Minggu, 12 April 2020

Gugatan Terhadap Konsep Durhaka (Part 2)


Beberapa waktu lalau, saya berdiskusi dengan seorang kawan, ini perihal tulisan saya yang mempertanyakan konsep durhaka. Kenapa konsep ini lebih sering disematkan pada anak, tidak bisakah orangtua juga disematkan konsep durhaka?. Bukankah akhir-akhir ini kita juga menemukan orantua toxic, melakukan kekerasan baik fisik maupun seksual. Kita juga tau, ada banyak orangtua yang tak mampu bertanggungjawab untuk memenuhi hak-hak anak.

Beberapa hari setelah diskusi itu, saya menemukan sebuh artikel yang mengulas tentang sebuah film yang berjudul “Capernaum”. Film ini tentang seorang anak bernama Zain El Hajj, yang menggugat orantuanya. Alasannya, si anak tak terima dilahirkan ke dunia. Zain dilahirkan dari keluarga miskin. Sejak kecil ia tinggal di sebuah rumah susun sempit bersama orangtuanya dan delapan saudaranya. Kesulitan ekonomi yang membuatnya harus meninggalkan bangku sekolah dan harus bekerja di usia muda. Konflik di film ini menjak ketika adik perempuannya hendak dinikahkan di usai belia untuk mengurangi beban ekonomi keluarga. Zain menentang pernikahan ini.
https://www.flicks.com.au/movie/capernaum/poster/
Saya hendak menonton film itu, tapi belum menemukan situs untuk mengunduhnya. Tapi ada beberapa hal yang saya fikirkan setelah membaca review film tersebut. Kenapa birth control di negara ini hanya sebatas himbauan, bukan kewajiban?. Bukankah jika anak tak mampu dibesarkan oleh orangtuanya, selanjutnya ia berada dibawah tanggungjawab negara? sebelum negara memberi hak asuh pada keluarga terdekat. Dengan demikian, beban negara akan bertambah berat, jika anak-anak dari kalangan seperti itu berambah banyak jumlahnya.

Bisakah kemudian negara memberi syarat bagi calon orangtua yang ingin memiliki anak?. Misalnya, calon orangtua hendaknya memiliki deposito dalam jumlah tertentu. Jumlah deposito ini disesuaikan dengan biaya hidup, kesehatan, juga pendidikan si anak kedepannya. Dalam film tersebut, ditampilkan pula bahwa satu keluarga tersebut tinggal kontrakan kecil yang sesak di rumah susun. In berarti tempat tingal mereka jauh dari kata layak. Sehingga, dapat juga diajukan syarat tambahan, tak hanya syarat deposito yang harus dimiliki si calon orangtua, tapi mereka juga harus memiliki tempat tinggal yang layak. Jika si calon orangtua tidak mampum menujukkan kepemilikan deposito serta tempat tinggal yang layak, maka mereka belum bisa mendapatkan izin memiliki keturunan. Saya tidak tau, hak siapa yang akan dilanggar karena ini, tapi tidakkah ini penting untuk mejaga hak calon anak agar terpenuhi kedepannya?.

Mungkin anda pernah membaca sebuah penelitian tentang pendapatan anak-anak dari kalangan miskin lebih rendah 87% dari mereka yang berasal dari kalangan tidak miskin. Penelitian ini dipublikasikan di makalah internasional Asian Development Bank. Kemiskinan yang terjadi terjadi pada anak-anak berkaitan erat dengan kemiskinan keluarganya, ini menujukkan bahwa keluar dari kemiskinan tidak semudah yang orang fikirkan. Perlu dijabarkan lebih lanjut mengapa anak-anak ini memiliki penghasilan lebih kecil, apakah karena tingkat pendidikan yang rendah atau faktor lainnya. Jika karena tingkat pendidikan, bukankah aturan kepemiliki deposito calon orangtua yang saya ajukan di atas bisa menjadi solusi? Setidaknya dengan begitu anak-anak dapat memulai “start” dari garis yang sama; akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan lainnya.

Saya mencari adakah negara yang menerapkan aturan demikian. Yang mengharuskan calon orangtua memenuhi kriteria berupa deposito dalam jumlah yang ditentukan, serta tempat tinggal yang layak. Sehingga hak-hak anak dapat terpenuhi dengan baik. Mereka bisa bermain dengan riang, belajar dengan nyaman, tanpa ikut memilkul beban orangtua di usia kanak-kanak. 

