Jumat, 20 Maret 2020

Bolehkah saya berterima kasih pada corona?

                 Pic. Source: Frantiśek Czanner

Apa salah kalau saya berfikir Covid-19 ini baik? Baik bagi bumi yang kelebihan beban. Baik bagi kita untuk rebahan, eh bukan. Baik bagi manusia untuk mengambil jeda, lalu merenungi kembali semua perbuatannya. Mempertanyakah kembali apakah kita ini khalifah, atau hanya mahluk pembawa masalah?

Terlepas dari semua teori konspirasi yang menganggap peristiwa ini sebagai perang dengan senjata "biologi". Juga asumsi bahwa ini merupakan cara untuk mengontrol jumlah populasi di muka bumi. Namun saya percaya, ada hikmah dibalik wabah. 

Wajah asli negara dan warga

Hikmahnya? Kita bisa melihat wajah asli negara kita. Betapa ambisi pembangunan kita lebih besar pasak dari tiangnya. Negara bergantung pada import murah, ketika muncul wabah, ekonomi langsung goyah. Kita juga sadar bahwa bergantung pada hutang, bukan cara yang baik untuk bertahan.

Pemangku kebijakan memang tidak pernah benar-benar siap-siaga. Mereka lebih suka denial dan jumawa, ketimbang bersiap-siap untuk segala kemungkinan yang ada. Padahal ada jeda yang cukup lama, ketika Corona muncul pertama kalinya di Cina, kemudian masuk ke Indonesia. Saya tak habis fikir, kenapa kita tak perna benar-benar belajar dari sejarah. Beberapa tahun silam kita telah mampu mengatasi penyakit yang juga mewabah.

Mungkin elit politik kita tak pernah benar-benar empati, dalam bencana sekalipun, ada saja diskursus yang dibangun untuk menarik simpati. Ah iya, pemilihan sebentar lagi. Lalu sosial media kita dipenuhi caci-maki. Kita bisa menilai, negara ini tak punya banyak figur pemimpin dengan nalar yang memadai. 

Pun kita tau, rakyat macam apa yang menghasilkan elit politik seperti itu. 

Klaim kita sebagai bangsa dengan budaya gotong-royong, nyatanya itu hanya tinggal semboyan. Lihat saja bagaimana orang-orang ber-uang melakukan panic buying, sedangkan saudara kita yang lain pontang-panting. 

Tamparan dari alam

Ya, alam sedang menampar manusia.
Krisis ini menujukkan banyak hal pada kita. Dibandikan kekuatan alam, manusia tidak ada apa-apanya.

Corona mengajarkan bahwa kita mampu bertahan dengan hidup sederhana, apa adanya. Tanpa produksi berlebih dan mengambil secukupnya saja. Bahwa bumi harus ditanami tumbuhan, bukan bangunan untuk bermegah-megahan. Lagipula, apa yang manusia hadapi karena Corona hari ini, tak sepadan dengan apa yang telah bumi alami. Hewa-hewan kita buru dan tembaki. Manusia mengeksploitasi alam tiada habisnya. Sebut saja polusi udara, libah dan plastik yang tak terhitung jumlahnya, hutan ditebang di mana-mana, serta segala aktivitas yang merusaknya untuk memuaskan hasrat manusia.

Karena Corona, manusia harus mengisolasi diri. Lalu alam memiliki kesempatan untuk melakukan self recovery. Tentu saja ini terjadi hanya ketika ibu pertiwi lengang dari aktivitas kita. Ada lumba-lumba yang mulai bermunculan di salah satu kanal yang paling sibuk di Italia. Di Wuhan-Cina, langit yang tadinya berwarna pekat karena polusi, kini mulai berseri kembali. Kicauan burung yang biasanya kalah oleh kendaraan dan pabrik yang menderu, kini kembali berbunyi dengan merdu dan syahdu. 

Bumi kita mampu bernafas dengan lega, karena pesawat tak lagi wara-wiri seperti biasanya. Alam membaik tanpa aktivitas kita. Di Cina, Italia, dan banyak tempat lainnya.

Solidaritas yang utama

Seketika roda perekonomian melambat, investasi pun ikut terhambat. Mata kita dibuka, bahwa sistem kapitalisme bukan yang utama. Dalam situasi krisis, solidaritaslah yang membuat kita kuat. Sekat-sekat antar kelas, suku, ras, dan agama harusnya sudah amblas.

Tengok bagaimana negara di luar sana saling bahu-membahu, Iran meminta bantuan tim medis dari Cina, begitu juga Italia. Tak hanya metode tapi juga alat yang mereka bagi, guna menanggulangi virus ini. 

