Kamis, 20 Februari 2020

WNI Eks-ISIS; Apakah Keinginan untuk Hidup Layak Merupakan Dosa?

Bebeapa waktu lalu saya berdebat cukup panjang sehabis baca berita terkait pemulangan WNI eks-ISIS. Pemerintah resmi memutuskan untuk tidak memulangkan mereka. Saya termasuk orang yang pro untuk tidak memulangkan mereka. Mungkin ini akibat dari membaca berita di media yang lebih banyak memuat tentang pemulangan Eks-WNI yang dianggap sebagai ancaman. Atau pemberitaan yang berkutat pada hal-hal yang bebau simbol, seperti pasport yang dibakar, bendera, dan lainnya. Di antara sekian banyak pemberitaan di media, ada dua media yang memiliki sudut pandangan yang berbeda. Ada BBC Indonesia dengan video wawancaranya bersama seorang anak perempuan yang diikutsertkana ayahnya ke Suriah. Ada juga berita dari Tirto.id yang mengulas lebih dalam perihal pemulangan ISIS.

Saya yang awalnya kekeh pada pendirian untuk tidak memulangkan mereka karena menganggap bahwa hal ini adalah konsekuensi dari pilihan mereka bergabung dengan ISIS. Lalu saya sadar, asupan bacaan saya akhir-akhir ini lebih banyak dari media "Katanya", yang hanya memadanga isu ini hanya sebatas hitam-putih ; anatara dipulangkan vs tidak dipulangkan.  Media-media ini hanya megutip mereka yang pro atau kontra, hanya sebatas itu. Ini yang membuat saya berasumsi bahwa pemulangan mereka hanya akan menjadi beban, " Indonesia masih memiliki ratusan juta rakyat untuk diberi makan, mengikhlaskan jumlah yang ratusan ini bagi saya bukan hal yang besar. Toh, itu juga pilihan mereka bukan?" demikian saya bergumam.

Namun perdebatan singkat dengan partner saya membuat saya berfikir lebih dalam. Ia menganggap saya menggunakan standar ganda dalam melihat kasus ini. "bagaimana bisa kau berempati dengan mereka yang di Papua, Uigur, Yaman, dan kaum tertindas lainnya, tapi tidak dengan mereka ini (Eks-WNI). Saya sempat mengelak, "apa yang terjadi pada WNI eks-ISIS ini berbeda, mereka melakukannya atas kehendak sendiri. Orang-orang di Papua atau Uigur kan melakukan perlawanan atas penindasan, lah mereka?" kata saya panjang lebar malam itu. obrolan kami berlanjut sembari menunggu lampu merah berubah warna.

Sesampai saya di rumah, saya memikirkan kembali apa yang saya ucapkan dalam perjalanan tadi. Saya yang akhir-akhir ini sedang belajar terkait hak-hak anak mulai merenungkan kembali perihal kasus ini. Apakah ini hanya perihal bendera dan passport? Memang, hak dasar seseorang setelah ia dilahirkan adalah identitas. Tanpa identitas ini, mereka tidak akan mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan hak-hak lainnya.

Bagaimana bisa, saya yang menolak terjebak dalam nasionalisme banal (memandang nasionalisme sebagai simbol-simbol) malah terbawa arus dalam narasi media yang hanya menyuguhkan informasi hitam-putih, padahal isu ini cukup kompleks.

Sebutlah anak yang diboyong ayahnya untuk bergabung dengan ISIS tadi, Nada Fedulla yang malang. Dia sedang asik-asiknya belajar, dan bercita-cita ingin menjadi dokter. Malah harus putus sekolah untuk mengikuti perintah sang ayah. Melihat wawancaranya dengan Quentin Sommerville membuat saya bertanya-tanya, apakah pola relasi dalam keluarga Nada ini adalah relasi yang setara?

Saya membayangkan relasi dalam keluarga ini cukup timpang, ada anak-anak dan istri dalam posisi subordinat, dan si ayah memiliki otoritas untuk menentukan apa yang terbaik untuk keluarganya. Saya melihat pola relasi ini seperti hubungan negara dengan warganya, apapun yang negara katakan harus dipatuhi oleh warga, tidak peduli jika itu harus membuat warga kehilangan mata pencahariannya. Jika negara mengatakan, "saya akan membangun bandara" makan warga harus tunduk, meskipun itu berarti warga akan kehilangan lahan pertanian untuk menopang hidupnya.

