Jumat, 20 Maret 2020

Bolehkah saya berterima kasih pada corona?

                 Pic. Source: Frantiśek Czanner

Apa salah kalau saya berfikir Covid-19 ini baik? Baik bagi bumi yang kelebihan beban. Baik bagi kita untuk rebahan, eh bukan. Baik bagi manusia untuk mengambil jeda, lalu merenungi kembali semua perbuatannya. Mempertanyakah kembali apakah kita ini khalifah, atau hanya mahluk pembawa masalah?

Terlepas dari semua teori konspirasi yang menganggap peristiwa ini sebagai perang dengan senjata "biologi". Juga asumsi bahwa ini merupakan cara untuk mengontrol jumlah populasi di muka bumi. Namun saya percaya, ada hikmah dibalik wabah. 

Wajah asli negara dan warga

Hikmahnya? Kita bisa melihat wajah asli negara kita. Betapa ambisi pembangunan kita lebih besar pasak dari tiangnya. Negara bergantung pada import murah, ketika muncul wabah, ekonomi langsung goyah. Kita juga sadar bahwa bergantung pada hutang, bukan cara yang baik untuk bertahan.

Pemangku kebijakan memang tidak pernah benar-benar siap-siaga. Mereka lebih suka denial dan jumawa, ketimbang bersiap-siap untuk segala kemungkinan yang ada. Padahal ada jeda yang cukup lama, ketika Corona muncul pertama kalinya di Cina, kemudian masuk ke Indonesia. Saya tak habis fikir, kenapa kita tak perna benar-benar belajar dari sejarah. Beberapa tahun silam kita telah mampu mengatasi penyakit yang juga mewabah.

Mungkin elit politik kita tak pernah benar-benar empati, dalam bencana sekalipun, ada saja diskursus yang dibangun untuk menarik simpati. Ah iya, pemilihan sebentar lagi. Lalu sosial media kita dipenuhi caci-maki. Kita bisa menilai, negara ini tak punya banyak figur pemimpin dengan nalar yang memadai. 

Pun kita tau, rakyat macam apa yang menghasilkan elit politik seperti itu. 

Klaim kita sebagai bangsa dengan budaya gotong-royong, nyatanya itu hanya tinggal semboyan. Lihat saja bagaimana orang-orang ber-uang melakukan panic buying, sedangkan saudara kita yang lain pontang-panting. 

Tamparan dari alam

Ya, alam sedang menampar manusia.
Krisis ini menujukkan banyak hal pada kita. Dibandikan kekuatan alam, manusia tidak ada apa-apanya.

Corona mengajarkan bahwa kita mampu bertahan dengan hidup sederhana, apa adanya. Tanpa produksi berlebih dan mengambil secukupnya saja. Bahwa bumi harus ditanami tumbuhan, bukan bangunan untuk bermegah-megahan. Lagipula, apa yang manusia hadapi karena Corona hari ini, tak sepadan dengan apa yang telah bumi alami. Hewa-hewan kita buru dan tembaki. Manusia mengeksploitasi alam tiada habisnya. Sebut saja polusi udara, libah dan plastik yang tak terhitung jumlahnya, hutan ditebang di mana-mana, serta segala aktivitas yang merusaknya untuk memuaskan hasrat manusia.

Karena Corona, manusia harus mengisolasi diri. Lalu alam memiliki kesempatan untuk melakukan self recovery. Tentu saja ini terjadi hanya ketika ibu pertiwi lengang dari aktivitas kita. Ada lumba-lumba yang mulai bermunculan di salah satu kanal yang paling sibuk di Italia. Di Wuhan-Cina, langit yang tadinya berwarna pekat karena polusi, kini mulai berseri kembali. Kicauan burung yang biasanya kalah oleh kendaraan dan pabrik yang menderu, kini kembali berbunyi dengan merdu dan syahdu. 

Bumi kita mampu bernafas dengan lega, karena pesawat tak lagi wara-wiri seperti biasanya. Alam membaik tanpa aktivitas kita. Di Cina, Italia, dan banyak tempat lainnya.

Solidaritas yang utama

Seketika roda perekonomian melambat, investasi pun ikut terhambat. Mata kita dibuka, bahwa sistem kapitalisme bukan yang utama. Dalam situasi krisis, solidaritaslah yang membuat kita kuat. Sekat-sekat antar kelas, suku, ras, dan agama harusnya sudah amblas.