Saudara sebangsa kita juga harusnya bisa saling menjaga, bukan hanyak teriak saling mencerca. Yang berada seyogyanya mengulurkan tangan untuk mereka yang tak berpunya. Memperkuat tali persaudaraan untuk memulihkan keadaan. Bukan malah mengambil keuntungan dalam kesempitan.

Terima kasih Corona

Momen seperti ini mengajarkan kita bahwa apa yang kita anggap mapan, bisa kembali kita pertanyakan. Memikirkan kembali tujuan penciptaan, juga keberADAan. Mungkin ego kita akhir-akhir ini berlebihan dan keterlaluan. Hal itu mengakibatkan banyaknya penderitaan. Penderitaan bagi sesama manusia, flora, juga fauna.

Tanpa mengurangi rasa empati saya pada jiwa-jiwa luar biasa, yang sudah lebih dulu berpindah ke alam abadi di seberang sana.  Mereka yang telah terbebas dari derita di dunia. Juga tanpa mengurangi ta'zim saya pada tim medis dan peneliti yang berjuang untuk menyelamatkan nyawa-nyawa. 

Tak lupa, teriring doa untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan. Serta semua negara yang perekonomiannya merosot ke level yang belum pernah dibayangkan, semoga lekas dipulihkan.

Tetap saja saya ingin bertanya "bolehkah saya berterima kasih pada Corona?"

Mataram, 18 Maret 2020.
10.44 Wita

Rabu, 11 Maret 2020

"Selamat Pagi" dari Mareje

Alarm berdering berkali-kali. Inginku menarik selimut dan tidur lagi. Kalau saja hari ini saya tidak ada janji. Yapss, pagi ini saya dan suami berjanji dengan kawan-kawan mengujungi sebuah bukit di desa Mareje. Katanya sih tempatnya lumayan kece.

Pemandangan yang ditawarkan Mareje adalah area sawah dengan konsep terasering. Tak butuh waktu lama, usai subuhan kami langsung tancap gas. Deru suara X-ride memecah keheningan di jalan komplek perumahan. Masih terlihat embun yang hinggap di dedaunan saat kami lewat.

Jarak Mareje dari Mataram sekitar 50 menit.
Perjalan yang harus ditempuh membuat rem dan gas lumayan mederit. Setelah melewati jalan raya lembar, medan yang harus dilalui memang agak berkelok-kelok. Ada turunan, juga tanjakan tajam yang meharuskan gas motor tetap poll. 

Bisa dibilang, Mareje ini desa di dataran tinggi. Karena jarak yang lumayan jauh dari Mataram membuat saya berfikir desa ini termasuk wilayah Sekotong, eh ternyata masih termasuk Kecamatan Lembar. Sebagian besar wilayah ini adalah area persawahan dan perkebunan. Kami menemukan rumah-rumah warga, namun jarak atar rumah cukup renggang. Ada juga sekolah dan rumah ibadah. Jangan berharap menemukan toko-toko besar ya. 

"Selamat datang di desa Mareje" tulisan yang membuat saya mulai sumringah. Sejak tadi nafas saya sudah terengah-engah. Agak tegang karena sebelumnya saya pernah punya pengalaman yang tidak mengenakkan.  Pernah suatu hari, kami melewati medan seperti ini dengan motor yang kami kendarai saat ini. Kondisi motor yg kurang fit saat itu membuat saya harus turun dan berjalan kaki setiap melewati tanjakan.

Memasuki kawasan desa Mareje, kami tidak langsung disuguhkan pemandangan yang membuat kami harus berdecak. Seperti alur cerita dalam karya fiksi, kami disuguhkan intro dulu, baru memasuki puncak.

Sampai di lokasi, pastinya kami bahagia sekali. Ini sih bukan lumayan kece lagi,
pemandanganya lebih cantik dari rengganis. Buat saya sinar mentarinya juga lebih manis dari manggis. Kalo perginya bareng pasangan, sunrise di sini terasa jauh lebih romantis.
Barisan sawahnya sangat hijau. Padi dan jagung saja bisa terlihat memukau.
Semuanya tersusun begitu rapi. Yang tak kalah penting, udara di Mareje ini segar sekali. Tapi ada satu hal yang kami lewati, momen munculnya mentari pagi tadi.

Tapi, tak masalah lah. Disuguhkan keindahan semacam ini saja sudah bikin enak suasana hati. Ketenangan ini jadi bekal untuk memulai hari. I feel so bless, that I can release this stress.