Selain untuk mengurangi gap, saya fikir sistem deposito ini memberi ruang untuk calon orangtua, untuk benar-benar memikirkan keputusannya memiliki anak, benar-benar mengusahakannya. Ketika memiliki anak dianggap sebagai sebuah keistimewaan, karena diperoleh dari rentetan usaha yang begitu keras, maka ia akan dijaga dengan sebaik-baiknya. Bukankah kita cenderung menghargai sesuatu yang kita miliki dengan usaha yang keras, dibandingkan sesuatu yang kita miliki dengan cuma-cuma?. Tengoklah yang terjadi pada keluarga Zain di atas, orangtuanya beranak pinak semaunya, bukan “semampunya”.

Seharusnya nilai-nilai yang lebih dulu kita kenal dengan keagungannya bisa mengatasi ini, nyatanya nilai-nilai itu tidak sepenuhnya mampu mengikat. Tak semua orang tunduk karena takut dosa, dan tak semua orang pula tunduk karena menginginkan pahala. Reward and punishment di bumi nyatanya diperlukan untuk memperkuat nilai-nilai yang diyaakini tadi.

Mungkin setelah ini saya akan dihujat karena membiarkan orang miskin mati kesepian kalaulah mereka tak mampu mengumpulkan deposito. Saya juga akan dihujat karena berfikir bahwa individulah yang mampu mengatasi permasalahan runyam ini, alih-alih solusi kolektif seperti pendidikan gratis untuk semua kalangan, kesehatan gratis untuk mengurangi gap yang saya bicarakn tadi. Mungkin juga saya dianggap tak peduli dengan buruh yang kerja berjam-jam namun tetap miskin karena sistem kapitalis yang menghisap orang-orang kecil ini. Yang paling parah, mungkin saya akan dicap tidak percaya kekuatan tuhan, karena kita tau semua anak diyakini membawa rizkinya masing-masing.

Namun, ini semua karena saya berfikir tentang kewajiban orantua atas anak sebelum menuntut hak-hak untuk di hormati dan disayangi. Agar anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang mirip dengan lingkungan Maryam putri Imran, bukan lagi seperti Zain dan saudara-saudranya. Bukankah kita akan menuai apa yang kita semai?







Jumat, 03 April 2020

Gugatan Terhadap Konsep Durhaka (Part 1)

Ketika kecil dulu, setiap kali saya diminta melakukan sesuatu oleh ibu, saya selalu diingatkan "kita tidak boleh bilang gak, apalagi melawan pada orng tua. Bilang "ah" saja sudah dosa". Itu semacam peringatan yang mengerikan, saya diancam dosa durhaka pada orangtua jika tidak menjadi anak baik dan penurut. 

Saya ingat, suatu hari saya menolak untuk mengambil bak yang diminta ibu saya. Saat itu ibu saya hendak memandikan adik pertama saya. Karenanya, saya dikejar ibu, hendak dipukuli. Saya berhasil kabur dan mengunci diri di rumah sepupu. Ibu menunggu di luar, meminta saya membuka pintu. Saya menolak, karena tau akan dipukuli. Tapi, ia berjanji tidak akan memukul saya. Tapi apa yg terjadii? Ketika saya qmembuka pintu, tetap saja saya dipukuli. Saya ingat, saya menangis tersedu-sedu. Berdiri didepan meja sambil mengamati tumpukan buku. Saya berdiri membelakangi ibu yang sedang mengoleskan minyak kayu putih untuk adik. Melihat saya menangis, iapun ikut menangis. Mungkin menyesali perbuatannya. Sedikit tidak sekarang saya memahami, mungkin saat itu ia begitu lelah. Lalu emosinya buncah, ditambah dengan kelakuan saya yang tidak penurut.

Tapi bukan berarti saya tidak punya memori baik bersama ibu. Memori baiknya teramat banyak, hadiah tiap kali juara kelas, diajak belanja baru lebaran ke pasar, dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan pengorbanannya. Ada juga hal-hal sederhana yang kami lewati, dan itu teramat membahagiakan. Suatu sore, ibu mengajak saya berburu belalang di lapangan dekat rumah kami. Dengan alat sederhana yang terbuat dari sandal bekas, lalu dibuatkan gagang kayu. Kami bisa berburu belalang sepanjang sore, lalu pulang untuk mandi menjelang magrib. Saya ingat, saat itu saya menemukan sebuh cincin cantik bermata biru. 

