Kamis, 10 Mei 2018

Bertanya?

Manusia dilahirkan dengan jiwa 'curiosity". Memiliki keingin tahuan yang begitu besar. Ketika masih difase anak-anak, mungkin kita begitu lelah meladenin pertanyaan dari anak-anak. Setiap melihat hal yang baru mereka ingin merabanya, ketika memegang sesuatu mereka akan mencoba memasukkan ke mulutnya, ketika mereka sudah pandai berbicara mereka akan bertanya setiap kosakata baru yang mereka dengar. Sejatinya seperti inilah manusia, melalui rasa ingin tahunya, mereka terus bertanya dan mecoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Inilah yang membawa duni menuju perubahan dan tetap dinamis.

Namun, seiring bertambahnya usia, rasa ingin tahun dan kemampuan dasar untuk bertanya semakin berkurang. Beberapa alasan mengapa ketika beranjak dewasa enggan bertanya adalah karena kita kehilangan rasa penasaran dan mulai menganggap apa yang ada di dunia sebagai hal yang biasa, sebagai dari kita lebih penasaran dengan apa yang terjadi di luar angkasa sana. Selain itu, tak jarang lingkungan di mana mereka tumbuh memaksa mereka untuk lebih sering menerima ketimbang harus bertanya. Karena orang yg lebih tua terkadang malas meladeni pertanyaan atau terlibat dalam perdebatan.

Bagaimana dengan dunia pendidikan yang sejatinya dialektis? Melaui pertanyaan-pertanya tentu diharapkan muncul anti-tesis dan sintesa sehingga dunia pendidikan akan menjadi lebih dinamis. Namun faktanya, kita bisa lihat seberapa sering mahasiswa berani mengajuakan pertanyaan atau adakah semangat mengajukan pertanyaan? Saya yakin tidak banyak. Jika hanya untuk memunculkan pertanyaan saja begitu sulit, bagaiamana bisa memunculkan anti-tesis dari apa yang diajarkan di kelas. Mungkin kau pernah menemukan beberapa orang yang berani untuk berdebat dengan dosen yang berujung dengan nilai E. Tentu hal ini akan menjadi hipotesis, lingkungan semacam ini disadari atau tidak mematikan jiwa kritis manusia hari ini.
Lantas siapa yang lebih berpotensi membunuh kemampuan untuk mengajukan pertanyaan itu lingkungan? Atau keraguan dalam diri karena takut disangka bodoh karena bertanya.
Masih dalam lingkungan pendidikan, apa yang terjadi ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan atas beberapa hal dan tak mendapat jawaban yang memuaskan? Mereka akan dituduh pembelot karena berani-beraninya bertanya. Terutama hal yang dianghap tabu dan privat atau bisa dikatakan aib. Bukankah dari anti-tesis yang dimunculkan dan pertanyaan itu bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi. Tentu, karena selalu dibutuhkan perbaikan. Bukan dengan mebangun citra bahwa apa yang dipertanyakan itu adalah adalah sudah final dan bertanya atau membangun anti-tesis yang berlawan dengan apa yang dikatakan tetua berati sebuh kesalahan. Bukankah sejatinya kita lebih baik menerima anti-tesa yang muncul dan melalukan evaluasi? Dari pada terus menutupi dan menganggap bahwa seolah-olah segala sesuatu itu baik-baik saja dan tak perlu perubahan.

0 komentar:

Posting Komentar

 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design