Perjalanan di pagi hari, terkadang menyuguhkan kisah yang asik untuk dibagi.
Anda bisa menikmati cerita ini dengan segelas kopi, boleh juga ditemani rokok dan sesobek roti.

Oia, ada hal menarik selain pemandangan alam dalam perjalan pagi ini. Yang tak luput dari pengamatan saya saat di perjalanan tadi adalah perjuangan ibu-ibu yang duduk di bak mobil sembari menahan kantuk.  Mobil pick up  yang mereka tumpangi berisi sayur-mayur itu terus melaju, dari kejauhan saya melihat mereka sesekali terangguk-angguk.

Ada juga bocah-bocah yang berjejer di pinggir jalan, dengan seragam lengkap anak  sekolahan. Mereka berjalan sebari bercengkrama dengan kawan. Sepertinya, jarak rumah dan sekolah yang lumayan renggang, tak membuat mereka patah arang.

Starter pack untuk hunting foto ke Mareje:
1. Outfit dengan warna cerah
2. Fotografer handal dan kamera yang memadai.
3. Daya dan kuota HP yang full, just in case kalau butuh google maps. #sinyal Telk*omsel lumayan kenceng dibandingkan provider lain.
4. Kendaran yang fit dan bensi yang full.
5. Tumbler berisi kopi atau air mineral.
6. Sarapan setelah menikmati sunrise.

Selasa, 10 Maret 2020

"Kapan Punya Anak?" Pertanyaan yang tak berkesudahan


Ada banyak hal yang saya refleksikan dari pertanyaan “kapan punya anak?”. Pertama, jika suatu hari saya punya anak, lalu anak saya bertanya “Apa alasan ibu memutuskan untuk melahirkan saya?”. Lantas kira-kira apa jawaban yang proper atas pertanyaan tersebut?. Bagi saya, semua hal yang saya lakukan harus memiliki alasan yang jelas. Setiap pilihan yang diambil harus melalui pertimbangan yang matang.

Dulu sekali, ketika saya naik ke kelas 2 MTS. Saya selalu bertanya “Siapa Saya?”. Saya sadar, saya bukan sekedar tangan yang bergerak, mata yang melihat, atau tubuh yang melenggok kesana kemari. Saya adalah saya, tapi siapa saya? Kenapa saya ada di sini?.

Ketika masuk MA/SMA, saya mencoba mengenali diri dengan menelusuri apa yang saya sukai. Mungkin saya dapat menjawab pertanyaan “siapa saya” dengan mengenali jati diri, keinginan, tujuan, dan hal yang berkaitan dengan keberadaan saya. Saya jautuh pada kesimpulan bahwa saya suka menulis, terutama menulis diary. Saya juga suka membaca novel. Temanya tentu tidak jauh dari keberADAan saya. Saat itu saya juga membaca buku psikologi, dan personality. Setelah menulusuri kesemuanya, saya belum juga puas.

Awal masuk kuliah, saya mulai membaca beberapa sumber bacaan terkait agama dan kepercayaan. Tak hanya tentang agama yang tertera di KTP saya, tapi juga selain itu. Saya membaca sedikit tentang Hindu, berdiskusi dengan teman Katolik, atau membaca artikel mereka yang mengaku diri ateis. Saya menemukan diri saya mempertanyakan kembali kepercayaan yang saya anut saat itu. “Kenapa saya tidak boleh menyembah tuhan ini dengan semua cara?” jika pencipta yang dimaksud semua agama itu adalah merujuk pada dzat yang sama. Pencipta itu diberi nama yang berbeda-beda oleh manusia, sehingga pada praktiknya, tata cara penyembahanpun berbeda-beda.

Kembali ke keyakinan saya, kami punya tata cara tersendiri untuk berdoa, ada hukum-hukum yang mengatur cara kami hidup, berprilaku, dan lain sebagainya. Cara berdoa inilah yang membedakan agama yang satu dan lainnya. Sehingga cara ibadah agama yang satu tidak dapat diterima oleh agama lainnya. 

Di tengah kebimbangan saya berfikir, "Life is the matter of choices. Once you decide to take it, you have to be responsible of the choice that you have chosen". Berarti, ketika saya memilih untuk beragama islam, saya harus melakukan setiap ajarannya dengan taat, apapun konsekuensinya.