Nada Fedulla Tak Semujur Nur Dhania


Foto bersama Nur Dhania dalam acara ASEAN Youth Ambassador for Peace

Tahun lalu, dalam acara ASEAN Youth Ambassador for Peace yang diselenggarakan BNPT, saya bertemu dengan Nur Dhania. Dhania memaparkan pengalamannya saat bergabung dengan ISIS pada tahun 2017 silam, ia kemudian berhasil pualng ke Tanah Air pada tahun berikutnya. Kisah Dhania ini kemudian diangkat menjadi sebuah Film yang bertajuk Seeking The Imam. Dahnia kemudian banyak diundang untuk memberikan pemaparan tentang kisahnya.

Berbeda dengan Nada, Dhania memiliki posisi tawar dalam keluarganya. Ialah yang berperan membujuk orangtuanya untuk pindah ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Bagaimana dengan Nada? Gadis ini tak semujur Dhania. Meskipun sama-sama pernah bergabung dengan ISIS, Nada tak bisa kembali ke Tanah Air setelah pemerintah memutuskan untuk tidak memulangkan WNI eks-ISIS.

Framing media
Kita terus-menerus diberikan pilihan oleh media, memulangkan atau tidak memulangkan. Seolah-olah tak ada opsi lain. Kita dipaksa untuk memilih, jika kita sepakat dengan pemulangan eks ISIS tadi, maka kita akan dicap sebagai pendukung ISIS. Sebaliknya, ketika kita menolak berarti kita mejaga Republik ini dari ancaman terorisme. Begitulah narasi yang kebanyak dimuat media. selain itu kita terjebak pada Nasionalisme simbol-simbol, pembakaran passport, dan lainnya.\

Tapi ada hal yang tidak banyak dimuat media, seperti "apa yang akan terjadi ketika mereka kita biarkan 600an orang ini stateless?" Mereka kehilangan hak identitas, hal untuk dilindungi, akses pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Kita membiarkan mereka terobang ambing dalam ketidak pastian, seraya bergumam "toh itu pilihanmu".

Apakah mereka memilih bergabung ke ISIS semata-mata karena alasan agama? mungkin ada sebagian dari propaganda ISIS yang iming-imingi mereka sebuah negara yang makmur, terbebas dari kesenjangan sosial, negara tanpa pemerintahan yang korup, hukum yang adil, semacam baldatun tayyibatun warabbul gafur. Bukankah alasan-alsan di atas seharusnya membuat negara berkaca kembali?

Saya melihat fenomena ini seperti orang yang teratrik investasi bodong karena ditawarkan untung dalam jumlah yang lumayan, ditengah ketidak berdayaan. Lantas siapa yang bisa disalahkan? Korban yang kurang melek sehingga membuatnya tertipu, serta keadaannya yang mungkin serba kekurangan. Bukankah ini sebuah usaha untuk merubah hidup?

Kisah Keberhasilan Deradikalisasi BNPT

Cukup lama saya memantau berita yang bersliweran, tapi tidak jua menemukan berita tentang keberhasilan BNPT dalam menderadikalisasi eks-teroris dan eks-ISIS. Sepertinya narasi ini tak banyak diberitakan. Kita semua larut dalam judgment dan pesimisme.

Bukankah Indonesia punya pengalaman menangani WNI eks ISIS? ya, tentu saja ada. Tirto.id memuat berita dengan tajuk "Mengapa 600 WNI Eks ISIS Perlu Dipulangkan dan Diadili di Indonesia". Dalam berita tersebut, keberhasilan Indonesia menangani WNI eks-ISIS, salah satunya mantan direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Badan Pengusahaan Batam, Dwi Djoko Wiwoho pada 2018 lalu. Djoko dan keluarganya menghilang sejak Agustus 2015. Belakangan diketahui Djoko telah bergabung dengan ISIS dan beroperasi di Irak. Akhirnya Djoko dan keluarganya berhasil dipulangkan ke Indonesia, tapi Djoko mesti mendekam di penjara setelah divonis 3,5 tahun penjara. Sementara anggota keluarga lainnya menjalani program deradikalisasi beberapa minggu sampai akhirnya dilepaskan.