Tengok bagaimana negara di luar sana saling bahu-membahu, Iran meminta bantuan tim medis dari Cina, begitu juga Italia. Tak hanya metode tapi juga alat yang mereka bagi, guna menanggulangi virus ini. 

Saudara sebangsa kita juga harusnya bisa saling menjaga, bukan hanyak teriak saling mencerca. Yang berada seyogyanya mengulurkan tangan untuk mereka yang tak berpunya. Memperkuat tali persaudaraan untuk memulihkan keadaan. Bukan malah mengambil keuntungan dalam kesempitan.

Terima kasih Corona

Momen seperti ini mengajarkan kita bahwa apa yang kita anggap mapan, bisa kembali kita pertanyakan. Memikirkan kembali tujuan penciptaan, juga keberADAan. Mungkin ego kita akhir-akhir ini berlebihan dan keterlaluan. Hal itu mengakibatkan banyaknya penderitaan. Penderitaan bagi sesama manusia, flora, juga fauna.

Tanpa mengurangi rasa empati saya pada jiwa-jiwa luar biasa, yang sudah lebih dulu berpindah ke alam abadi di seberang sana.  Mereka yang telah terbebas dari derita di dunia. Juga tanpa mengurangi ta'zim saya pada tim medis dan peneliti yang berjuang untuk menyelamatkan nyawa-nyawa. 

Tak lupa, teriring doa untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan. Serta semua negara yang perekonomiannya merosot ke level yang belum pernah dibayangkan, semoga lekas dipulihkan.

Tetap saja saya ingin bertanya "bolehkah saya berterima kasih pada Corona?"

Mataram, 18 Maret 2020.
10.44 Wita

Rabu, 11 Maret 2020

"Selamat Pagi" dari Mareje

Alarm berdering berkali-kali. Inginku menarik selimut dan tidur lagi. Kalau saja hari ini saya tidak ada janji. Yapss, pagi ini saya dan suami berjanji dengan kawan-kawan mengujungi sebuah bukit di desa Mareje. Katanya sih tempatnya lumayan kece.

Pemandangan yang ditawarkan Mareje adalah area sawah dengan konsep terasering. Tak butuh waktu lama, usai subuhan kami langsung tancap gas. Deru suara X-ride memecah keheningan di jalan komplek perumahan. Masih terlihat embun yang hinggap di dedaunan saat kami lewat.

Jarak Mareje dari Mataram sekitar 50 menit.
Perjalan yang harus ditempuh membuat rem dan gas lumayan mederit. Setelah melewati jalan raya lembar, medan yang harus dilalui memang agak berkelok-kelok. Ada turunan, juga tanjakan tajam yang meharuskan gas motor tetap poll. 

Bisa dibilang, Mareje ini desa di dataran tinggi. Karena jarak yang lumayan jauh dari Mataram membuat saya berfikir desa ini termasuk wilayah Sekotong, eh ternyata masih termasuk Kecamatan Lembar. Sebagian besar wilayah ini adalah area persawahan dan perkebunan. Kami menemukan rumah-rumah warga, namun jarak atar rumah cukup renggang. Ada juga sekolah dan rumah ibadah. Jangan berharap menemukan toko-toko besar ya. 

"Selamat datang di desa Mareje" tulisan yang membuat saya mulai sumringah. Sejak tadi nafas saya sudah terengah-engah. Agak tegang karena sebelumnya saya pernah punya pengalaman yang tidak mengenakkan.  Pernah suatu hari, kami melewati medan seperti ini dengan motor yang kami kendarai saat ini. Kondisi motor yg kurang fit saat itu membuat saya harus turun dan berjalan kaki setiap melewati tanjakan.

Memasuki kawasan desa Mareje, kami tidak langsung disuguhkan pemandangan yang membuat kami harus berdecak. Seperti alur cerita dalam karya fiksi, kami disuguhkan intro dulu, baru memasuki puncak.

Sampai di lokasi, pastinya kami bahagia sekali. Ini sih bukan lumayan kece lagi,
pemandanganya lebih cantik dari rengganis. Buat saya sinar mentarinya juga lebih manis dari manggis. Kalo perginya bareng pasangan, sunrise di sini terasa jauh lebih romantis.
Barisan sawahnya sangat hijau. Padi dan jagung saja bisa terlihat memukau.
Semuanya tersusun begitu rapi. Yang tak kalah penting, udara di Mareje ini segar sekali. Tapi ada satu hal yang kami lewati, momen munculnya mentari pagi tadi.