Dalam sebuah sumber, orang yang mengaku atheis menganggap setiap agama memiliki kemungkinan yang sama untuk salah. Mungkin begitu. Karena kita belum mengetahui apa yang akan terjadi di alam berikutanya, setelah kehidupan dunia. Entah agama mana yang akan benar, itu tergantung apa yang kita yakini. Setiap agama memiliki klaim masing-masing perihal ini. Melalui kitab masing-masing, setiap agama punya cerita akan seperti apa kehidupan setelah kematian. Di sini, keimanan terhadap kitab suci itu dipertaruhkan. Lalu saya sampai pada kesimpulan "bagaimana mungkin saya yang kecil ini mampu memikirkan hal yang tak definisikan seperti itu? Apa logika saya mampu mejangkau Dia yang Maha itu?".

Dalam keputuasaan mencari jati diri yang kemudian merebet pada keyakinan itu, saya memutuskan untuk tetap memilih islam, mempelajarinya kembali. “I'll take all the risk of this choice” tekad saya. Bertanggungjawab atas pilihan adalah hal yang saya pelajari dari pengalaman hidup yang singkat ini.

Lalu apa kaitanya dengan memiliki anak?apakah alasan saya memiliki anak? Itu masih saya pertimbangkan. Saya harus selesai dengan pertanyaan ini dulu. Dalam pikiran saya, saya tidak ingin menjadi egois, memaksa anak untuk hidup di dunia yang bagi saya cukup "Cruel". Bergulat dengan kehidupan yang entah mereka akan sukuri atau tidak.  Meskipun saya menyadari, penciptaan manusia dalam agama saya tujuannya adalah untuk menyembah sang Pencipta, serta menjadi Khalifah di muka bumi. 

Bagi saya, alasan memiliki anak tidak sesimple “ agar ada yang merawat di masa tua, agar ada yang mengingat kita dalam doa ketika sudah tiada, agar kita merasa memiliki kebahagiaan yang lengkap, agar kita tidak dianggap mandul, agar kita diterima di kehidupan sosial”. Alasan-alasan ini saya fikir egois, karena masih berorientasi pada diri sendiri. Kata orang-orang cinta pada anak itu “uncoditional”, tanpa syarat. Lah, sebelum ada saja sudah banyak syarat begitu.

Belum lagi trend orangtua yang memaksa anak-anaknya untuk les dari umur 4 tahu, dari les baca, tulis, hitung, nari, musik, dengan harapan mereka akan menjadi anak yang cerdas tanpa pernah bertanya keinginan si Anak. Sejak kecil anak-anak dipaksanakn untuk begini dan begitu, tanpa diberi kebebasan untuk memilih. Sudah dilahirkan atas ego orang tua, setelah lahir malah dipaksakan untuk memilih jalan yang sudah ditetapkan oleh orang tua. Duhh!! well ya, memang ini diharapkan untuk kebaikan mereka, tapi apa harus seperti itu?

Ditambah dengan kecemasan, jika saya melahirkan anak di tahun-tahun ini, itu berarti saya melepaskan si anak untuk bertarung di dalam ring, yang memaksa manusia tidak hanya bertarung sesama manusia, tapi kecerdasan buatan yang kecerdasannya berkali-kali lipat dari manusia. So scary!!!!

Lagi pula, bukankah prestasi hari ini diukur dengan cara yg beda?. Mungkin zaman dahulu, melahirkan anak banyak dan selamat sampai dewasa merupakan sebuah prestasi. Mengingat kehidupan kala itu masih terbilang sulit, dunia medis dan teknologi tak semaju hari ini. Mungkin angka kematian bayi saat itu cukup tinggi juga. Jadi pertanyaan warisan "kapan punya anak?" Bisa saja tak lagi relevan. Karena hal itu bukan lagi dipandang sebagai prestasi (bagi sebagian orang).

Hari ini, prestasi bisa saja didefinisikan sebagai karir yang mapan, kepemilikan atas properti, lahan luas, rumah mentereng, dan hal-hal lainnya. Atau prestasi dalam benak saya yang berarti bermanfaat bagi orang lain. So, bisakah kita berhenti mengurusi kehidupan orang lain dengan bertanya "kapan punya anak?".


Kamis, 20 Februari 2020

WNI Eks-ISIS; Apakah Keinginan untuk Hidup Layak Merupakan Dosa?

Bebeapa waktu lalu saya berdebat cukup panjang sehabis baca berita terkait pemulangan WNI eks-ISIS. Pemerintah resmi memutuskan untuk tidak memulangkan mereka. Saya termasuk orang yang pro untuk tidak memulangkan mereka. Mungkin ini akibat dari membaca berita di media yang lebih banyak memuat tentang pemulangan Eks-WNI yang dianggap sebagai ancaman. Atau pemberitaan yang berkutat pada hal-hal yang bebau simbol, seperti pasport yang dibakar, bendera, dan lainnya. Di antara sekian banyak pemberitaan di media, ada dua media yang memiliki sudut pandangan yang berbeda. Ada BBC Indonesia dengan video wawancaranya bersama seorang anak perempuan yang diikutsertkana ayahnya ke Suriah. Ada juga berita dari Tirto.id yang mengulas lebih dalam perihal pemulangan ISIS.