Elit-elit yang Judgmental

Media mengutip beberapa pernyataan elit politik, pimpinan ormas, pakar hukum, dan lainnya. Namun, ada pernyataan pernyataan elit-elit kita di media yang cenderung judgmental, bahkan menyamakan WNI eks-ISIS ini dengan pasien virus corona. Pernyataan ini seolah-olah menganggap keduanya adalah penyakit yang satu-satunya jalan untuk menghindar darinya adalah menjauhinya, bukan menyembuhkannya. Apakah seperti wajah kita? Tak butuh lama untuk melayangkan stigma. Padahal perkara-peraka seperti ini butuh pendekatan yang lebih humanis. Apakah keinginan untuk bertahan hidup, dan hidup layak adalah sebuah dosa???

Kamis, 16 Januari 2020

Dilemma KPR Yang Tak Jua ACC


"Emang susah jadi orang miskin," celetuknya seusai melihat layar handphone.
Reaksi suamiku yang masih menunggu kabar dari salah satu Bank untuk pinjaman KPR.

Satu tahun menikah, kami memang masih mengontrak. Saya si tidak masalah mengontrak atau kos, karena sudah terbiasa nomaden. Tapi kalau dipikir-pikir, biaya sewa rumah tak jauh beda dengan biaya angsuran rumah subsidi. Beberapa waktu lalu, kami menengok beberapa perumahan subsidi. Tapi entah karena kendala lokasi atau suasana membuat kami enggan melanjutkan ke proses bank. 

Kali ini kami mengajukan pinjaman ke Bank untuk mengambil sebuah rumah. Rumah tersebut terletak di tengah-tangah sawah, rumah ini dibangun di atas tanah kavlingan seluas satu are. Namun, karena SK kerja saya yang tak kunjung juga diterbitkan, alhasil kami agak kewalahan untuk mengajukan pinjaman. 

Belum lama ini, kami juga sudah membooking rumah komersil di lokasi yang cukup asri. Namun, mejelang hari H penyerahan DP, kami berbuah pikiran setelah melihat cicilan bulanannya. Belum lagi uang DP yang minta developer belum terkumpul sampai batas waktu yang ditentukan. Alhasil, uang booking itu hangus, karena sudah lewat tempo.

Sebenarnya, kami memiliki lahan yang sudah dibangun, meskipun hanya berupa fondasi. Tapi, karena alasan akses jalan yang lumayan sulit, jadi kami menunda pembangunanya. Akses jalan ini kemudian berimbas pada biaya angkut material dari jalan utama ke lokasi pembangunan, ini memakan biaya tak kalah banyak dari harga materialnya.

Ada ada seorang kawan yang nenawarkan kami rumah. Istri kawan ini kebetulan bekerja di developer perumaha yang ia tawarkan. Lokasinya cukup strategis, sekitar 10-15 menit dari pusat kota. Lingkunganya terbilang cukup asri, dikelilingi area persawahan. Agak sedih sebenarnya melihat bangunan di tengah area persawahan. Ini menjadi opsi ke-2 kami, jika pengajuan pinjaman ke bank tak jua ACC. 

Akhir-akhir ini pembangunan perumahan di sekitar daerah Lingkar, Kota Mataram , memang cukup massif. Alhasil, wilayah yang dulunya hanya area persawahan yang ditanami padi, jagung, dan kangkung itu berubah jadi kawasan perumahan yang lumayan padat. Perumahan yang satu bersambung dengan yang lainnya. Akses jalan yang luas, juga menyebebkan banyaknya toko dan rumah makan baru bermunculan di sepanjang jalan Lingkar.

