Sabtu, 16 Oktober 2021

Tenun Lombok Motif Lumbung

Kain Tenun Tangan Motif Lumbung Wayang Asli Lombok | Shopee Indonesia


Kain tenun umun dijumpai di Indonesia. Tenun sendiri merupakan teknik pembuatan kain dengan menggabungkan benang secara memanjang dan melintang. Benang yang bersilangan secara bergantian membentuk motif yang beragam dengan warna yang menarik. Ada warna yang kalm ada juga warna yang mencolok seperti warna keemasan. 

Di Pulau Lombok, terdapat beragam jenis kain tenun. Setiap daerah memiliki motif khas sendiri yang dipengaruhi oleh ragam budaya dan kreativitas penenunya. Salah satu motif kain yang sudah dikenal sampai manca negara adalah motif lumbung. Motif ini sempat dibawa untuk fashion show oleh Barli Asmara, dan Zaskia Sungkar, akan menampilkan karyanya di ajang Couture Fashion Week 2015 di New York.

Tenun dengan motif lumbung ini menggambarkan bale lumbung, yang merupakan rumah adat suku sasak. Lumbung umum digunakan oleh masyarakat suku sasak untuk menyimpan padi. Motif kain tenun memang earat kaitannya dengan kebudayaan masyarakat sekitar.

ukuran tenun 200x100

Selasa, 01 September 2020

Refleksi di bulan September

Menjadi Objektif

Dulu sekali, saya sempat berkata pada seseorang "jangan terlalu taklid pada sesuatu atau seseorang, nanti kau kehilangan objektivitas untuk menilai hal itu". Bagi saya, bebas mempertanyakan semua hal adalah sebuah kemerdekaan. Dan terkadang, menjadi bagian dari sesuatu membuat saya tunduk dan tak lagi mampu mengajukan pertanyaan sebebas-bebasnya. Ada kesulitan tersendiri untuk melakukan auto-kritik.
Itulah mengapa saya cenderung memilih untuk tidak berafiliasi dengan bendera ormas, atau menjadi bagian dari isme-isme yang ada (kecuali keyakinan yang saya anut). Cukuplah identitas agama, suku, dan negara ini yang mengekang saya, selebihnya biarkan saya definisikan diri sebagai Dasein.

Belakangan, ada hal membuat saya tersadar. Saya tidak sepenuhnya mampu menjadi orang merdeka seperti yang saya katakan sebelumnya. Ketika saya menjadi bagian sebuah lingkaran kecil, saya akan memiliki kecendrungan untuk melindungi lingkaran itu. Sadar atau tidak, hal itu membuat saya defensif. Saya lupa pada objektivitas dan kemerdekaan yang saya agungkan. Ketika ada suara minor yang berbeda dengan mayoritas di dalam lingkaran kecil ini, tanpa sadar saya menjadi represif dan menutup kesempatan bagi orang lain untuk bertanya. Beruntung, saya cepat disadarkan oleh seorang kawan.

Jika merefleksikan ini pada tataran yang lebih luas, teramat sering kita melihat orang yang dulunya lantang bersuara menentang keputusan penguasa yang tidak pro rakyat, namun menjadi kucing saat masuk dalam lingkarang penguasa. Ia tak lagi mampu mendengarkan suara yang berbeda dengan lingkaran penguasa. Bahkan, ia menjadi menjadi represif terhadap suara-suara orang kecil yang dulu biasa ia suarakan. Ia tak mampu melihat lingkarannya dengan cara yang objektif. Bisa sebutkan sendiri nama tokoh-tokohnya.

Respon cepat tak selalu tepat

Di sisi lain, saya menyadari bahwa ada kesulitan tersendiri ketika saya menentukan tempat untuk berpijak. Relativitas membawa saya pada titik di mana saya menganggap semua perasaan dan pendapat orang lain valid. Sehingga sering kali saya kesulitan menemukan suara saya sendiri. Jika dipaksa untuk merespon dengan cepat (pada hal yang tidak saya perdalam sebelumnya) saya cenderung akan terbawa arus dengan pendapat-pendatat dominan. Itulah yang terjadi ketika saya merepresi pendapat seorang kawan. Hanya jika saya memberi jeda dan jarak untuk menelaah dan memproses semua pendapat tadi untuk mengambil keputusan, barulah saya mampu melihat dengan jernih dan menemukan pijakan sendiri.

