Selasa, 25 Desember 2018

What is morality?

By all his crazy project, people think he's crazy
I really familiar with the word "crazy" especially when the word refers to my dad. I keep wonder how could he keep doing good thing to those people who think he's crazy. Don't he feel upset coz nobody say thanks to whatever he did?
I ask him" why are we sacrifice our land for them and build this dike? They said that u're crazy, they never apreciate what u did"
he reply" there are two kind or people, those who satisfy with their own achievement without thinking about other people, and those who never satistfy without sharing with other. Which one do u choose?"
I was thinking "i choose the second, yaaeh sometimes i also realize that we fight for some people's right while those people don't care we fight for the"
he said " then, do i live for their comment or they live from my craziness? "
I took few second to think " yeah, u make something for them, it needs service and material and economic circle is alive".
he said " yeah, so i told you. Kindness is not working in that way u said. U don't need their apreciation to you, but here(pointed to his chest) u can feel it. That's what make us alive in the real way " i said " does it what people call as morality? When we do something beyond our own responsibility''

Senin, 10 September 2018

Tentang kebebasan

Dalam buku yang berjudul "krisis kebebasan", Albert Camus mengatakan bahwa usai diraih, kebebasan itu laksana udara yang bisa dihirup oleh siapa saja. Namun, tau kah kau apa yg terjadi ketika sesuatu itu bebas dinikmati oleh siapa saja? tak ada lagi yang benar-benar memperhatikannya. Hingga ia terkikis sedikit-demi-sedikit lalu menghilang, barulah orang tersadar bahwa ia telah tiada.
Bagi petani dapat menanam apa saja di ladangnya tanpa dihalangi oleh siapa saja merupakan kebebasan. Bagi organisator, bebas untuk berserikat dan mengungkapkan pendapat adalah kebebasan yang tentu tak dapat diganggu gugat. Tentulah kebebasan di sini merupakan kebebasan yang bisa dipertanggungjawabkan dan tidak merenggut hak orang lain. Namun apa yang terjadi hari ini? Petani menjerit karena lahanya diganggu oleh kaum yang seharusnya membela mereka ketika dalam kesulitan. Organisasi dibubarkan karena dianggap bertentangan dengan ideologi pemilik rumah tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Kemerdekaan yang identik dengan kebebasan mulai kita pertanyakan keberadaannya. Apa yang dimaksud dengan merdeka dan bebas? Bukankah itu adalah hak yang kita bawa sejak lahir? Namun, ketika tumbuh dan berkembang dalam lingkungan masyarakat kita terikat oleh aturan yang diciptakan dan kemudian menciptakan kita. Pun dengan kebebasan yang kita bawa sejak lahir, ia harus tunduk pada sekat-sekat tertentu. Dan tentu saja, sekat yang diciptakan bukanlah sesuatu yang murni tanpa kepentingan. Untuk melangengkan kekuasaan?  Mungkin itu salah satu alasanya.