Well, mungkin ini karena tetangga kami di perumahan tempat kami mengontrak sekarang teramat sayang pada kami, maka dari itu rencana mengambil rumah sendiri belum jua terealisasi. Mereka selalu bilang, "di sini aja mbaq, jangan pindah". Ucapan ini bisa berarti dua hal, yang pertama mereka mendoakan kami terus mengontrak. Yang ke dua, mereka mendokan kami cepat kaya agar mampu membeli rumah di perumahan yang terbilang mahal ini.😅

Yes, life is dream for the wise, comedy for the rich, game for the fool, and a tragedy for the poor.
If you are poor, then be wise. So this life may be just like a dream🤣.

Minggu, 07 Juli 2019

Pasar malam yang ramah jam malam

Kamis sore lalu, grup WhatsApp(WA) Blogger Lombok tiba-tiba ramai. Bunda muslifa, sebagai kepala suku hendak mengajak beberapa Blogger Lombok untuk ikut di acara Lounching Pasar Malam di Aruna Seggigi. I'm so exited to hear that. Tak butuh waktu lama, I put my name on the list. Kupikir ini kesempatan bagus untuk bertemu kawan-kawan blogger yang hanya saya temui lewat grup WA.

Usai solat magrib, bersama dua orang blogger yang sudah lebih dulu saya kenal, Asmak dan Fadil, kami langsung meluncur ke lokasi acara. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja untuk sampai di hotel Aruna Senggigi. Sampai di area kolam, kami disambut dengan hangatnya suasana pasar malam. Para pekerja yang tak henti-hentinya menebar senyum sembari melayani pesanan para tamu, anak-anak yang tiduran di karpet sambil bermain game dan bercengkrama dengan keluarganya, alunan live music yang menyegarkan di telinga dan hati, serta gerombolan muda-mudi yang asik mengobrol diikui gelak tawa.
Terlampau asik mengamati suasa pasar malam ini membuat saya lupa, di depan saya sudah ada bang Ajie dan bang Didit yang sudah lebih dulu tiba di lokasi. Bergantian saya menjabat tangan keduanya sembari memperkenalkan diri. Bang Didit tiba-tiba nyeletuk, " dalam bayangan saya, hikmah itu emak-emak yang badannya lebar". Semua tertawa menyadari bandan saya tak selebar yang dibayangkan bang Didit.
.

Ka Asmak langsung menggeret saya ke stand Nasi Puyung. Tapi, saya lebih suka melipir ke stand popcorn🤭. Awalnya berharap dapat popcorn asin, ternyata hanya ada rasa karamel yang semanis hidup saya. Tak lupa, kami memesan jus jeruk untuk minuman bersama. Kami memilih untuk duduk di karpet dibandingkan di kursi, agar lebih leluasa tiduran dan duduk bersila. Saya tiduran sambil menonton babang penyanyi memainkan gitar akustiknya. Band Ajie datang membawa Wedang, dan Bang Didit membawa Nasi Liwet. Ada juga Satai Usus dan Telur Puyuh. Satu persatu kami icip makanan yang sudah terkumpul di tengah-tengah kami. Menu yang belum sempat saya coba adalah Bakso.

Setelah makan, masing-masing dari kami memilih menu favorit. Minuman favorit kami jatuh pada Wedang , si hangat yang sangat cocok untuk suhu Lombok di bulan Juli. Dinginnya cuaca di Lombok yang terkadang bisa mencapai 20 derajat Celcius membuat kami butuh minuman jenis ini.  Kehangatan wedang menambah hangatnya meet up kami malam itu. Sedangkan untuk makanan, pilihan kami beda-beda. Ka asmak memilih Nasi Balap, Bang didit dengan Nasi Liwet, dan saya yang bunda Muslifa sebut sebagai anak bioskop banget memilih Popcorn.

Harga makan dan minuman di sini bervariasi, dari satu dolar hingga tiga dolar.
Terbilang murah untuk tempat yang berkonsep taman dengan makanan street food, tapi jauh dari riuhnya kendaraan dan polusi. Untuk mendapatkan dolar ini, anda bisa menukarkannya dengan uang rupiah di stand khusus penukaran. Satu dolar seharga sepuluh ribu saja. Dolar ini khusus untuk berbelanja di area pasar malam. Jika dolar anda tak habis anda belanjakan malam itu, anda bisa menukarnya kembali dengan uang asli, atau kembali berbelanja pada jawal pasar malam berikutnya.