Namun di era 4.0 ini, segala sesuatunya berjalan denga cepat. Saya dan mungkin kita, tak lagi diberi jeda untuk merespon sesuatu. Semua informasi didapatkan dalam keadaan fresh and hot, dan hal ini dapat kita respon dalam hitungan detik. Ini bisa menjadi bola-bola api jika kita tak memiliki cukup waktu untuk menilik lebih dalam. Pada kasus yang saya alami, respon cepat dan berapi-api saya tak beakhir tepat.

Dalam konteks yang lebih luas, kita acap kali disuguhkan dengan fenomena media daring yang blunder karena mengejar kecepatan. Ketika kecepatan menjadi paradigma utama dalam produksi sebuah berita, potensi pelanggaran kode etik jurnalistik menjadi lebih terbuka. Demi mengejar kecepatan, sebuah media daring kerap menyajikan data yang salah, terkadang bahkan fatal, dan tentu menyesatkan bagi publik. 

Minggu, 12 April 2020

Gugatan Terhadap Konsep Durhaka (Part 2)


Beberapa waktu lalau, saya berdiskusi dengan seorang kawan, ini perihal tulisan saya yang mempertanyakan konsep durhaka. Kenapa konsep ini lebih sering disematkan pada anak, tidak bisakah orangtua juga disematkan konsep durhaka?. Bukankah akhir-akhir ini kita juga menemukan orantua toxic, melakukan kekerasan baik fisik maupun seksual. Kita juga tau, ada banyak orangtua yang tak mampu bertanggungjawab untuk memenuhi hak-hak anak.

Beberapa hari setelah diskusi itu, saya menemukan sebuh artikel yang mengulas tentang sebuah film yang berjudul “Capernaum”. Film ini tentang seorang anak bernama Zain El Hajj, yang menggugat orantuanya. Alasannya, si anak tak terima dilahirkan ke dunia. Zain dilahirkan dari keluarga miskin. Sejak kecil ia tinggal di sebuah rumah susun sempit bersama orangtuanya dan delapan saudaranya. Kesulitan ekonomi yang membuatnya harus meninggalkan bangku sekolah dan harus bekerja di usia muda. Konflik di film ini menjak ketika adik perempuannya hendak dinikahkan di usai belia untuk mengurangi beban ekonomi keluarga. Zain menentang pernikahan ini.
https://www.flicks.com.au/movie/capernaum/poster/
Saya hendak menonton film itu, tapi belum menemukan situs untuk mengunduhnya. Tapi ada beberapa hal yang saya fikirkan setelah membaca review film tersebut. Kenapa birth control di negara ini hanya sebatas himbauan, bukan kewajiban?. Bukankah jika anak tak mampu dibesarkan oleh orangtuanya, selanjutnya ia berada dibawah tanggungjawab negara? sebelum negara memberi hak asuh pada keluarga terdekat. Dengan demikian, beban negara akan bertambah berat, jika anak-anak dari kalangan seperti itu berambah banyak jumlahnya.

Bisakah kemudian negara memberi syarat bagi calon orangtua yang ingin memiliki anak?. Misalnya, calon orangtua hendaknya memiliki deposito dalam jumlah tertentu. Jumlah deposito ini disesuaikan dengan biaya hidup, kesehatan, juga pendidikan si anak kedepannya. Dalam film tersebut, ditampilkan pula bahwa satu keluarga tersebut tinggal kontrakan kecil yang sesak di rumah susun. In berarti tempat tingal mereka jauh dari kata layak. Sehingga, dapat juga diajukan syarat tambahan, tak hanya syarat deposito yang harus dimiliki si calon orangtua, tapi mereka juga harus memiliki tempat tinggal yang layak. Jika si calon orangtua tidak mampum menujukkan kepemilikan deposito serta tempat tinggal yang layak, maka mereka belum bisa mendapatkan izin memiliki keturunan. Saya tidak tau, hak siapa yang akan dilanggar karena ini, tapi tidakkah ini penting untuk mejaga hak calon anak agar terpenuhi kedepannya?.

Mungkin anda pernah membaca sebuah penelitian tentang pendapatan anak-anak dari kalangan miskin lebih rendah 87% dari mereka yang berasal dari kalangan tidak miskin. Penelitian ini dipublikasikan di makalah internasional Asian Development Bank. Kemiskinan yang terjadi terjadi pada anak-anak berkaitan erat dengan kemiskinan keluarganya, ini menujukkan bahwa keluar dari kemiskinan tidak semudah yang orang fikirkan. Perlu dijabarkan lebih lanjut mengapa anak-anak ini memiliki penghasilan lebih kecil, apakah karena tingkat pendidikan yang rendah atau faktor lainnya. Jika karena tingkat pendidikan, bukankah aturan kepemiliki deposito calon orangtua yang saya ajukan di atas bisa menjadi solusi? Setidaknya dengan begitu anak-anak dapat memulai “start” dari garis yang sama; akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan lainnya.