Saya yang awalnya kekeh pada pendirian untuk tidak memulangkan mereka karena menganggap bahwa hal ini adalah konsekuensi dari pilihan mereka bergabung dengan ISIS. Lalu saya sadar, asupan bacaan saya akhir-akhir ini lebih banyak dari media "Katanya", yang hanya memadanga isu ini hanya sebatas hitam-putih ; anatara dipulangkan vs tidak dipulangkan.  Media-media ini hanya megutip mereka yang pro atau kontra, hanya sebatas itu. Ini yang membuat saya berasumsi bahwa pemulangan mereka hanya akan menjadi beban, " Indonesia masih memiliki ratusan juta rakyat untuk diberi makan, mengikhlaskan jumlah yang ratusan ini bagi saya bukan hal yang besar. Toh, itu juga pilihan mereka bukan?" demikian saya bergumam.

Namun perdebatan singkat dengan partner saya membuat saya berfikir lebih dalam. Ia menganggap saya menggunakan standar ganda dalam melihat kasus ini. "bagaimana bisa kau berempati dengan mereka yang di Papua, Uigur, Yaman, dan kaum tertindas lainnya, tapi tidak dengan mereka ini (Eks-WNI). Saya sempat mengelak, "apa yang terjadi pada WNI eks-ISIS ini berbeda, mereka melakukannya atas kehendak sendiri. Orang-orang di Papua atau Uigur kan melakukan perlawanan atas penindasan, lah mereka?" kata saya panjang lebar malam itu. obrolan kami berlanjut sembari menunggu lampu merah berubah warna.

Sesampai saya di rumah, saya memikirkan kembali apa yang saya ucapkan dalam perjalanan tadi. Saya yang akhir-akhir ini sedang belajar terkait hak-hak anak mulai merenungkan kembali perihal kasus ini. Apakah ini hanya perihal bendera dan passport? Memang, hak dasar seseorang setelah ia dilahirkan adalah identitas. Tanpa identitas ini, mereka tidak akan mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan hak-hak lainnya.

Bagaimana bisa, saya yang menolak terjebak dalam nasionalisme banal (memandang nasionalisme sebagai simbol-simbol) malah terbawa arus dalam narasi media yang hanya menyuguhkan informasi hitam-putih, padahal isu ini cukup kompleks.

Sebutlah anak yang diboyong ayahnya untuk bergabung dengan ISIS tadi, Nada Fedulla yang malang. Dia sedang asik-asiknya belajar, dan bercita-cita ingin menjadi dokter. Malah harus putus sekolah untuk mengikuti perintah sang ayah. Melihat wawancaranya dengan Quentin Sommerville membuat saya bertanya-tanya, apakah pola relasi dalam keluarga Nada ini adalah relasi yang setara?

Saya membayangkan relasi dalam keluarga ini cukup timpang, ada anak-anak dan istri dalam posisi subordinat, dan si ayah memiliki otoritas untuk menentukan apa yang terbaik untuk keluarganya. Saya melihat pola relasi ini seperti hubungan negara dengan warganya, apapun yang negara katakan harus dipatuhi oleh warga, tidak peduli jika itu harus membuat warga kehilangan mata pencahariannya. Jika negara mengatakan, "saya akan membangun bandara" makan warga harus tunduk, meskipun itu berarti warga akan kehilangan lahan pertanian untuk menopang hidupnya.

Nada Fedulla Tak Semujur Nur Dhania


Foto bersama Nur Dhania dalam acara ASEAN Youth Ambassador for Peace

Tahun lalu, dalam acara ASEAN Youth Ambassador for Peace yang diselenggarakan BNPT, saya bertemu dengan Nur Dhania. Dhania memaparkan pengalamannya saat bergabung dengan ISIS pada tahun 2017 silam, ia kemudian berhasil pualng ke Tanah Air pada tahun berikutnya. Kisah Dhania ini kemudian diangkat menjadi sebuah Film yang bertajuk Seeking The Imam. Dahnia kemudian banyak diundang untuk memberikan pemaparan tentang kisahnya.