Pasar Malam Aruna ini hanya ada empat kali dalam semingggu, yakni hari Senin, Rabu, Jum'at, dan Minggu. Dibuka dari jam 19.00-21.00. Tentu, jadwal pasar malam ini ramah bagi muda-mudi yang ingin hang out tapi masih terjerat jam malam. "You have to go home before 10 o'clock!" Mom says.

Sabtu, 18 Mei 2019

Usaha terasi dan pemberdayaan perempuan

Terasi atau dalam bahasa Sasak disebut sebagai acan merupakan salah satu jenis bumbu yang terbuat dari ikan atau udang yang difermentasi. Warna dari bumbu yang satu ini bervariasi mulai dari hitam, coklat dan merah gelap. Terasi ini memiliki rasa dan aroma yang sangat tajam. Di Indonesia, bumbu ini digunakan untuk membuat sambal terasi. Selain itu, terasi juga digunakan sebagai penyedap dalam berbagai makanan tradisional Indonesia. Tak hanya ditemukan di Indonesia, bumbu ini juga dapat ditemukan di negara Asia Tenggara lainnya dan Tiongkok selatan

Untuk membuat terasi terbaik, pekerja di desa Jerowaru membutuhkan bahan baku terbaik. Mereka menggunakan udang rebon pilihan. Selain itu, pembuatannya harus melalui proses yg higienis. Pembuat terasi dari "Jero Acan", Desa Jerowaru, Lombok Timur, memiliki standar dalam proses pembuatan terasi, seperti menggunakan sarung tangan dan masker.

Hal yang membuat terasi JeroAcan berbeda dari terasi lainnya terletak pada proses pengeringan. Terasi ini dijemur di rumah penjemuran yang tertutup, hal ini membuat produk JeroAcan tidak terkontaminasi oleh benda-benda asing yg tersebar melalui udara terbuka. Tentu saja, ini membuat terasi JeroAcan gurih, bersih, dan higienis.


Salah satu perempuan belia yang kami temui merupakan salah satu anak pekerja di JeroAcan. Dia kuliah di salah satu universitas di Mataram. Dia mengatakan usaha terasi ini membuatnya mampu belajar sampai perguruan tinggi. Dia membayar biaya kuliahnya dengan uang yg dihasilkan dari usaha ini. Ini membuktikan bahwa usaha ini tak hanya memberdayakan pekerjanya, tapi juga anak-anak mereka.


Rabu, 03 April 2019

Dapat untung dari lestarinya alam

Enam orang wanita tengah sibuk dengan pisau kecilnya. Benda tajam itu dengan cekatan digunakan untuk menyisir setiap ruas tubuh kepiting rajungan, kepiting dengan ukuran kecil. Setiap harinya, sekitar sepuluh orang perempuan bekerja di PT ini untuk memilah daging kepiting rajungan. Dalam dua hari, mereka bisa menguliti sekiar 100 Kg kepiting rajungan untuk diambil dangingnya.

Salah satu pekerja di PT tersebut mengungkapkan dari 100 Kg kepiting rajungan, hanya sekitar 23 Kg yang berisi  daging kepiting. “Dari 1 kwintal, paling cuma 23 Kg isinya. Tergantung bagus atau gaknya rajungan itu” Ujar perempuan yang sudah bekerja untuk PT ini sejak tahun 2000. Saat ditanya terkait penggunaan cangkang kepiting, mereka serempak mengatakan “eee, biasanya dibuang, kalo ada yang pesen baru kita bungkus, bisa jadi makanan ayam”.