Jumat, 17 Agustus 2018

Perayaan Hari Kemerdekaan dan Politik Etis

Sama seperti pesta pada umumnya, perayaan hari ini pasti akan berakhir. Lantas apa yg akan tersisa? Anggaran yang dihabiskan untuk perayaan hari ini tentu tidak sedikit, tapi itu tidak ada apa-apanya. Kan bangsa ini adalah bangsa yang kaya, kalau cuma pesta kaya gini mah kecil. Malu juga si, bangsa kaya raya kok pelit untuk sekedar membiayai peringatan hari jadinya. Pajak rakyat memang diperuntukkan untuk itu kan?
Dibalik kemegahan peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia di Istana Negara, di luar sana banyak orang memperingatinya dengan cara yang berbeda. Ada yang sibuk bermain tarik tambang ketika tambang-tambang di Negeri ini ditarik oleh investor, ada juga yang sibuk dengan pakaian rapi nan indah serta hidangan beraneka rupa, ketika kaum miskin kebingungan mencari pengganjal perut dan penutup badan untuk menghalau hawa dingin. Ada yang sibuk dengan memperhatikan manuver-manuver pesawat TNI yang di udara, ketika para veteran perang berjalan dengan kaki tiga karena telah diusia senja tak kunjung sejahtera. Ada juga yang sedang khidmad melaksanakan upacara dipuncak gunung, atau menyatu dengan keindahan alam di bawah laut sembari mengibarkan bendera kebanggan.
Bagi sebagian orang, berbaris, hormat bendera, serta bernyanyi menghadap sang saka merah putih terkesan militer, maka aku memilih tenggela dalam lautan kata-kata sebuah novel sejarah tentang bapak yang terlupakan. Novel tersebut berjudul "Tan sebuah novel"  karya Hendri Teja. Ketika orang berpanas-panasan upacara di bawah terik matahari sembari hormat berdera dan diiringi lagu indonesia raya, saya larut dalam bacaan sembari merasakan semangat Ibarahim muda yang memuncak ketika penulis menceritakan tentang keberhasilannya menyelenggarakan kongres pelajar Hindia di Nederland kemudian membentuk Perhimpunan Pelajar Hindia Nederland (PPHN). Hal yang menarik bagiku dalam buku ini adalah program politik etis. Ya, perogram yg mengizinkan rakyat Nusantara untuk bersekolah dibiayai oleh pengusaha-pengusaha Nederland. Kesempatan ini memang diperuntukkan untuk kalangan tertentu. Sebagai seorang yang memiliki gelar Datuk, Ibrahim muda diperkenankan mengenyam pendidikan tak hanya di Bukit tinggi, namun juga berkesempatan untuk menimba ilmu ke Nederland.
Program politik etis yang diselenggarakan sebagai bentuk balas budi pada rakyat Hindia yang kala itu menyokong pemasukan yang cukup tinggi ke dalam kas Nederland. Untuk tetap mendapatkan keuntungan, tentu cara-cara yang dilakukan oleh pengusaha Nederland untuk menghisap manusia-manusia polos dari Hindia menggunakan cara yang represif seperti menyiksa para pekerja, mereka juga diminta bekerja maksimal dengan upah yang minim. Kembali ke Ibrahim muda dan kawan-kawannya di PPHD, mereka adalah orang-orang pilihan karena berasal dari keluarga terhormat. Bagaiaman dengan keadaan dunia pendidikan hari ini? Biaya pendidikan yang terbilang cukup tinggi, hanya mampu diraih oleh mereka yang tergolong mampu.
Saya fikir, sampai hari ini politik etis alias balas budi masih berlangsung, sebuah negara akan memberikan beasiswa bagi pelajar dari Indonesia untuk belajar di Negaranya sebagai balasan karena telah diberikan ruang investasi atau kerjasama dibidang ekonomi berupa import barang dari negara tersebut, tentu cara itu tidak lagi dengan cara yg represif tapi persuasif (ISA). What make it different? Hanya perubahan dari cara penjajahan dari represif ke persuasif. Selain itu, politik balas budi  ketika ibarahim muda medapatkan beasiswa ke Nederland itu kita belangsung ketika kita belum memperingati 17 agustus, sedang  sekarang kita sudah memperingati 17 Agustus 
Merdeka %??

Kamis, 17 Mei 2018

Shared value (myth) vs Intersubjective reality

Selama beberapa waktu terakhir, saya tengah berfikir "apa jadinya negara ini tanpa legitimasi?". Jika orang-orang mulai sadar akan segala sesuatu yang dilakukan oleh negara melalui legitimasi untuk mengatur dan menundukkan rakyatnya. Rakyat tidak lagi hidup dibawah nilai atau aturan yg sama yang ditetapkan oleh negara, melainkan rakyat sudah bisa memproduksi nilai yg mereka yakin masing-masing yg berlawanan dengan negara. Sebut saja hal ini dengan istilah shared myth atau shared value (nilai bersama) vs intersubjective reality (realitas yg diyakini masing-masing individu).

Dalam kasus bom Surabaya misalnya, negara memiliki versi bahwa pelaku pengeboman adalah kelompok JAD atau kelompok yang sudah berbaiat ke Daulah Islamiah. Namun di lapangan, bermuculan beberapa asumsi bahwa ini adalah rekayasa pemerintah untuk melanggengkan kekuasaan. Atau, pelaku pengeboman hanyalah kurir suruhan untuk mendiskritkan islam. Atau pandangan lainnya. Pandangan-pandangan tersebut kemudian diyakini oleh beberapa individu sebagai realitas mereka.

Ketika negara gagal menancapkan legitimasi pada kasus ini, untuk membuat rakyat yakin bahwa kelompok JAD itu ada, bahkan sebaliknya negara yang dituduh berada di balik ini semua. Apa yang akan terjadi? Sebagai orang tak lagi percaya  pada apa yang negara yakini atau kebenaran versinya. Semakin lama kepercayaan terhadap negara dan instansi lainnya semakin terkikis.

