Kamis, 17 Mei 2018

Shared value (myth) vs Intersubjective reality

Selama beberapa waktu terakhir, saya tengah berfikir "apa jadinya negara ini tanpa legitimasi?". Jika orang-orang mulai sadar akan segala sesuatu yang dilakukan oleh negara melalui legitimasi untuk mengatur dan menundukkan rakyatnya. Rakyat tidak lagi hidup dibawah nilai atau aturan yg sama yang ditetapkan oleh negara, melainkan rakyat sudah bisa memproduksi nilai yg mereka yakin masing-masing yg berlawanan dengan negara. Sebut saja hal ini dengan istilah shared myth atau shared value (nilai bersama) vs intersubjective reality (realitas yg diyakini masing-masing individu).

Dalam kasus bom Surabaya misalnya, negara memiliki versi bahwa pelaku pengeboman adalah kelompok JAD atau kelompok yang sudah berbaiat ke Daulah Islamiah. Namun di lapangan, bermuculan beberapa asumsi bahwa ini adalah rekayasa pemerintah untuk melanggengkan kekuasaan. Atau, pelaku pengeboman hanyalah kurir suruhan untuk mendiskritkan islam. Atau pandangan lainnya. Pandangan-pandangan tersebut kemudian diyakini oleh beberapa individu sebagai realitas mereka.

Ketika negara gagal menancapkan legitimasi pada kasus ini, untuk membuat rakyat yakin bahwa kelompok JAD itu ada, bahkan sebaliknya negara yang dituduh berada di balik ini semua. Apa yang akan terjadi? Sebagai orang tak lagi percaya  pada apa yang negara yakini atau kebenaran versinya. Semakin lama kepercayaan terhadap negara dan instansi lainnya semakin terkikis.

Kita menyadari bahwa selama ini, yang membuat kita masih menjadi negara yang utuh adalah karena kita memiliki "mimpi yang sama" atau shared value tadi yang tertuang dalam segala aturan untuk menciptakan kehidupan berbangsa yg lebih baik. Jika kepercayaan pada negara mulai terkikis dan mimpi-mimpi yg sudah dibangun itu tak lagi dianggap sebagai mimpi bersama maka, bukan tidak mungkin kita akan memilih jalan masih-masing dan bubaran (eits, jangan baperrrr di bagian ini 😂😂)

Itulah mengapa, legitimasi dan shared value itu penting. Untuk menjaga mimpi bersama yg sudah dibangun bersama. Meskipun yg namanya mimpi tidak jauh berbeda dengan myth 😊.Langgengkan legitimasimu mewujudkan mitos-mimpi bersama.

Dan ini semua tentang kepatuhan~~
Tapi, bisakah kepatuhan ini didapat tanpa menghilangkan sikap kritis? Ah.. let me think about it.

Kamis, 10 Mei 2018

Do you think am odd?

Tak semua orang suka untuk diajak berfikir. Tak semua orang suka bertanya, apalagi menanyakna hal-hal yang sudah panten dan tabu untuk dipertanyakan. Ketika aku mulai bertanya tentang siapa aku, mengapa aku ada, apa aku pernah ada sebelumnya, apakah aku telah mengetahui jalan dan akhir  hidupku seperti apa. Mempertanyakan kembali apa yang aku yakini sebagai kebenaran, agama serta tuhan. Mempertanya tentang kehidupan selanjutnya, tentang apa yang ada di luar angakasa sana ; misteri alam. Mempertanyaka apakah yang aku ketahui ini bukan hal yang baru, melainkan hal ini merupakan memory yang sudah tertanam di dalam sana, dan aku hanya perlu mengingatnya dengan cara belajar kembali ( 😂😂 entah kenapa bisa mikir gini, in my imagination this ia how world is running) .
Ketika aku mengajak kawan-kawan seusiaku untuk merenunginya, atau sekedar berdiskusi, sebagian dari mereka menolak. Bahkan mereka menganggapnya sebagai suatu hal yg aneh. Sebagian lainnya tertarik, namun mencari jawabnya dari pertanyaan-pertanyaan itu bukan perkara mudah. Bahkan filsuf yang telah lebih dulu ada berabad-abad yang lalu, belum bisa merumuskan jawaban yang dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena, setiap jawaban akan menemukan anti-tesisnya seiring berjalanya waktu, akan ada jawabn baru, sehingga jawabannyapun bergam. Jawabanmu tergantung bagaimana kau menangakap realitas dengan inderamu dan akalmu, lalu kau memprosesnya dengan caramu.
Lantas, bagaimana dengan jawaban-jawaban atas yg diberikan oleh filsuf-filsuf terdahulu? Kita bisa menjadikannya sebgai referensi. Namun, perkara jawaban itu sama atau berbeda adalah hal yang wajar, karena setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda dengan caranya masing-masing.
Ini omongin apa sih?
But, you know what? my friends are right, I am odd 🙌