Saya mencari adakah negara yang menerapkan aturan demikian. Yang mengharuskan calon orangtua memenuhi kriteria berupa deposito dalam jumlah yang ditentukan, serta tempat tinggal yang layak. Sehingga hak-hak anak dapat terpenuhi dengan baik. Mereka bisa bermain dengan riang, belajar dengan nyaman, tanpa ikut memilkul beban orangtua di usia kanak-kanak. 

Selain untuk mengurangi gap, saya fikir sistem deposito ini memberi ruang untuk calon orangtua, untuk benar-benar memikirkan keputusannya memiliki anak, benar-benar mengusahakannya. Ketika memiliki anak dianggap sebagai sebuah keistimewaan, karena diperoleh dari rentetan usaha yang begitu keras, maka ia akan dijaga dengan sebaik-baiknya. Bukankah kita cenderung menghargai sesuatu yang kita miliki dengan usaha yang keras, dibandingkan sesuatu yang kita miliki dengan cuma-cuma?. Tengoklah yang terjadi pada keluarga Zain di atas, orangtuanya beranak pinak semaunya, bukan “semampunya”.

Seharusnya nilai-nilai yang lebih dulu kita kenal dengan keagungannya bisa mengatasi ini, nyatanya nilai-nilai itu tidak sepenuhnya mampu mengikat. Tak semua orang tunduk karena takut dosa, dan tak semua orang pula tunduk karena menginginkan pahala. Reward and punishment di bumi nyatanya diperlukan untuk memperkuat nilai-nilai yang diyaakini tadi.

Mungkin setelah ini saya akan dihujat karena membiarkan orang miskin mati kesepian kalaulah mereka tak mampu mengumpulkan deposito. Saya juga akan dihujat karena berfikir bahwa individulah yang mampu mengatasi permasalahan runyam ini, alih-alih solusi kolektif seperti pendidikan gratis untuk semua kalangan, kesehatan gratis untuk mengurangi gap yang saya bicarakn tadi. Mungkin juga saya dianggap tak peduli dengan buruh yang kerja berjam-jam namun tetap miskin karena sistem kapitalis yang menghisap orang-orang kecil ini. Yang paling parah, mungkin saya akan dicap tidak percaya kekuatan tuhan, karena kita tau semua anak diyakini membawa rizkinya masing-masing.

Namun, ini semua karena saya berfikir tentang kewajiban orantua atas anak sebelum menuntut hak-hak untuk di hormati dan disayangi. Agar anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang mirip dengan lingkungan Maryam putri Imran, bukan lagi seperti Zain dan saudara-saudranya. Bukankah kita akan menuai apa yang kita semai?







Jumat, 03 April 2020

Gugatan Terhadap Konsep Durhaka (Part 1)

Ketika kecil dulu, setiap kali saya diminta melakukan sesuatu oleh ibu, saya selalu diingatkan "kita tidak boleh bilang gak, apalagi melawan pada orng tua. Bilang "ah" saja sudah dosa". Itu semacam peringatan yang mengerikan, saya diancam dosa durhaka pada orangtua jika tidak menjadi anak baik dan penurut. 

Saya ingat, suatu hari saya menolak untuk mengambil bak yang diminta ibu saya. Saat itu ibu saya hendak memandikan adik pertama saya. Karenanya, saya dikejar ibu, hendak dipukuli. Saya berhasil kabur dan mengunci diri di rumah sepupu. Ibu menunggu di luar, meminta saya membuka pintu. Saya menolak, karena tau akan dipukuli. Tapi, ia berjanji tidak akan memukul saya. Tapi apa yg terjadii? Ketika saya qmembuka pintu, tetap saja saya dipukuli. Saya ingat, saya menangis tersedu-sedu. Berdiri didepan meja sambil mengamati tumpukan buku. Saya berdiri membelakangi ibu yang sedang mengoleskan minyak kayu putih untuk adik. Melihat saya menangis, iapun ikut menangis. Mungkin menyesali perbuatannya. Sedikit tidak sekarang saya memahami, mungkin saat itu ia begitu lelah. Lalu emosinya buncah, ditambah dengan kelakuan saya yang tidak penurut.

