Minggu, 07 Juli 2019

Pasar malam yang ramah jam malam

Kamis sore lalu, grup WhatsApp(WA) Blogger Lombok tiba-tiba ramai. Bunda muslifa, sebagai kepala suku hendak mengajak beberapa Blogger Lombok untuk ikut di acara Lounching Pasar Malam di Aruna Seggigi. I'm so exited to hear that. Tak butuh waktu lama, I put my name on the list. Kupikir ini kesempatan bagus untuk bertemu kawan-kawan blogger yang hanya saya temui lewat grup WA.

Usai solat magrib, bersama dua orang blogger yang sudah lebih dulu saya kenal, Asmak dan Fadil, kami langsung meluncur ke lokasi acara. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja untuk sampai di hotel Aruna Senggigi. Sampai di area kolam, kami disambut dengan hangatnya suasana pasar malam. Para pekerja yang tak henti-hentinya menebar senyum sembari melayani pesanan para tamu, anak-anak yang tiduran di karpet sambil bermain game dan bercengkrama dengan keluarganya, alunan live music yang menyegarkan di telinga dan hati, serta gerombolan muda-mudi yang asik mengobrol diikui gelak tawa.
Terlampau asik mengamati suasa pasar malam ini membuat saya lupa, di depan saya sudah ada bang Ajie dan bang Didit yang sudah lebih dulu tiba di lokasi. Bergantian saya menjabat tangan keduanya sembari memperkenalkan diri. Bang Didit tiba-tiba nyeletuk, " dalam bayangan saya, hikmah itu emak-emak yang badannya lebar". Semua tertawa menyadari bandan saya tak selebar yang dibayangkan bang Didit.
.

Ka Asmak langsung menggeret saya ke stand Nasi Puyung. Tapi, saya lebih suka melipir ke stand popcorn🤭. Awalnya berharap dapat popcorn asin, ternyata hanya ada rasa karamel yang semanis hidup saya. Tak lupa, kami memesan jus jeruk untuk minuman bersama. Kami memilih untuk duduk di karpet dibandingkan di kursi, agar lebih leluasa tiduran dan duduk bersila. Saya tiduran sambil menonton babang penyanyi memainkan gitar akustiknya. Band Ajie datang membawa Wedang, dan Bang Didit membawa Nasi Liwet. Ada juga Satai Usus dan Telur Puyuh. Satu persatu kami icip makanan yang sudah terkumpul di tengah-tengah kami. Menu yang belum sempat saya coba adalah Bakso.

Setelah makan, masing-masing dari kami memilih menu favorit. Minuman favorit kami jatuh pada Wedang , si hangat yang sangat cocok untuk suhu Lombok di bulan Juli. Dinginnya cuaca di Lombok yang terkadang bisa mencapai 20 derajat Celcius membuat kami butuh minuman jenis ini.  Kehangatan wedang menambah hangatnya meet up kami malam itu. Sedangkan untuk makanan, pilihan kami beda-beda. Ka asmak memilih Nasi Balap, Bang didit dengan Nasi Liwet, dan saya yang bunda Muslifa sebut sebagai anak bioskop banget memilih Popcorn.

Harga makan dan minuman di sini bervariasi, dari satu dolar hingga tiga dolar.
Terbilang murah untuk tempat yang berkonsep taman dengan makanan street food, tapi jauh dari riuhnya kendaraan dan polusi. Untuk mendapatkan dolar ini, anda bisa menukarkannya dengan uang rupiah di stand khusus penukaran. Satu dolar seharga sepuluh ribu saja. Dolar ini khusus untuk berbelanja di area pasar malam. Jika dolar anda tak habis anda belanjakan malam itu, anda bisa menukarnya kembali dengan uang asli, atau kembali berbelanja pada jawal pasar malam berikutnya.

Pasar Malam Aruna ini hanya ada empat kali dalam semingggu, yakni hari Senin, Rabu, Jum'at, dan Minggu. Dibuka dari jam 19.00-21.00. Tentu, jadwal pasar malam ini ramah bagi muda-mudi yang ingin hang out tapi masih terjerat jam malam. "You have to go home before 10 o'clock!" Mom says.