Tapi, tak masalah lah. Disuguhkan keindahan semacam ini saja sudah bikin enak suasana hati. Ketenangan ini jadi bekal untuk memulai hari. I feel so bless, that I can release this stress.

Perjalanan di pagi hari, terkadang menyuguhkan kisah yang asik untuk dibagi.
Anda bisa menikmati cerita ini dengan segelas kopi, boleh juga ditemani rokok dan sesobek roti.

Oia, ada hal menarik selain pemandangan alam dalam perjalan pagi ini. Yang tak luput dari pengamatan saya saat di perjalanan tadi adalah perjuangan ibu-ibu yang duduk di bak mobil sembari menahan kantuk.  Mobil pick up  yang mereka tumpangi berisi sayur-mayur itu terus melaju, dari kejauhan saya melihat mereka sesekali terangguk-angguk.

Ada juga bocah-bocah yang berjejer di pinggir jalan, dengan seragam lengkap anak  sekolahan. Mereka berjalan sebari bercengkrama dengan kawan. Sepertinya, jarak rumah dan sekolah yang lumayan renggang, tak membuat mereka patah arang.

Starter pack untuk hunting foto ke Mareje:
1. Outfit dengan warna cerah
2. Fotografer handal dan kamera yang memadai.
3. Daya dan kuota HP yang full, just in case kalau butuh google maps. #sinyal Telk*omsel lumayan kenceng dibandingkan provider lain.
4. Kendaran yang fit dan bensi yang full.
5. Tumbler berisi kopi atau air mineral.
6. Sarapan setelah menikmati sunrise.

Selasa, 10 Maret 2020

"Kapan Punya Anak?" Pertanyaan yang tak berkesudahan


Ada banyak hal yang saya refleksikan dari pertanyaan “kapan punya anak?”. Pertama, jika suatu hari saya punya anak, lalu anak saya bertanya “Apa alasan ibu memutuskan untuk melahirkan saya?”. Lantas kira-kira apa jawaban yang proper atas pertanyaan tersebut?. Bagi saya, semua hal yang saya lakukan harus memiliki alasan yang jelas. Setiap pilihan yang diambil harus melalui pertimbangan yang matang.

Dulu sekali, ketika saya naik ke kelas 2 MTS. Saya selalu bertanya “Siapa Saya?”. Saya sadar, saya bukan sekedar tangan yang bergerak, mata yang melihat, atau tubuh yang melenggok kesana kemari. Saya adalah saya, tapi siapa saya? Kenapa saya ada di sini?.

Ketika masuk MA/SMA, saya mencoba mengenali diri dengan menelusuri apa yang saya sukai. Mungkin saya dapat menjawab pertanyaan “siapa saya” dengan mengenali jati diri, keinginan, tujuan, dan hal yang berkaitan dengan keberadaan saya. Saya jautuh pada kesimpulan bahwa saya suka menulis, terutama menulis diary. Saya juga suka membaca novel. Temanya tentu tidak jauh dari keberADAan saya. Saat itu saya juga membaca buku psikologi, dan personality. Setelah menulusuri kesemuanya, saya belum juga puas.

Awal masuk kuliah, saya mulai membaca beberapa sumber bacaan terkait agama dan kepercayaan. Tak hanya tentang agama yang tertera di KTP saya, tapi juga selain itu. Saya membaca sedikit tentang Hindu, berdiskusi dengan teman Katolik, atau membaca artikel mereka yang mengaku diri ateis. Saya menemukan diri saya mempertanyakan kembali kepercayaan yang saya anut saat itu. “Kenapa saya tidak boleh menyembah tuhan ini dengan semua cara?” jika pencipta yang dimaksud semua agama itu adalah merujuk pada dzat yang sama. Pencipta itu diberi nama yang berbeda-beda oleh manusia, sehingga pada praktiknya, tata cara penyembahanpun berbeda-beda.

Kembali ke keyakinan saya, kami punya tata cara tersendiri untuk berdoa, ada hukum-hukum yang mengatur cara kami hidup, berprilaku, dan lain sebagainya. Cara berdoa inilah yang membedakan agama yang satu dan lainnya. Sehingga cara ibadah agama yang satu tidak dapat diterima oleh agama lainnya. 