Berbeda dengan Nada, Dhania memiliki posisi tawar dalam keluarganya. Ialah yang berperan membujuk orangtuanya untuk pindah ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Bagaimana dengan Nada? Gadis ini tak semujur Dhania. Meskipun sama-sama pernah bergabung dengan ISIS, Nada tak bisa kembali ke Tanah Air setelah pemerintah memutuskan untuk tidak memulangkan WNI eks-ISIS.

Framing media
Kita terus-menerus diberikan pilihan oleh media, memulangkan atau tidak memulangkan. Seolah-olah tak ada opsi lain. Kita dipaksa untuk memilih, jika kita sepakat dengan pemulangan eks ISIS tadi, maka kita akan dicap sebagai pendukung ISIS. Sebaliknya, ketika kita menolak berarti kita mejaga Republik ini dari ancaman terorisme. Begitulah narasi yang kebanyak dimuat media. selain itu kita terjebak pada Nasionalisme simbol-simbol, pembakaran passport, dan lainnya.\

Tapi ada hal yang tidak banyak dimuat media, seperti "apa yang akan terjadi ketika mereka kita biarkan 600an orang ini stateless?" Mereka kehilangan hak identitas, hal untuk dilindungi, akses pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Kita membiarkan mereka terobang ambing dalam ketidak pastian, seraya bergumam "toh itu pilihanmu".

Apakah mereka memilih bergabung ke ISIS semata-mata karena alasan agama? mungkin ada sebagian dari propaganda ISIS yang iming-imingi mereka sebuah negara yang makmur, terbebas dari kesenjangan sosial, negara tanpa pemerintahan yang korup, hukum yang adil, semacam baldatun tayyibatun warabbul gafur. Bukankah alasan-alsan di atas seharusnya membuat negara berkaca kembali?

Saya melihat fenomena ini seperti orang yang teratrik investasi bodong karena ditawarkan untung dalam jumlah yang lumayan, ditengah ketidak berdayaan. Lantas siapa yang bisa disalahkan? Korban yang kurang melek sehingga membuatnya tertipu, serta keadaannya yang mungkin serba kekurangan. Bukankah ini sebuah usaha untuk merubah hidup?

Kisah Keberhasilan Deradikalisasi BNPT

Cukup lama saya memantau berita yang bersliweran, tapi tidak jua menemukan berita tentang keberhasilan BNPT dalam menderadikalisasi eks-teroris dan eks-ISIS. Sepertinya narasi ini tak banyak diberitakan. Kita semua larut dalam judgment dan pesimisme.

Bukankah Indonesia punya pengalaman menangani WNI eks ISIS? ya, tentu saja ada. Tirto.id memuat berita dengan tajuk "Mengapa 600 WNI Eks ISIS Perlu Dipulangkan dan Diadili di Indonesia". Dalam berita tersebut, keberhasilan Indonesia menangani WNI eks-ISIS, salah satunya mantan direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Badan Pengusahaan Batam, Dwi Djoko Wiwoho pada 2018 lalu. Djoko dan keluarganya menghilang sejak Agustus 2015. Belakangan diketahui Djoko telah bergabung dengan ISIS dan beroperasi di Irak. Akhirnya Djoko dan keluarganya berhasil dipulangkan ke Indonesia, tapi Djoko mesti mendekam di penjara setelah divonis 3,5 tahun penjara. Sementara anggota keluarga lainnya menjalani program deradikalisasi beberapa minggu sampai akhirnya dilepaskan.

Elit-elit yang Judgmental

Media mengutip beberapa pernyataan elit politik, pimpinan ormas, pakar hukum, dan lainnya. Namun, ada pernyataan pernyataan elit-elit kita di media yang cenderung judgmental, bahkan menyamakan WNI eks-ISIS ini dengan pasien virus corona. Pernyataan ini seolah-olah menganggap keduanya adalah penyakit yang satu-satunya jalan untuk menghindar darinya adalah menjauhinya, bukan menyembuhkannya. Apakah seperti wajah kita? Tak butuh lama untuk melayangkan stigma. Padahal perkara-peraka seperti ini butuh pendekatan yang lebih humanis. Apakah keinginan untuk bertahan hidup, dan hidup layak adalah sebuah dosa???

Kamis, 16 Januari 2020

Dilemma KPR Yang Tak Jua ACC


"Emang susah jadi orang miskin," celetuknya seusai melihat layar handphone.
Reaksi suamiku yang masih menunggu kabar dari salah satu Bank untuk pinjaman KPR.

Satu tahun menikah, kami memang masih mengontrak. Saya si tidak masalah mengontrak atau kos, karena sudah terbiasa nomaden. Tapi kalau dipikir-pikir, biaya sewa rumah tak jauh beda dengan biaya angsuran rumah subsidi. Beberapa waktu lalu, kami menengok beberapa perumahan subsidi. Tapi entah karena kendala lokasi atau suasana membuat kami enggan melanjutkan ke proses bank. 