Sabtu, 18 Mei 2019

Usaha terasi dan pemberdayaan perempuan

Terasi atau dalam bahasa Sasak disebut sebagai acan merupakan salah satu jenis bumbu yang terbuat dari ikan atau udang yang difermentasi. Warna dari bumbu yang satu ini bervariasi mulai dari hitam, coklat dan merah gelap. Terasi ini memiliki rasa dan aroma yang sangat tajam. Di Indonesia, bumbu ini digunakan untuk membuat sambal terasi. Selain itu, terasi juga digunakan sebagai penyedap dalam berbagai makanan tradisional Indonesia. Tak hanya ditemukan di Indonesia, bumbu ini juga dapat ditemukan di negara Asia Tenggara lainnya dan Tiongkok selatan

Untuk membuat terasi terbaik, pekerja di desa Jerowaru membutuhkan bahan baku terbaik. Mereka menggunakan udang rebon pilihan. Selain itu, pembuatannya harus melalui proses yg higienis. Pembuat terasi dari "Jero Acan", Desa Jerowaru, Lombok Timur, memiliki standar dalam proses pembuatan terasi, seperti menggunakan sarung tangan dan masker.

Hal yang membuat terasi JeroAcan berbeda dari terasi lainnya terletak pada proses pengeringan. Terasi ini dijemur di rumah penjemuran yang tertutup, hal ini membuat produk JeroAcan tidak terkontaminasi oleh benda-benda asing yg tersebar melalui udara terbuka. Tentu saja, ini membuat terasi JeroAcan gurih, bersih, dan higienis.


Salah satu perempuan belia yang kami temui merupakan salah satu anak pekerja di JeroAcan. Dia kuliah di salah satu universitas di Mataram. Dia mengatakan usaha terasi ini membuatnya mampu belajar sampai perguruan tinggi. Dia membayar biaya kuliahnya dengan uang yg dihasilkan dari usaha ini. Ini membuktikan bahwa usaha ini tak hanya memberdayakan pekerjanya, tapi juga anak-anak mereka.


Rabu, 03 April 2019

Dapat untung dari lestarinya alam

Enam orang wanita tengah sibuk dengan pisau kecilnya. Benda tajam itu dengan cekatan digunakan untuk menyisir setiap ruas tubuh kepiting rajungan, kepiting dengan ukuran kecil. Setiap harinya, sekitar sepuluh orang perempuan bekerja di PT ini untuk memilah daging kepiting rajungan. Dalam dua hari, mereka bisa menguliti sekiar 100 Kg kepiting rajungan untuk diambil dangingnya.

Salah satu pekerja di PT tersebut mengungkapkan dari 100 Kg kepiting rajungan, hanya sekitar 23 Kg yang berisi  daging kepiting. “Dari 1 kwintal, paling cuma 23 Kg isinya. Tergantung bagus atau gaknya rajungan itu” Ujar perempuan yang sudah bekerja untuk PT ini sejak tahun 2000. Saat ditanya terkait penggunaan cangkang kepiting, mereka serempak mengatakan “eee, biasanya dibuang, kalo ada yang pesen baru kita bungkus, bisa jadi makanan ayam”.

Di  PT inilah Harniati, ketua kelompok usaha perempuan dusun Keranji, mengambil cangkang kepiting untuk bahan baku kerupuk. Harniati mengatakan, Ia bisa mendapatkan satu karung cangkang kepiting hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp. 25.000. “ kan dulunya dibuang jadi sampah, ee sekarang kita bisa olah. Sekarung itu kita bayar 25 ribu” terangnya.
Upaya kelompok usaha perempuan ini mampu merubah limbah cangkang kepiting menjadi komoditas yang memiliki nilai jual. Ini tak hanya membawa keuntungan bagi kelompok usahanya, akan tetapi juga bagi penyedia bahan baku, PT Sinar Selatan.
Selain itu, seperti yang diungkapkan para pekerja di PT tersebut, dari 100 Kg rajungan hanya 23 Kg daging kepiting yang bisa diambil. Sehingga, bisa diperkirakan kurang lebih 77 Kg yang berupa kulit kepiting menjadi limbah. Pemanfaatan cangkang kepiting menjadi olahan kerupuk mampu mengurangi limbah cangkang kepiting, yang tentunya baik untuk lingkungan. 

Senin, 04 Maret 2019

Berkah dari inovasi kerupuk cangkang kepiting

Aroma bawang putih tercium dari teras ibu Harniati. Ia dan beberapa perempuan lainnya tengah berjibaku dengan bahan-bahan untuk membuat kerupuk. Ada yang tengah sibuk membuat adonan sembari menunggu adonan yang sedang dikukus mateng. Ada pula yang sibuk memotong adonan yang telah matang. Sedangkan kerupuk setengah kering masih terjemur dibawah terik matahari.