Di tengah kebimbangan saya berfikir, "Life is the matter of choices. Once you decide to take it, you have to be responsible of the choice that you have chosen". Berarti, ketika saya memilih untuk beragama islam, saya harus melakukan setiap ajarannya dengan taat, apapun konsekuensinya.

Dalam sebuah sumber, orang yang mengaku atheis menganggap setiap agama memiliki kemungkinan yang sama untuk salah. Mungkin begitu. Karena kita belum mengetahui apa yang akan terjadi di alam berikutanya, setelah kehidupan dunia. Entah agama mana yang akan benar, itu tergantung apa yang kita yakini. Setiap agama memiliki klaim masing-masing perihal ini. Melalui kitab masing-masing, setiap agama punya cerita akan seperti apa kehidupan setelah kematian. Di sini, keimanan terhadap kitab suci itu dipertaruhkan. Lalu saya sampai pada kesimpulan "bagaimana mungkin saya yang kecil ini mampu memikirkan hal yang tak definisikan seperti itu? Apa logika saya mampu mejangkau Dia yang Maha itu?".

Dalam keputuasaan mencari jati diri yang kemudian merebet pada keyakinan itu, saya memutuskan untuk tetap memilih islam, mempelajarinya kembali. “I'll take all the risk of this choice” tekad saya. Bertanggungjawab atas pilihan adalah hal yang saya pelajari dari pengalaman hidup yang singkat ini.

Lalu apa kaitanya dengan memiliki anak?apakah alasan saya memiliki anak? Itu masih saya pertimbangkan. Saya harus selesai dengan pertanyaan ini dulu. Dalam pikiran saya, saya tidak ingin menjadi egois, memaksa anak untuk hidup di dunia yang bagi saya cukup "Cruel". Bergulat dengan kehidupan yang entah mereka akan sukuri atau tidak.  Meskipun saya menyadari, penciptaan manusia dalam agama saya tujuannya adalah untuk menyembah sang Pencipta, serta menjadi Khalifah di muka bumi. 

Bagi saya, alasan memiliki anak tidak sesimple “ agar ada yang merawat di masa tua, agar ada yang mengingat kita dalam doa ketika sudah tiada, agar kita merasa memiliki kebahagiaan yang lengkap, agar kita tidak dianggap mandul, agar kita diterima di kehidupan sosial”. Alasan-alasan ini saya fikir egois, karena masih berorientasi pada diri sendiri. Kata orang-orang cinta pada anak itu “uncoditional”, tanpa syarat. Lah, sebelum ada saja sudah banyak syarat begitu.

Belum lagi trend orangtua yang memaksa anak-anaknya untuk les dari umur 4 tahu, dari les baca, tulis, hitung, nari, musik, dengan harapan mereka akan menjadi anak yang cerdas tanpa pernah bertanya keinginan si Anak. Sejak kecil anak-anak dipaksanakn untuk begini dan begitu, tanpa diberi kebebasan untuk memilih. Sudah dilahirkan atas ego orang tua, setelah lahir malah dipaksakan untuk memilih jalan yang sudah ditetapkan oleh orang tua. Duhh!! well ya, memang ini diharapkan untuk kebaikan mereka, tapi apa harus seperti itu?

Ditambah dengan kecemasan, jika saya melahirkan anak di tahun-tahun ini, itu berarti saya melepaskan si anak untuk bertarung di dalam ring, yang memaksa manusia tidak hanya bertarung sesama manusia, tapi kecerdasan buatan yang kecerdasannya berkali-kali lipat dari manusia. So scary!!!!

Lagi pula, bukankah prestasi hari ini diukur dengan cara yg beda?. Mungkin zaman dahulu, melahirkan anak banyak dan selamat sampai dewasa merupakan sebuah prestasi. Mengingat kehidupan kala itu masih terbilang sulit, dunia medis dan teknologi tak semaju hari ini. Mungkin angka kematian bayi saat itu cukup tinggi juga. Jadi pertanyaan warisan "kapan punya anak?" Bisa saja tak lagi relevan. Karena hal itu bukan lagi dipandang sebagai prestasi (bagi sebagian orang).

Hari ini, prestasi bisa saja didefinisikan sebagai karir yang mapan, kepemilikan atas properti, lahan luas, rumah mentereng, dan hal-hal lainnya. Atau prestasi dalam benak saya yang berarti bermanfaat bagi orang lain. So, bisakah kita berhenti mengurusi kehidupan orang lain dengan bertanya "kapan punya anak?".


 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design