Kita menyadari bahwa selama ini, yang membuat kita masih menjadi negara yang utuh adalah karena kita memiliki "mimpi yang sama" atau shared value tadi yang tertuang dalam segala aturan untuk menciptakan kehidupan berbangsa yg lebih baik. Jika kepercayaan pada negara mulai terkikis dan mimpi-mimpi yg sudah dibangun itu tak lagi dianggap sebagai mimpi bersama maka, bukan tidak mungkin kita akan memilih jalan masih-masing dan bubaran (eits, jangan baperrrr di bagian ini 😂😂)

Itulah mengapa, legitimasi dan shared value itu penting. Untuk menjaga mimpi bersama yg sudah dibangun bersama. Meskipun yg namanya mimpi tidak jauh berbeda dengan myth 😊.Langgengkan legitimasimu mewujudkan mitos-mimpi bersama.

Dan ini semua tentang kepatuhan~~
Tapi, bisakah kepatuhan ini didapat tanpa menghilangkan sikap kritis? Ah.. let me think about it.

Kamis, 10 Mei 2018

Do you think am odd?

Tak semua orang suka untuk diajak berfikir. Tak semua orang suka bertanya, apalagi menanyakna hal-hal yang sudah panten dan tabu untuk dipertanyakan. Ketika aku mulai bertanya tentang siapa aku, mengapa aku ada, apa aku pernah ada sebelumnya, apakah aku telah mengetahui jalan dan akhir  hidupku seperti apa. Mempertanyakan kembali apa yang aku yakini sebagai kebenaran, agama serta tuhan. Mempertanya tentang kehidupan selanjutnya, tentang apa yang ada di luar angakasa sana ; misteri alam. Mempertanyaka apakah yang aku ketahui ini bukan hal yang baru, melainkan hal ini merupakan memory yang sudah tertanam di dalam sana, dan aku hanya perlu mengingatnya dengan cara belajar kembali ( 😂😂 entah kenapa bisa mikir gini, in my imagination this ia how world is running) .
Ketika aku mengajak kawan-kawan seusiaku untuk merenunginya, atau sekedar berdiskusi, sebagian dari mereka menolak. Bahkan mereka menganggapnya sebagai suatu hal yg aneh. Sebagian lainnya tertarik, namun mencari jawabnya dari pertanyaan-pertanyaan itu bukan perkara mudah. Bahkan filsuf yang telah lebih dulu ada berabad-abad yang lalu, belum bisa merumuskan jawaban yang dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena, setiap jawaban akan menemukan anti-tesisnya seiring berjalanya waktu, akan ada jawabn baru, sehingga jawabannyapun bergam. Jawabanmu tergantung bagaimana kau menangakap realitas dengan inderamu dan akalmu, lalu kau memprosesnya dengan caramu.
Lantas, bagaimana dengan jawaban-jawaban atas yg diberikan oleh filsuf-filsuf terdahulu? Kita bisa menjadikannya sebgai referensi. Namun, perkara jawaban itu sama atau berbeda adalah hal yang wajar, karena setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda dengan caranya masing-masing.
Ini omongin apa sih?
But, you know what? my friends are right, I am odd 🙌

Bertanya?

Manusia dilahirkan dengan jiwa 'curiosity". Memiliki keingin tahuan yang begitu besar. Ketika masih difase anak-anak, mungkin kita begitu lelah meladenin pertanyaan dari anak-anak. Setiap melihat hal yang baru mereka ingin merabanya, ketika memegang sesuatu mereka akan mencoba memasukkan ke mulutnya, ketika mereka sudah pandai berbicara mereka akan bertanya setiap kosakata baru yang mereka dengar. Sejatinya seperti inilah manusia, melalui rasa ingin tahunya, mereka terus bertanya dan mecoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Inilah yang membawa duni menuju perubahan dan tetap dinamis.

Namun, seiring bertambahnya usia, rasa ingin tahun dan kemampuan dasar untuk bertanya semakin berkurang. Beberapa alasan mengapa ketika beranjak dewasa enggan bertanya adalah karena kita kehilangan rasa penasaran dan mulai menganggap apa yang ada di dunia sebagai hal yang biasa, sebagai dari kita lebih penasaran dengan apa yang terjadi di luar angkasa sana. Selain itu, tak jarang lingkungan di mana mereka tumbuh memaksa mereka untuk lebih sering menerima ketimbang harus bertanya. Karena orang yg lebih tua terkadang malas meladeni pertanyaan atau terlibat dalam perdebatan.