Ada pula kisah apa ya? sedih mungkin, saya yakin semua orang memiliki kisah serupa. Sisi struggling dalam hidup. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, pagi-pagi sekali ibu menyiapkan sarapan untuk saya dan bapak. Ibu memakaikan saya seragam sekolah. Saat itu, perekonomian keluarga belum sebaik sekarang. Ibu tak memiliki uang saat itu, lalu ia memberikan saya sebutir telur ayam. Katanya, telur ayam itu bisa ditukar di warung dekat sekolah. Saya bisa memilih, menukar telurnya dengan uang atau jajan. Saya tau betapa kedua orangtua saya begitu menyayangi saya. Mereka selalu mengusahakan terbaik untuk saya.

Meskipun begitu, hingga beranjak dewasa saya dan ibu sering beradu argumen.  Pernah, saat ibu mengandung adik kedua saya, saya berdebat dengan ibu. Saya ingat, saat itu sedang duduk di bangku SMP. Karena hal sederhana, ibu tidak suka didebat kalau sedang mengingatkan saya. Saya yang saat itu masih senang adu argumen malah menjawab. Lalu ibu bilang "inikah yang diajarkan pondokmu? Melawan pada orangtua?". Lalu saya menulis sebuah surat, bahwa "Hak bicara dimiliki oleh semua orang, termasuk saya. Hak berbicara dijamin oleh negara. Lantas mengapa saya tidak bicara untuk membela diri? ". Kurang lebih seperti itulah isi surat yang saya tulis. 

Bertahun-tahun setelah itu, barulah saya mengerti. Mungkin dalam benak ibu saya, menjawab "ah" saja adalah dosa, apalagi mendebat dengan argumen yang panjang. Ketika berusia 20an, saya lebih suka mengiyakan apa saja yang ibu katakan. Saya lebih suka berkompromi, dibandingkan terlibat dalam perdebatan panjang. Ketika masih SMA, ibu juga sering menjadikan saya moderator. Untuk menengahi ia dan ayah. Sejak saat itu relasi kami tidak lagi sejomplang ketika saya kecil. Kami sesekali menjadi teman diskusi. Ibu menerima saran-saran yang saya berikan. "Mungkin seperti inilah ibu dibesarkan", ucapku dalam hati.

Tapi, ada banyak anak-anak yang tak seberuntung saya. Beberapa pertanyaan muncul ketika saya dewasa, lalu menikah. Salah satunya adalah seperti apa kosep durhaka? Benarkan berkata "ah" pada orangtua sudah termasuk dosa? Bagaimana dengan orangtua? Tidak bisakah kita menyematkan konsep duraka pada orangtua yang tidak mampu bertanggungjawab atas anaknya?. 

Saya mengenal beberapa teman yang tidak bisa dibesarkan orangtuanya, lalu ia diserahkan pada neneknya. Saya menemukan beberapa murid saya di PAUD juga mengalami hal serupa. Orangtuanya bercerai, lalu si anak diasuh neneknya. Atau kedua orangtuanya pergi menjadi butuh migran ke luar negeri, lalu si anak dititipkan pada saudara ibu/ayahnya. Mereka kehilangan sosok orangtua.  

Saya ingat, salah satu murid ibu saya di PAUD yang tinggal bersama neneknya. Neneknya seorang tukang urut handal, ia juga petani dan buruh tani. Setiap hari ia harus memenuhi kebutuhan cucunya, uang jajan serta makanan pokok. Ada hal yang saya syukuri, nenek ini tinggal di desa. Ia bisa mendapatkan lauk-pauk dari sawah sekitar. Tetangganya yang juga kerabatnya tentu takkan membiarkan ia dan cucunya kelaparan. Di PAUD, ibu saya hanya menarik iuran bulanan sebanyak 5.000 rupiah. Awalnya senua gratis, wali murid hanya perlu membayar seragam sekolah, karena yayasan tak memiliki dana untuk ini. Kata ibu, penarikan iuran ini terpaksan karena harus memikirkan guru-guru yang mengajar di sana, karena insentif sekali enam bulan tentu takkan pernah cukup bagi guru di sana. Biaya pendidikan dan hidup di desa tak begitu mencekik seperti di kota. Meskipun begitu, perputaran uang di desa juga tak begitu besar.

Masalah ini cukup pelik, selain kehilangan perhatian dari sosok orangtua, mereka juga harus hidup dalam kondisi ekonomi yg cukup memprihatinkan. Bagaimana bisa sosok nenek yang sudah renta mampu memenuhi segala kebutuhan si anak? karena tak semua anak yang saya kenal tadi dibiayai hidupnya oleh orangtuanya. Orangtua mereka lepas tangan. Di lingkungan saya, inilah yang mejadi awal dari maraknya pernikahan dini. Anak-anak yang diserahkan ke pada neneknya, lalu si nenek tidak dapat membiayai sekolah si anak dan ia putus sekolah di usia belasan tahun. Lalu, si anak menikah dengan harapan dapat memutus kemalangannya. Kemudian ini menjadi masalah baru,  karena pernikahan dini erat kaitannya dengan angka perceraian, juga kemiskinan. 