Bertanya?

Manusia dilahirkan dengan jiwa 'curiosity". Memiliki keingin tahuan yang begitu besar. Ketika masih difase anak-anak, mungkin kita begitu lelah meladenin pertanyaan dari anak-anak. Setiap melihat hal yang baru mereka ingin merabanya, ketika memegang sesuatu mereka akan mencoba memasukkan ke mulutnya, ketika mereka sudah pandai berbicara mereka akan bertanya setiap kosakata baru yang mereka dengar. Sejatinya seperti inilah manusia, melalui rasa ingin tahunya, mereka terus bertanya dan mecoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Inilah yang membawa duni menuju perubahan dan tetap dinamis.

Namun, seiring bertambahnya usia, rasa ingin tahun dan kemampuan dasar untuk bertanya semakin berkurang. Beberapa alasan mengapa ketika beranjak dewasa enggan bertanya adalah karena kita kehilangan rasa penasaran dan mulai menganggap apa yang ada di dunia sebagai hal yang biasa, sebagai dari kita lebih penasaran dengan apa yang terjadi di luar angkasa sana. Selain itu, tak jarang lingkungan di mana mereka tumbuh memaksa mereka untuk lebih sering menerima ketimbang harus bertanya. Karena orang yg lebih tua terkadang malas meladeni pertanyaan atau terlibat dalam perdebatan.

Bagaimana dengan dunia pendidikan yang sejatinya dialektis? Melaui pertanyaan-pertanya tentu diharapkan muncul anti-tesis dan sintesa sehingga dunia pendidikan akan menjadi lebih dinamis. Namun faktanya, kita bisa lihat seberapa sering mahasiswa berani mengajuakan pertanyaan atau adakah semangat mengajukan pertanyaan? Saya yakin tidak banyak. Jika hanya untuk memunculkan pertanyaan saja begitu sulit, bagaiamana bisa memunculkan anti-tesis dari apa yang diajarkan di kelas. Mungkin kau pernah menemukan beberapa orang yang berani untuk berdebat dengan dosen yang berujung dengan nilai E. Tentu hal ini akan menjadi hipotesis, lingkungan semacam ini disadari atau tidak mematikan jiwa kritis manusia hari ini.
Lantas siapa yang lebih berpotensi membunuh kemampuan untuk mengajukan pertanyaan itu lingkungan? Atau keraguan dalam diri karena takut disangka bodoh karena bertanya.
Masih dalam lingkungan pendidikan, apa yang terjadi ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan atas beberapa hal dan tak mendapat jawaban yang memuaskan? Mereka akan dituduh pembelot karena berani-beraninya bertanya. Terutama hal yang dianghap tabu dan privat atau bisa dikatakan aib. Bukankah dari anti-tesis yang dimunculkan dan pertanyaan itu bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi. Tentu, karena selalu dibutuhkan perbaikan. Bukan dengan mebangun citra bahwa apa yang dipertanyakan itu adalah adalah sudah final dan bertanya atau membangun anti-tesis yang berlawan dengan apa yang dikatakan tetua berati sebuh kesalahan. Bukankah sejatinya kita lebih baik menerima anti-tesa yang muncul dan melalukan evaluasi? Dari pada terus menutupi dan menganggap bahwa seolah-olah segala sesuatu itu baik-baik saja dan tak perlu perubahan.

 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design