Kali ini kami mengajukan pinjaman ke Bank untuk mengambil sebuah rumah. Rumah tersebut terletak di tengah-tangah sawah, rumah ini dibangun di atas tanah kavlingan seluas satu are. Namun, karena SK kerja saya yang tak kunjung juga diterbitkan, alhasil kami agak kewalahan untuk mengajukan pinjaman. 

Belum lama ini, kami juga sudah membooking rumah komersil di lokasi yang cukup asri. Namun, mejelang hari H penyerahan DP, kami berbuah pikiran setelah melihat cicilan bulanannya. Belum lagi uang DP yang minta developer belum terkumpul sampai batas waktu yang ditentukan. Alhasil, uang booking itu hangus, karena sudah lewat tempo.

Sebenarnya, kami memiliki lahan yang sudah dibangun, meskipun hanya berupa fondasi. Tapi, karena alasan akses jalan yang lumayan sulit, jadi kami menunda pembangunanya. Akses jalan ini kemudian berimbas pada biaya angkut material dari jalan utama ke lokasi pembangunan, ini memakan biaya tak kalah banyak dari harga materialnya.

Ada ada seorang kawan yang nenawarkan kami rumah. Istri kawan ini kebetulan bekerja di developer perumaha yang ia tawarkan. Lokasinya cukup strategis, sekitar 10-15 menit dari pusat kota. Lingkunganya terbilang cukup asri, dikelilingi area persawahan. Agak sedih sebenarnya melihat bangunan di tengah area persawahan. Ini menjadi opsi ke-2 kami, jika pengajuan pinjaman ke bank tak jua ACC. 

Akhir-akhir ini pembangunan perumahan di sekitar daerah Lingkar, Kota Mataram , memang cukup massif. Alhasil, wilayah yang dulunya hanya area persawahan yang ditanami padi, jagung, dan kangkung itu berubah jadi kawasan perumahan yang lumayan padat. Perumahan yang satu bersambung dengan yang lainnya. Akses jalan yang luas, juga menyebebkan banyaknya toko dan rumah makan baru bermunculan di sepanjang jalan Lingkar.

Well, mungkin ini karena tetangga kami di perumahan tempat kami mengontrak sekarang teramat sayang pada kami, maka dari itu rencana mengambil rumah sendiri belum jua terealisasi. Mereka selalu bilang, "di sini aja mbaq, jangan pindah". Ucapan ini bisa berarti dua hal, yang pertama mereka mendoakan kami terus mengontrak. Yang ke dua, mereka mendokan kami cepat kaya agar mampu membeli rumah di perumahan yang terbilang mahal ini.😅

Yes, life is dream for the wise, comedy for the rich, game for the fool, and a tragedy for the poor.
If you are poor, then be wise. So this life may be just like a dream🤣.

Minggu, 07 Juli 2019

Pasar malam yang ramah jam malam

Kamis sore lalu, grup WhatsApp(WA) Blogger Lombok tiba-tiba ramai. Bunda muslifa, sebagai kepala suku hendak mengajak beberapa Blogger Lombok untuk ikut di acara Lounching Pasar Malam di Aruna Seggigi. I'm so exited to hear that. Tak butuh waktu lama, I put my name on the list. Kupikir ini kesempatan bagus untuk bertemu kawan-kawan blogger yang hanya saya temui lewat grup WA.

Usai solat magrib, bersama dua orang blogger yang sudah lebih dulu saya kenal, Asmak dan Fadil, kami langsung meluncur ke lokasi acara. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja untuk sampai di hotel Aruna Senggigi. Sampai di area kolam, kami disambut dengan hangatnya suasana pasar malam. Para pekerja yang tak henti-hentinya menebar senyum sembari melayani pesanan para tamu, anak-anak yang tiduran di karpet sambil bermain game dan bercengkrama dengan keluarganya, alunan live music yang menyegarkan di telinga dan hati, serta gerombolan muda-mudi yang asik mengobrol diikui gelak tawa.
Terlampau asik mengamati suasa pasar malam ini membuat saya lupa, di depan saya sudah ada bang Ajie dan bang Didit yang sudah lebih dulu tiba di lokasi. Bergantian saya menjabat tangan keduanya sembari memperkenalkan diri. Bang Didit tiba-tiba nyeletuk, " dalam bayangan saya, hikmah itu emak-emak yang badannya lebar". Semua tertawa menyadari bandan saya tak selebar yang dibayangkan bang Didit.
.

