku kehilangan rasaku ini semuanya
By: AOZ
09/03/2017
To Me
Senin, 06 Maret 2017
Waiting for godot
Sama seperti dalam drama waiting fo godot, mereka terus membicarakan hal yang sampai akhir drama tidak pernah muncul. Sama seperti pertanyaan akan hal yang bisa dikatan diluar jangkauan pengindraan(trasenden), kita selalu bertanya namun tidak pernah berakhir pada jawaban yang benar-benar final. Karen itu, kemudian kita memilih untuk menjalankan banyak hal tanpa bertanya. Mereka berkata daripada bertanya dan tidak mendapatkan jawaban, lebih baik lakukan saja. Namun, hal ini pun kontradiktif, karena kita dikaruniai fikiran untuk berfikir, lalu akupun kembali bertanya. Sama seperti sebelum-sebelumnya hal yang penuh dengan kontradiksi itu begitu absurd.
Kembang kuning-sikur-lotim
7 maret 2017
02.33 am