Tapi bukan berarti saya tidak punya memori baik bersama ibu. Memori baiknya teramat banyak, hadiah tiap kali juara kelas, diajak belanja baru lebaran ke pasar, dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan pengorbanannya. Ada juga hal-hal sederhana yang kami lewati, dan itu teramat membahagiakan. Suatu sore, ibu mengajak saya berburu belalang di lapangan dekat rumah kami. Dengan alat sederhana yang terbuat dari sandal bekas, lalu dibuatkan gagang kayu. Kami bisa berburu belalang sepanjang sore, lalu pulang untuk mandi menjelang magrib. Saya ingat, saat itu saya menemukan sebuh cincin cantik bermata biru. 

Ada pula kisah apa ya? sedih mungkin, saya yakin semua orang memiliki kisah serupa. Sisi struggling dalam hidup. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, pagi-pagi sekali ibu menyiapkan sarapan untuk saya dan bapak. Ibu memakaikan saya seragam sekolah. Saat itu, perekonomian keluarga belum sebaik sekarang. Ibu tak memiliki uang saat itu, lalu ia memberikan saya sebutir telur ayam. Katanya, telur ayam itu bisa ditukar di warung dekat sekolah. Saya bisa memilih, menukar telurnya dengan uang atau jajan. Saya tau betapa kedua orangtua saya begitu menyayangi saya. Mereka selalu mengusahakan terbaik untuk saya.

Meskipun begitu, hingga beranjak dewasa saya dan ibu sering beradu argumen.  Pernah, saat ibu mengandung adik kedua saya, saya berdebat dengan ibu. Saya ingat, saat itu sedang duduk di bangku SMP. Karena hal sederhana, ibu tidak suka didebat kalau sedang mengingatkan saya. Saya yang saat itu masih senang adu argumen malah menjawab. Lalu ibu bilang "inikah yang diajarkan pondokmu? Melawan pada orangtua?". Lalu saya menulis sebuah surat, bahwa "Hak bicara dimiliki oleh semua orang, termasuk saya. Hak berbicara dijamin oleh negara. Lantas mengapa saya tidak bicara untuk membela diri? ". Kurang lebih seperti itulah isi surat yang saya tulis. 

Bertahun-tahun setelah itu, barulah saya mengerti. Mungkin dalam benak ibu saya, menjawab "ah" saja adalah dosa, apalagi mendebat dengan argumen yang panjang. Ketika berusia 20an, saya lebih suka mengiyakan apa saja yang ibu katakan. Saya lebih suka berkompromi, dibandingkan terlibat dalam perdebatan panjang. Ketika masih SMA, ibu juga sering menjadikan saya moderator. Untuk menengahi ia dan ayah. Sejak saat itu relasi kami tidak lagi sejomplang ketika saya kecil. Kami sesekali menjadi teman diskusi. Ibu menerima saran-saran yang saya berikan. "Mungkin seperti inilah ibu dibesarkan", ucapku dalam hati.

Tapi, ada banyak anak-anak yang tak seberuntung saya. Beberapa pertanyaan muncul ketika saya dewasa, lalu menikah. Salah satunya adalah seperti apa kosep durhaka? Benarkan berkata "ah" pada orangtua sudah termasuk dosa? Bagaimana dengan orangtua? Tidak bisakah kita menyematkan konsep duraka pada orangtua yang tidak mampu bertanggungjawab atas anaknya?. 

Saya mengenal beberapa teman yang tidak bisa dibesarkan orangtuanya, lalu ia diserahkan pada neneknya. Saya menemukan beberapa murid saya di PAUD juga mengalami hal serupa. Orangtuanya bercerai, lalu si anak diasuh neneknya. Atau kedua orangtuanya pergi menjadi butuh migran ke luar negeri, lalu si anak dititipkan pada saudara ibu/ayahnya. Mereka kehilangan sosok orangtua.  