Bagaimana dengan dunia pendidikan yang sejatinya dialektis? Melaui pertanyaan-pertanya tentu diharapkan muncul anti-tesis dan sintesa sehingga dunia pendidikan akan menjadi lebih dinamis. Namun faktanya, kita bisa lihat seberapa sering mahasiswa berani mengajuakan pertanyaan atau adakah semangat mengajukan pertanyaan? Saya yakin tidak banyak. Jika hanya untuk memunculkan pertanyaan saja begitu sulit, bagaiamana bisa memunculkan anti-tesis dari apa yang diajarkan di kelas. Mungkin kau pernah menemukan beberapa orang yang berani untuk berdebat dengan dosen yang berujung dengan nilai E. Tentu hal ini akan menjadi hipotesis, lingkungan semacam ini disadari atau tidak mematikan jiwa kritis manusia hari ini.
Lantas siapa yang lebih berpotensi membunuh kemampuan untuk mengajukan pertanyaan itu lingkungan? Atau keraguan dalam diri karena takut disangka bodoh karena bertanya.
Masih dalam lingkungan pendidikan, apa yang terjadi ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan atas beberapa hal dan tak mendapat jawaban yang memuaskan? Mereka akan dituduh pembelot karena berani-beraninya bertanya. Terutama hal yang dianghap tabu dan privat atau bisa dikatakan aib. Bukankah dari anti-tesis yang dimunculkan dan pertanyaan itu bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi. Tentu, karena selalu dibutuhkan perbaikan. Bukan dengan mebangun citra bahwa apa yang dipertanyakan itu adalah adalah sudah final dan bertanya atau membangun anti-tesis yang berlawan dengan apa yang dikatakan tetua berati sebuh kesalahan. Bukankah sejatinya kita lebih baik menerima anti-tesa yang muncul dan melalukan evaluasi? Dari pada terus menutupi dan menganggap bahwa seolah-olah segala sesuatu itu baik-baik saja dan tak perlu perubahan.

Rabu, 07 Maret 2018

Virus akalbudi

Meme dikatakan sebagai ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya.Sebagai unit terkecil dari evolusi budaya, dalam beberapa sudut pandang meme serupa dengan Gen. Richard Dawkins, dalam bukunya The Selfish Gene, ia menceritakan bagaimana ia menggunakan istilah meme untuk menceritakan prinsip Darwinisme dan menjelaskan penyebaran ide ataupun fenomena budaya. 

Bagaimana jika saya menolak apa yg buku ini katakan tentang meme? Dengan membaca buku ini berarti saya telah masuk ke dalam pemikiran si penulis dan segala penafsirannya tentang "meme". Bukankah si penulis juga sedang menggandakan virus dengan menulis apa yg ia pikirkan tentang meme? Bagaimana jika saya menyebut  "meme" yg Ia tulis di sini dengan istilah lain, seperti legitimasi, wacana, adat, kebiasaan, aturan dan hegemoni? Istilah yg juga dibuat oleh orang-orang yg tidak saya kenal dan saya juga tidak tahu kenapa harus menerima istilah itu. Hanya saja itu semacam kesepakatan yang secara sadar dan mungkin juga tidak sadar diterima, diulang, diperbanyak sampai ada yg datang dengan istilah baru dan menolak yang lama.
Sama seperti bagaimana saya menulis setiap kata untuk mengungkapkan apa yg saya pikirkan dengan simbol-simbol yang sudah kita sepakati sebagai bahasa.

Lihatlah, kita memang mahluk yg paling getol mencari makna dan terus mencoba untuk menjelaskan setiap fenomena yang ada.
Penjelasan akan setiap fenomena tergantung bagaimana indera kita menangkap realitas yang ada dan memprosesnya dengan logika.
Penjelasan itu yang kita anggap sebagai yang benar. Akan tetapi, apakah kebenaran itu utuh atau hanya setengah dari kebenaran? Itu akan berubah seiring dengan perubahan cara menangkap realitas itu.
Itulah mengapa saya menolak pengkultusan akan sesuatu atau seseorang, tentun hal itu akan membuat kita meyakini apa yang ia katakan sebagai kebenaran dan memprogram akalbudi kita untuk menerimanya tanpa pernah bertanya. ( Untuk hal-hal non-trasenden)

 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design