Di  PT inilah Harniati, ketua kelompok usaha perempuan dusun Keranji, mengambil cangkang kepiting untuk bahan baku kerupuk. Harniati mengatakan, Ia bisa mendapatkan satu karung cangkang kepiting hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp. 25.000. “ kan dulunya dibuang jadi sampah, ee sekarang kita bisa olah. Sekarung itu kita bayar 25 ribu” terangnya.
Upaya kelompok usaha perempuan ini mampu merubah limbah cangkang kepiting menjadi komoditas yang memiliki nilai jual. Ini tak hanya membawa keuntungan bagi kelompok usahanya, akan tetapi juga bagi penyedia bahan baku, PT Sinar Selatan.
Selain itu, seperti yang diungkapkan para pekerja di PT tersebut, dari 100 Kg rajungan hanya 23 Kg daging kepiting yang bisa diambil. Sehingga, bisa diperkirakan kurang lebih 77 Kg yang berupa kulit kepiting menjadi limbah. Pemanfaatan cangkang kepiting menjadi olahan kerupuk mampu mengurangi limbah cangkang kepiting, yang tentunya baik untuk lingkungan. 

Senin, 04 Maret 2019

Berkah dari inovasi kerupuk cangkang kepiting

Aroma bawang putih tercium dari teras ibu Harniati. Ia dan beberapa perempuan lainnya tengah berjibaku dengan bahan-bahan untuk membuat kerupuk. Ada yang tengah sibuk membuat adonan sembari menunggu adonan yang sedang dikukus mateng. Ada pula yang sibuk memotong adonan yang telah matang. Sedangkan kerupuk setengah kering masih terjemur dibawah terik matahari.

Seperti inilah aktivitas sehari-hari kelompok usaha perempuan di dusun Keranji, desa Paremas. Kelompok usaha ini terdiri dari enam orang, yang diketuai oleh ibu Harniati. Usaha yang menjadikan limbah cangkang kepiting sebagai bahan dasar ini baru berlangsung selama empat bulan, namun telah terasa dampaknya bagi perempuan-perempuan yang tergabung dalam kelompok usaha ini.
“ Senag sekali rasa ada usaha seperti ini” ujar Siti Faizah. Ibu dua anak juga menambahkan, dengan adanya usaha seperti kerupuk cangka kepiting ini perempuan-perempuan di dusun tersebut memiliki kegiatan tambahan selain mengurus rumah. Senada dengan siti, Raihan juga merasa terbantu secara financial dengan adanya kegiatan seperti ini “adalah kita dapat tambahan untuk belanja” ujarnya.

Beberapa anggota kelompk usaha ini memang menggantungkan hidup dari kiriman suami yang tengah bekerja TKI. Rumini, ibu dua anak yang masih memiliki balita ini sedang ditinggal suami ke Malaysia. Rumini mengaku usaha kerupuk cangkang kepting ini dapat membantunya memenuhi kebutuhannya.
Menurut Harniatin, beberapa perempuan di dusun tersebut juga mulai tertarik untuk belanjar cara pembuatan kerupuk cangkang kepiting ini “ sumiati, angota yang saya tunjuk jadi sekertaris kemarin berniat untuk membuat kelompok baru, soalnya banyak yang minta diajarin cara buat kerupuk ini”.

Ketua kelompok usaha ini juga mengungkapkan, selain gaji harian yang ia bagi ke anggota-anggotanya, keuntungan usaha yang ia simpan juga biasa ia pinjamkan ketika ada yang membutuhkan, “ kadangan ee saya pinjamkan ke anggota, tapi ada juga selain anggota yang minjem” tandasnya.


Selasa, 25 Desember 2018

What is morality?

By all his crazy project, people think he's crazy
I really familiar with the word "crazy" especially when the word refers to my dad. I keep wonder how could he keep doing good thing to those people who think he's crazy. Don't he feel upset coz nobody say thanks to whatever he did?
I ask him" why are we sacrifice our land for them and build this dike? They said that u're crazy, they never apreciate what u did"
he reply" there are two kind or people, those who satisfy with their own achievement without thinking about other people, and those who never satistfy without sharing with other. Which one do u choose?"
I was thinking "i choose the second, yaaeh sometimes i also realize that we fight for some people's right while those people don't care we fight for the"
he said " then, do i live for their comment or they live from my craziness? "
I took few second to think " yeah, u make something for them, it needs service and material and economic circle is alive".
he said " yeah, so i told you. Kindness is not working in that way u said. U don't need their apreciation to you, but here(pointed to his chest) u can feel it. That's what make us alive in the real way " i said " does it what people call as morality? When we do something beyond our own responsibility''
 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design