Saya ingat, salah satu murid ibu saya di PAUD yang tinggal bersama neneknya. Neneknya seorang tukang urut handal, ia juga petani dan buruh tani. Setiap hari ia harus memenuhi kebutuhan cucunya, uang jajan serta makanan pokok. Ada hal yang saya syukuri, nenek ini tinggal di desa. Ia bisa mendapatkan lauk-pauk dari sawah sekitar. Tetangganya yang juga kerabatnya tentu takkan membiarkan ia dan cucunya kelaparan. Di PAUD, ibu saya hanya menarik iuran bulanan sebanyak 5.000 rupiah. Awalnya senua gratis, wali murid hanya perlu membayar seragam sekolah, karena yayasan tak memiliki dana untuk ini. Kata ibu, penarikan iuran ini terpaksan karena harus memikirkan guru-guru yang mengajar di sana, karena insentif sekali enam bulan tentu takkan pernah cukup bagi guru di sana. Biaya pendidikan dan hidup di desa tak begitu mencekik seperti di kota. Meskipun begitu, perputaran uang di desa juga tak begitu besar.

Masalah ini cukup pelik, selain kehilangan perhatian dari sosok orangtua, mereka juga harus hidup dalam kondisi ekonomi yg cukup memprihatinkan. Bagaimana bisa sosok nenek yang sudah renta mampu memenuhi segala kebutuhan si anak? karena tak semua anak yang saya kenal tadi dibiayai hidupnya oleh orangtuanya. Orangtua mereka lepas tangan. Di lingkungan saya, inilah yang mejadi awal dari maraknya pernikahan dini. Anak-anak yang diserahkan ke pada neneknya, lalu si nenek tidak dapat membiayai sekolah si anak dan ia putus sekolah di usia belasan tahun. Lalu, si anak menikah dengan harapan dapat memutus kemalangannya. Kemudian ini menjadi masalah baru,  karena pernikahan dini erat kaitannya dengan angka perceraian, juga kemiskinan. 

Tapi, ada juga anak-anak yang berhasil survive meski tak dibiayai ayah-ibunya, serta tak mendapatkan kasih sayang dari keduanya. Anak yang saya kenal, ia berhasil menamatkan pendidikan sampai strata satu. Ia mengakui, tetap ada luka dan lubang besar dalam dirinya yang belum jua sembuh. 

Di belahan dunia lain, ada anak-anak yang dilahirkan di bawah garis kemiskinan. Orangtua bisa memiliki empat sampai belasan anak. Lalu, saat usia yang sangat belia, anak-anak perempuan dinikahkan agar segera mengurangi beban ekonomi keluarga. Eh bukan belia, anak-anak tepatnya. Child marriage istilahnya. Child marriage karena kemiskinan telah menjadi rahasia umum. Di Etiopia misalnya, orangtua mengakui bahwa mereka menikahkan anak-anak mereka karena alasan ekonomi. Dan ini terjadi di banyak negara.

Bisakah anak-anak ini menuntut kedua orangtuanya? Menuntut mereka ke jalur hukum karena tak becus merawat mereka. Menuntut mereka yang berani-beraninya melahirkan tanpa benar benar memiliki kesiapan. Jika tak mampu membesarkan, lantas kenapa memutuskan untuk melahirkan. Toh, anak-anak ini tidak pernah meminta untuk ada dan dilepas di rimba yang bernama dunia. Bolehkan konsep durhaka juga disematkan pada orang-orang seperti mereka? Yang melepaskan tanggungjawab untuk memberikan kasih sayang, juga nafkah yang layak?

Narasi Menghormati Orangtua

Setiap hari, ceramah-ceramah yang saya dengar berisi bagaimana cara memperlakukan orantua. Memohon ridha mereka agar jalan hidup si anak dipermudah. Memperlakukan mereka dengan sehormat-hormatnya. Jika tidak, bisa si anak bisa diancam kualat di dunia dan akhirat. Setoxic apapun mereka, harus tetap dihormati. Katanya, lelahnya melahirkan tak dapat digantikan dengan apapun di dunia ini. Lantas, bagaimana bisa si anak memperlakukan dengan baik, jika ia tidak didik dengan perlakuan baik juga diberikan kasih sayang yang setulus-tulusnya?.

Selain ajaran agama, budaya yang penuh dengan hirarki juga membuat konsep anak durhaka ini mejadi kental. Kita tentu ingat kisah Malin si anak durhaka.  Tapi, saya belum menemukan legenda, yang mengisahkan kutukan anak pada orangtua yang tak bertanggungjawab.

Narasi Hak-Hak Anak


Saya befikir, kenapa penceramah kondang lebih sering membahas tentang kewajiban anak terhadap orangtuanya, seperti menghormati, menyayangi dan lain sebagainya. Dibandingkan mengingatkan tentang hak-hak anak atas orangtuanya.

