Reaksi suamiku yang masih menunggu kabar dari salah satu Bank untuk pinjaman KPR.
Satu tahun menikah, kami memang masih mengontrak. Saya si tidak masalah mengontrak atau kos, karena sudah terbiasa nomaden. Tapi kalau dipikir-pikir, biaya sewa rumah tak jauh beda dengan biaya angsuran rumah subsidi. Beberapa waktu lalu, kami menengok beberapa perumahan subsidi. Tapi entah karena kendala lokasi atau suasana membuat kami enggan melanjutkan ke proses bank.
Kali ini kami mengajukan pinjaman ke Bank untuk mengambil sebuah rumah. Rumah tersebut terletak di tengah-tangah sawah, rumah ini dibangun di atas tanah kavlingan seluas satu are. Namun, karena SK kerja saya yang tak kunjung juga diterbitkan, alhasil kami agak kewalahan untuk mengajukan pinjaman.
Belum lama ini, kami juga sudah membooking rumah komersil di lokasi yang cukup asri. Namun, mejelang hari H penyerahan DP, kami berbuah pikiran setelah melihat cicilan bulanannya. Belum lagi uang DP yang minta developer belum terkumpul sampai batas waktu yang ditentukan. Alhasil, uang booking itu hangus, karena sudah lewat tempo.
Sebenarnya, kami memiliki lahan yang sudah dibangun, meskipun hanya berupa fondasi. Tapi, karena alasan akses jalan yang lumayan sulit, jadi kami menunda pembangunanya. Akses jalan ini kemudian berimbas pada biaya angkut material dari jalan utama ke lokasi pembangunan, ini memakan biaya tak kalah banyak dari harga materialnya.
Ada ada seorang kawan yang nenawarkan kami rumah. Istri kawan ini kebetulan bekerja di developer perumaha yang ia tawarkan. Lokasinya cukup strategis, sekitar 10-15 menit dari pusat kota. Lingkunganya terbilang cukup asri, dikelilingi area persawahan. Agak sedih sebenarnya melihat bangunan di tengah area persawahan. Ini menjadi opsi ke-2 kami, jika pengajuan pinjaman ke bank tak jua ACC.
Akhir-akhir ini pembangunan perumahan di sekitar daerah Lingkar, Kota Mataram , memang cukup massif. Alhasil, wilayah yang dulunya hanya area persawahan yang ditanami padi, jagung, dan kangkung itu berubah jadi kawasan perumahan yang lumayan padat. Perumahan yang satu bersambung dengan yang lainnya. Akses jalan yang luas, juga menyebebkan banyaknya toko dan rumah makan baru bermunculan di sepanjang jalan Lingkar.
Well, mungkin ini karena tetangga kami di perumahan tempat kami mengontrak sekarang teramat sayang pada kami, maka dari itu rencana mengambil rumah sendiri belum jua terealisasi. Mereka selalu bilang, "di sini aja mbaq, jangan pindah". Ucapan ini bisa berarti dua hal, yang pertama mereka mendoakan kami terus mengontrak. Yang ke dua, mereka mendokan kami cepat kaya agar mampu membeli rumah di perumahan yang terbilang mahal ini.😅
Yes, life is dream for the wise, comedy for the rich, game for the fool, and a tragedy for the poor.
If you are poor, then be wise. So this life may be just like a dream🤣.
0 komentar:
Posting Komentar