Ka Asmak langsung menggeret saya ke stand Nasi Puyung. Tapi, saya lebih suka melipir ke stand popcorn🤭. Awalnya berharap dapat popcorn asin, ternyata hanya ada rasa karamel yang semanis hidup saya. Tak lupa, kami memesan jus jeruk untuk minuman bersama. Kami memilih untuk duduk di karpet dibandingkan di kursi, agar lebih leluasa tiduran dan duduk bersila. Saya tiduran sambil menonton babang penyanyi memainkan gitar akustiknya. Band Ajie datang membawa Wedang, dan Bang Didit membawa Nasi Liwet. Ada juga Satai Usus dan Telur Puyuh. Satu persatu kami icip makanan yang sudah terkumpul di tengah-tengah kami. Menu yang belum sempat saya coba adalah Bakso.

Setelah makan, masing-masing dari kami memilih menu favorit. Minuman favorit kami jatuh pada Wedang , si hangat yang sangat cocok untuk suhu Lombok di bulan Juli. Dinginnya cuaca di Lombok yang terkadang bisa mencapai 20 derajat Celcius membuat kami butuh minuman jenis ini.  Kehangatan wedang menambah hangatnya meet up kami malam itu. Sedangkan untuk makanan, pilihan kami beda-beda. Ka asmak memilih Nasi Balap, Bang didit dengan Nasi Liwet, dan saya yang bunda Muslifa sebut sebagai anak bioskop banget memilih Popcorn.

Harga makan dan minuman di sini bervariasi, dari satu dolar hingga tiga dolar.
Terbilang murah untuk tempat yang berkonsep taman dengan makanan street food, tapi jauh dari riuhnya kendaraan dan polusi. Untuk mendapatkan dolar ini, anda bisa menukarkannya dengan uang rupiah di stand khusus penukaran. Satu dolar seharga sepuluh ribu saja. Dolar ini khusus untuk berbelanja di area pasar malam. Jika dolar anda tak habis anda belanjakan malam itu, anda bisa menukarnya kembali dengan uang asli, atau kembali berbelanja pada jawal pasar malam berikutnya.

Pasar Malam Aruna ini hanya ada empat kali dalam semingggu, yakni hari Senin, Rabu, Jum'at, dan Minggu. Dibuka dari jam 19.00-21.00. Tentu, jadwal pasar malam ini ramah bagi muda-mudi yang ingin hang out tapi masih terjerat jam malam. "You have to go home before 10 o'clock!" Mom says.

Sabtu, 18 Mei 2019

Usaha terasi dan pemberdayaan perempuan

Terasi atau dalam bahasa Sasak disebut sebagai acan merupakan salah satu jenis bumbu yang terbuat dari ikan atau udang yang difermentasi. Warna dari bumbu yang satu ini bervariasi mulai dari hitam, coklat dan merah gelap. Terasi ini memiliki rasa dan aroma yang sangat tajam. Di Indonesia, bumbu ini digunakan untuk membuat sambal terasi. Selain itu, terasi juga digunakan sebagai penyedap dalam berbagai makanan tradisional Indonesia. Tak hanya ditemukan di Indonesia, bumbu ini juga dapat ditemukan di negara Asia Tenggara lainnya dan Tiongkok selatan

Untuk membuat terasi terbaik, pekerja di desa Jerowaru membutuhkan bahan baku terbaik. Mereka menggunakan udang rebon pilihan. Selain itu, pembuatannya harus melalui proses yg higienis. Pembuat terasi dari "Jero Acan", Desa Jerowaru, Lombok Timur, memiliki standar dalam proses pembuatan terasi, seperti menggunakan sarung tangan dan masker.

Hal yang membuat terasi JeroAcan berbeda dari terasi lainnya terletak pada proses pengeringan. Terasi ini dijemur di rumah penjemuran yang tertutup, hal ini membuat produk JeroAcan tidak terkontaminasi oleh benda-benda asing yg tersebar melalui udara terbuka. Tentu saja, ini membuat terasi JeroAcan gurih, bersih, dan higienis.


Salah satu perempuan belia yang kami temui merupakan salah satu anak pekerja di JeroAcan. Dia kuliah di salah satu universitas di Mataram. Dia mengatakan usaha terasi ini membuatnya mampu belajar sampai perguruan tinggi. Dia membayar biaya kuliahnya dengan uang yg dihasilkan dari usaha ini. Ini membuktikan bahwa usaha ini tak hanya memberdayakan pekerjanya, tapi juga anak-anak mereka.


 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design