Seperti inilah aktivitas sehari-hari kelompok usaha perempuan di dusun Keranji, desa Paremas. Kelompok usaha ini terdiri dari enam orang, yang diketuai oleh ibu Harniati. Usaha yang menjadikan limbah cangkang kepiting sebagai bahan dasar ini baru berlangsung selama empat bulan, namun telah terasa dampaknya bagi perempuan-perempuan yang tergabung dalam kelompok usaha ini.
“ Senag sekali rasa ada usaha seperti ini” ujar Siti Faizah. Ibu dua anak juga menambahkan, dengan adanya usaha seperti kerupuk cangka kepiting ini perempuan-perempuan di dusun tersebut memiliki kegiatan tambahan selain mengurus rumah. Senada dengan siti, Raihan juga merasa terbantu secara financial dengan adanya kegiatan seperti ini “adalah kita dapat tambahan untuk belanja” ujarnya.

Beberapa anggota kelompk usaha ini memang menggantungkan hidup dari kiriman suami yang tengah bekerja TKI. Rumini, ibu dua anak yang masih memiliki balita ini sedang ditinggal suami ke Malaysia. Rumini mengaku usaha kerupuk cangkang kepting ini dapat membantunya memenuhi kebutuhannya.
Menurut Harniatin, beberapa perempuan di dusun tersebut juga mulai tertarik untuk belanjar cara pembuatan kerupuk cangkang kepiting ini “ sumiati, angota yang saya tunjuk jadi sekertaris kemarin berniat untuk membuat kelompok baru, soalnya banyak yang minta diajarin cara buat kerupuk ini”.

Ketua kelompok usaha ini juga mengungkapkan, selain gaji harian yang ia bagi ke anggota-anggotanya, keuntungan usaha yang ia simpan juga biasa ia pinjamkan ketika ada yang membutuhkan, “ kadangan ee saya pinjamkan ke anggota, tapi ada juga selain anggota yang minjem” tandasnya.


Selasa, 25 Desember 2018

What is morality?

By all his crazy project, people think he's crazy
I really familiar with the word "crazy" especially when the word refers to my dad. I keep wonder how could he keep doing good thing to those people who think he's crazy. Don't he feel upset coz nobody say thanks to whatever he did?
I ask him" why are we sacrifice our land for them and build this dike? They said that u're crazy, they never apreciate what u did"
he reply" there are two kind or people, those who satisfy with their own achievement without thinking about other people, and those who never satistfy without sharing with other. Which one do u choose?"
I was thinking "i choose the second, yaaeh sometimes i also realize that we fight for some people's right while those people don't care we fight for the"
he said " then, do i live for their comment or they live from my craziness? "
I took few second to think " yeah, u make something for them, it needs service and material and economic circle is alive".
he said " yeah, so i told you. Kindness is not working in that way u said. U don't need their apreciation to you, but here(pointed to his chest) u can feel it. That's what make us alive in the real way " i said " does it what people call as morality? When we do something beyond our own responsibility''

Senin, 10 September 2018

Tentang kebebasan

Dalam buku yang berjudul "krisis kebebasan", Albert Camus mengatakan bahwa usai diraih, kebebasan itu laksana udara yang bisa dihirup oleh siapa saja. Namun, tau kah kau apa yg terjadi ketika sesuatu itu bebas dinikmati oleh siapa saja? tak ada lagi yang benar-benar memperhatikannya. Hingga ia terkikis sedikit-demi-sedikit lalu menghilang, barulah orang tersadar bahwa ia telah tiada.
Bagi petani dapat menanam apa saja di ladangnya tanpa dihalangi oleh siapa saja merupakan kebebasan. Bagi organisator, bebas untuk berserikat dan mengungkapkan pendapat adalah kebebasan yang tentu tak dapat diganggu gugat. Tentulah kebebasan di sini merupakan kebebasan yang bisa dipertanggungjawabkan dan tidak merenggut hak orang lain. Namun apa yang terjadi hari ini? Petani menjerit karena lahanya diganggu oleh kaum yang seharusnya membela mereka ketika dalam kesulitan. Organisasi dibubarkan karena dianggap bertentangan dengan ideologi pemilik rumah tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Kemerdekaan yang identik dengan kebebasan mulai kita pertanyakan keberadaannya. Apa yang dimaksud dengan merdeka dan bebas? Bukankah itu adalah hak yang kita bawa sejak lahir? Namun, ketika tumbuh dan berkembang dalam lingkungan masyarakat kita terikat oleh aturan yang diciptakan dan kemudian menciptakan kita. Pun dengan kebebasan yang kita bawa sejak lahir, ia harus tunduk pada sekat-sekat tertentu. Dan tentu saja, sekat yang diciptakan bukanlah sesuatu yang murni tanpa kepentingan. Untuk melangengkan kekuasaan?  Mungkin itu salah satu alasanya.