Saya menyukai satu surah dalam kitab suci saya yang berbicara tentang sebuah keluarga. Surah ini bercerita tentang keluarga Imran, ayahnya Maryam; kakeknya Isa. Saya menyukai bagaimana Maryam bin Imran dibesarkan. Meskipun ayahnya meninggal ketika ia belum lahir, dan ia mendaptkan pendidikan dari pamannya Zakaria. Meski tanpa sosok ayah, maryam bisa dibesakan dengan sangat baik. Sehari-hari Maryam hanya berdiam di biliknya untuk belajar dan beribadah, segala kebutuhannya dipenuhi sang paman, makananya disediakan. Tumbuhlah ia menjadi wanita yang shalihah karena diberika pendidikan dan fasilitas terbaik. Mungkin hidupnya penuh keistimewaan karena bapaknya, Imran, adalah orang yang dihormati di kalangannya. Dalam kitab suci saya, kisah Imran dan Keluarganya diberikan surah tersendiri. Imran dan keluarganya diistimewakan. Ibunya pun begitu shalih, sejak Maryam dalam kandungan ia telah menazarkan agar anaknya menjadi putri yang salih, juga mengusahakannya. Tidakkah kita harus belajar lebih banyak dari kisah keluarga ini? Hak-hak anak dipenuhi dengan begitu baik, diberikan kasih sayang, fasilitas, serta pendidikan yang baik, agar ia tumbuh menjadi jiwa-jiwa yang baik pula.


Jumat, 20 Maret 2020

Bolehkah saya berterima kasih pada corona?

                 Pic. Source: Frantiśek Czanner

Apa salah kalau saya berfikir Covid-19 ini baik? Baik bagi bumi yang kelebihan beban. Baik bagi kita untuk rebahan, eh bukan. Baik bagi manusia untuk mengambil jeda, lalu merenungi kembali semua perbuatannya. Mempertanyakah kembali apakah kita ini khalifah, atau hanya mahluk pembawa masalah?

Terlepas dari semua teori konspirasi yang menganggap peristiwa ini sebagai perang dengan senjata "biologi". Juga asumsi bahwa ini merupakan cara untuk mengontrol jumlah populasi di muka bumi. Namun saya percaya, ada hikmah dibalik wabah. 

Wajah asli negara dan warga

Hikmahnya? Kita bisa melihat wajah asli negara kita. Betapa ambisi pembangunan kita lebih besar pasak dari tiangnya. Negara bergantung pada import murah, ketika muncul wabah, ekonomi langsung goyah. Kita juga sadar bahwa bergantung pada hutang, bukan cara yang baik untuk bertahan.

Pemangku kebijakan memang tidak pernah benar-benar siap-siaga. Mereka lebih suka denial dan jumawa, ketimbang bersiap-siap untuk segala kemungkinan yang ada. Padahal ada jeda yang cukup lama, ketika Corona muncul pertama kalinya di Cina, kemudian masuk ke Indonesia. Saya tak habis fikir, kenapa kita tak perna benar-benar belajar dari sejarah. Beberapa tahun silam kita telah mampu mengatasi penyakit yang juga mewabah.

Mungkin elit politik kita tak pernah benar-benar empati, dalam bencana sekalipun, ada saja diskursus yang dibangun untuk menarik simpati. Ah iya, pemilihan sebentar lagi. Lalu sosial media kita dipenuhi caci-maki. Kita bisa menilai, negara ini tak punya banyak figur pemimpin dengan nalar yang memadai. 

Pun kita tau, rakyat macam apa yang menghasilkan elit politik seperti itu. 

Klaim kita sebagai bangsa dengan budaya gotong-royong, nyatanya itu hanya tinggal semboyan. Lihat saja bagaimana orang-orang ber-uang melakukan panic buying, sedangkan saudara kita yang lain pontang-panting. 

Tamparan dari alam

Ya, alam sedang menampar manusia.
Krisis ini menujukkan banyak hal pada kita. Dibandikan kekuatan alam, manusia tidak ada apa-apanya.

Corona mengajarkan bahwa kita mampu bertahan dengan hidup sederhana, apa adanya. Tanpa produksi berlebih dan mengambil secukupnya saja. Bahwa bumi harus ditanami tumbuhan, bukan bangunan untuk bermegah-megahan. Lagipula, apa yang manusia hadapi karena Corona hari ini, tak sepadan dengan apa yang telah bumi alami. Hewa-hewan kita buru dan tembaki. Manusia mengeksploitasi alam tiada habisnya. Sebut saja polusi udara, libah dan plastik yang tak terhitung jumlahnya, hutan ditebang di mana-mana, serta segala aktivitas yang merusaknya untuk memuaskan hasrat manusia.