Tapi, ada juga anak-anak yang berhasil survive meski tak dibiayai ayah-ibunya, serta tak mendapatkan kasih sayang dari keduanya. Anak yang saya kenal, ia berhasil menamatkan pendidikan sampai strata satu. Ia mengakui, tetap ada luka dan lubang besar dalam dirinya yang belum jua sembuh. 

Di belahan dunia lain, ada anak-anak yang dilahirkan di bawah garis kemiskinan. Orangtua bisa memiliki empat sampai belasan anak. Lalu, saat usia yang sangat belia, anak-anak perempuan dinikahkan agar segera mengurangi beban ekonomi keluarga. Eh bukan belia, anak-anak tepatnya. Child marriage istilahnya. Child marriage karena kemiskinan telah menjadi rahasia umum. Di Etiopia misalnya, orangtua mengakui bahwa mereka menikahkan anak-anak mereka karena alasan ekonomi. Dan ini terjadi di banyak negara.

Bisakah anak-anak ini menuntut kedua orangtuanya? Menuntut mereka ke jalur hukum karena tak becus merawat mereka. Menuntut mereka yang berani-beraninya melahirkan tanpa benar benar memiliki kesiapan. Jika tak mampu membesarkan, lantas kenapa memutuskan untuk melahirkan. Toh, anak-anak ini tidak pernah meminta untuk ada dan dilepas di rimba yang bernama dunia. Bolehkan konsep durhaka juga disematkan pada orang-orang seperti mereka? Yang melepaskan tanggungjawab untuk memberikan kasih sayang, juga nafkah yang layak?

Narasi Menghormati Orangtua

Setiap hari, ceramah-ceramah yang saya dengar berisi bagaimana cara memperlakukan orantua. Memohon ridha mereka agar jalan hidup si anak dipermudah. Memperlakukan mereka dengan sehormat-hormatnya. Jika tidak, bisa si anak bisa diancam kualat di dunia dan akhirat. Setoxic apapun mereka, harus tetap dihormati. Katanya, lelahnya melahirkan tak dapat digantikan dengan apapun di dunia ini. Lantas, bagaimana bisa si anak memperlakukan dengan baik, jika ia tidak didik dengan perlakuan baik juga diberikan kasih sayang yang setulus-tulusnya?.

Selain ajaran agama, budaya yang penuh dengan hirarki juga membuat konsep anak durhaka ini mejadi kental. Kita tentu ingat kisah Malin si anak durhaka.  Tapi, saya belum menemukan legenda, yang mengisahkan kutukan anak pada orangtua yang tak bertanggungjawab.

Narasi Hak-Hak Anak


Saya befikir, kenapa penceramah kondang lebih sering membahas tentang kewajiban anak terhadap orangtuanya, seperti menghormati, menyayangi dan lain sebagainya. Dibandingkan mengingatkan tentang hak-hak anak atas orangtuanya.

Saya menyukai satu surah dalam kitab suci saya yang berbicara tentang sebuah keluarga. Surah ini bercerita tentang keluarga Imran, ayahnya Maryam; kakeknya Isa. Saya menyukai bagaimana Maryam bin Imran dibesarkan. Meskipun ayahnya meninggal ketika ia belum lahir, dan ia mendaptkan pendidikan dari pamannya Zakaria. Meski tanpa sosok ayah, maryam bisa dibesakan dengan sangat baik. Sehari-hari Maryam hanya berdiam di biliknya untuk belajar dan beribadah, segala kebutuhannya dipenuhi sang paman, makananya disediakan. Tumbuhlah ia menjadi wanita yang shalihah karena diberika pendidikan dan fasilitas terbaik. Mungkin hidupnya penuh keistimewaan karena bapaknya, Imran, adalah orang yang dihormati di kalangannya. Dalam kitab suci saya, kisah Imran dan Keluarganya diberikan surah tersendiri. Imran dan keluarganya diistimewakan. Ibunya pun begitu shalih, sejak Maryam dalam kandungan ia telah menazarkan agar anaknya menjadi putri yang salih, juga mengusahakannya. Tidakkah kita harus belajar lebih banyak dari kisah keluarga ini? Hak-hak anak dipenuhi dengan begitu baik, diberikan kasih sayang, fasilitas, serta pendidikan yang baik, agar ia tumbuh menjadi jiwa-jiwa yang baik pula.


 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design