Jumat, 17 Agustus 2018

Perayaan Hari Kemerdekaan dan Politik Etis

Sama seperti pesta pada umumnya, perayaan hari ini pasti akan berakhir. Lantas apa yg akan tersisa? Anggaran yang dihabiskan untuk perayaan hari ini tentu tidak sedikit, tapi itu tidak ada apa-apanya. Kan bangsa ini adalah bangsa yang kaya, kalau cuma pesta kaya gini mah kecil. Malu juga si, bangsa kaya raya kok pelit untuk sekedar membiayai peringatan hari jadinya. Pajak rakyat memang diperuntukkan untuk itu kan?
Dibalik kemegahan peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia di Istana Negara, di luar sana banyak orang memperingatinya dengan cara yang berbeda. Ada yang sibuk bermain tarik tambang ketika tambang-tambang di Negeri ini ditarik oleh investor, ada juga yang sibuk dengan pakaian rapi nan indah serta hidangan beraneka rupa, ketika kaum miskin kebingungan mencari pengganjal perut dan penutup badan untuk menghalau hawa dingin. Ada yang sibuk dengan memperhatikan manuver-manuver pesawat TNI yang di udara, ketika para veteran perang berjalan dengan kaki tiga karena telah diusia senja tak kunjung sejahtera. Ada juga yang sedang khidmad melaksanakan upacara dipuncak gunung, atau menyatu dengan keindahan alam di bawah laut sembari mengibarkan bendera kebanggan.
Bagi sebagian orang, berbaris, hormat bendera, serta bernyanyi menghadap sang saka merah putih terkesan militer, maka aku memilih tenggela dalam lautan kata-kata sebuah novel sejarah tentang bapak yang terlupakan. Novel tersebut berjudul "Tan sebuah novel"  karya Hendri Teja. Ketika orang berpanas-panasan upacara di bawah terik matahari sembari hormat berdera dan diiringi lagu indonesia raya, saya larut dalam bacaan sembari merasakan semangat Ibarahim muda yang memuncak ketika penulis menceritakan tentang keberhasilannya menyelenggarakan kongres pelajar Hindia di Nederland kemudian membentuk Perhimpunan Pelajar Hindia Nederland (PPHN). Hal yang menarik bagiku dalam buku ini adalah program politik etis. Ya, perogram yg mengizinkan rakyat Nusantara untuk bersekolah dibiayai oleh pengusaha-pengusaha Nederland. Kesempatan ini memang diperuntukkan untuk kalangan tertentu. Sebagai seorang yang memiliki gelar Datuk, Ibrahim muda diperkenankan mengenyam pendidikan tak hanya di Bukit tinggi, namun juga berkesempatan untuk menimba ilmu ke Nederland.
Program politik etis yang diselenggarakan sebagai bentuk balas budi pada rakyat Hindia yang kala itu menyokong pemasukan yang cukup tinggi ke dalam kas Nederland. Untuk tetap mendapatkan keuntungan, tentu cara-cara yang dilakukan oleh pengusaha Nederland untuk menghisap manusia-manusia polos dari Hindia menggunakan cara yang represif seperti menyiksa para pekerja, mereka juga diminta bekerja maksimal dengan upah yang minim. Kembali ke Ibrahim muda dan kawan-kawannya di PPHD, mereka adalah orang-orang pilihan karena berasal dari keluarga terhormat. Bagaiaman dengan keadaan dunia pendidikan hari ini? Biaya pendidikan yang terbilang cukup tinggi, hanya mampu diraih oleh mereka yang tergolong mampu.
Saya fikir, sampai hari ini politik etis alias balas budi masih berlangsung, sebuah negara akan memberikan beasiswa bagi pelajar dari Indonesia untuk belajar di Negaranya sebagai balasan karena telah diberikan ruang investasi atau kerjasama dibidang ekonomi berupa import barang dari negara tersebut, tentu cara itu tidak lagi dengan cara yg represif tapi persuasif (ISA). What make it different? Hanya perubahan dari cara penjajahan dari represif ke persuasif. Selain itu, politik balas budi  ketika ibarahim muda medapatkan beasiswa ke Nederland itu kita belangsung ketika kita belum memperingati 17 agustus, sedang  sekarang kita sudah memperingati 17 Agustus 
Merdeka %??
 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design