Karena Corona, manusia harus mengisolasi diri. Lalu alam memiliki kesempatan untuk melakukan self recovery. Tentu saja ini terjadi hanya ketika ibu pertiwi lengang dari aktivitas kita. Ada lumba-lumba yang mulai bermunculan di salah satu kanal yang paling sibuk di Italia. Di Wuhan-Cina, langit yang tadinya berwarna pekat karena polusi, kini mulai berseri kembali. Kicauan burung yang biasanya kalah oleh kendaraan dan pabrik yang menderu, kini kembali berbunyi dengan merdu dan syahdu. 

Bumi kita mampu bernafas dengan lega, karena pesawat tak lagi wara-wiri seperti biasanya. Alam membaik tanpa aktivitas kita. Di Cina, Italia, dan banyak tempat lainnya.

Solidaritas yang utama

Seketika roda perekonomian melambat, investasi pun ikut terhambat. Mata kita dibuka, bahwa sistem kapitalisme bukan yang utama. Dalam situasi krisis, solidaritaslah yang membuat kita kuat. Sekat-sekat antar kelas, suku, ras, dan agama harusnya sudah amblas.

Tengok bagaimana negara di luar sana saling bahu-membahu, Iran meminta bantuan tim medis dari Cina, begitu juga Italia. Tak hanya metode tapi juga alat yang mereka bagi, guna menanggulangi virus ini. 

Saudara sebangsa kita juga harusnya bisa saling menjaga, bukan hanyak teriak saling mencerca. Yang berada seyogyanya mengulurkan tangan untuk mereka yang tak berpunya. Memperkuat tali persaudaraan untuk memulihkan keadaan. Bukan malah mengambil keuntungan dalam kesempitan.

Terima kasih Corona

Momen seperti ini mengajarkan kita bahwa apa yang kita anggap mapan, bisa kembali kita pertanyakan. Memikirkan kembali tujuan penciptaan, juga keberADAan. Mungkin ego kita akhir-akhir ini berlebihan dan keterlaluan. Hal itu mengakibatkan banyaknya penderitaan. Penderitaan bagi sesama manusia, flora, juga fauna.

Tanpa mengurangi rasa empati saya pada jiwa-jiwa luar biasa, yang sudah lebih dulu berpindah ke alam abadi di seberang sana.  Mereka yang telah terbebas dari derita di dunia. Juga tanpa mengurangi ta'zim saya pada tim medis dan peneliti yang berjuang untuk menyelamatkan nyawa-nyawa. 

Tak lupa, teriring doa untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan. Serta semua negara yang perekonomiannya merosot ke level yang belum pernah dibayangkan, semoga lekas dipulihkan.

Tetap saja saya ingin bertanya "bolehkah saya berterima kasih pada Corona?"

Mataram, 18 Maret 2020.
10.44 Wita

Rabu, 11 Maret 2020

"Selamat Pagi" dari Mareje

Alarm berdering berkali-kali. Inginku menarik selimut dan tidur lagi. Kalau saja hari ini saya tidak ada janji. Yapss, pagi ini saya dan suami berjanji dengan kawan-kawan mengujungi sebuah bukit di desa Mareje. Katanya sih tempatnya lumayan kece.

Pemandangan yang ditawarkan Mareje adalah area sawah dengan konsep terasering. Tak butuh waktu lama, usai subuhan kami langsung tancap gas. Deru suara X-ride memecah keheningan di jalan komplek perumahan. Masih terlihat embun yang hinggap di dedaunan saat kami lewat.

Jarak Mareje dari Mataram sekitar 50 menit.
Perjalan yang harus ditempuh membuat rem dan gas lumayan mederit. Setelah melewati jalan raya lembar, medan yang harus dilalui memang agak berkelok-kelok. Ada turunan, juga tanjakan tajam yang meharuskan gas motor tetap poll. 

Bisa dibilang, Mareje ini desa di dataran tinggi. Karena jarak yang lumayan jauh dari Mataram membuat saya berfikir desa ini termasuk wilayah Sekotong, eh ternyata masih termasuk Kecamatan Lembar. Sebagian besar wilayah ini adalah area persawahan dan perkebunan. Kami menemukan rumah-rumah warga, namun jarak atar rumah cukup renggang. Ada juga sekolah dan rumah ibadah. Jangan berharap menemukan toko-toko besar ya. 

"Selamat datang di desa Mareje" tulisan yang membuat saya mulai sumringah. Sejak tadi nafas saya sudah terengah-engah. Agak tegang karena sebelumnya saya pernah punya pengalaman yang tidak mengenakkan.  Pernah suatu hari, kami melewati medan seperti ini dengan motor yang kami kendarai saat ini. Kondisi motor yg kurang fit saat itu membuat saya harus turun dan berjalan kaki setiap melewati tanjakan.

Memasuki kawasan desa Mareje, kami tidak langsung disuguhkan pemandangan yang membuat kami harus berdecak. Seperti alur cerita dalam karya fiksi, kami disuguhkan intro dulu, baru memasuki puncak.

Sampai di lokasi, pastinya kami bahagia sekali. Ini sih bukan lumayan kece lagi,
pemandanganya lebih cantik dari rengganis. Buat saya sinar mentarinya juga lebih manis dari manggis. Kalo perginya bareng pasangan, sunrise di sini terasa jauh lebih romantis.
Barisan sawahnya sangat hijau. Padi dan jagung saja bisa terlihat memukau.
Semuanya tersusun begitu rapi. Yang tak kalah penting, udara di Mareje ini segar sekali. Tapi ada satu hal yang kami lewati, momen munculnya mentari pagi tadi.

Tapi, tak masalah lah. Disuguhkan keindahan semacam ini saja sudah bikin enak suasana hati. Ketenangan ini jadi bekal untuk memulai hari. I feel so bless, that I can release this stress.

Perjalanan di pagi hari, terkadang menyuguhkan kisah yang asik untuk dibagi.
Anda bisa menikmati cerita ini dengan segelas kopi, boleh juga ditemani rokok dan sesobek roti.

Oia, ada hal menarik selain pemandangan alam dalam perjalan pagi ini. Yang tak luput dari pengamatan saya saat di perjalanan tadi adalah perjuangan ibu-ibu yang duduk di bak mobil sembari menahan kantuk.  Mobil pick up  yang mereka tumpangi berisi sayur-mayur itu terus melaju, dari kejauhan saya melihat mereka sesekali terangguk-angguk.

Ada juga bocah-bocah yang berjejer di pinggir jalan, dengan seragam lengkap anak  sekolahan. Mereka berjalan sebari bercengkrama dengan kawan. Sepertinya, jarak rumah dan sekolah yang lumayan renggang, tak membuat mereka patah arang.

Starter pack untuk hunting foto ke Mareje:
1. Outfit dengan warna cerah
2. Fotografer handal dan kamera yang memadai.
3. Daya dan kuota HP yang full, just in case kalau butuh google maps. #sinyal Telk*omsel lumayan kenceng dibandingkan provider lain.
4. Kendaran yang fit dan bensi yang full.
5. Tumbler berisi kopi atau air mineral.
6. Sarapan setelah menikmati sunrise.

Selasa, 10 Maret 2020

"Kapan Punya Anak?" Pertanyaan yang tak berkesudahan


Ada banyak hal yang saya refleksikan dari pertanyaan “kapan punya anak?”. Pertama, jika suatu hari saya punya anak, lalu anak saya bertanya “Apa alasan ibu memutuskan untuk melahirkan saya?”. Lantas kira-kira apa jawaban yang proper atas pertanyaan tersebut?. Bagi saya, semua hal yang saya lakukan harus memiliki alasan yang jelas. Setiap pilihan yang diambil harus melalui pertimbangan yang matang.

Dulu sekali, ketika saya naik ke kelas 2 MTS. Saya selalu bertanya “Siapa Saya?”. Saya sadar, saya bukan sekedar tangan yang bergerak, mata yang melihat, atau tubuh yang melenggok kesana kemari. Saya adalah saya, tapi siapa saya? Kenapa saya ada di sini?.

Ketika masuk MA/SMA, saya mencoba mengenali diri dengan menelusuri apa yang saya sukai. Mungkin saya dapat menjawab pertanyaan “siapa saya” dengan mengenali jati diri, keinginan, tujuan, dan hal yang berkaitan dengan keberadaan saya. Saya jautuh pada kesimpulan bahwa saya suka menulis, terutama menulis diary. Saya juga suka membaca novel. Temanya tentu tidak jauh dari keberADAan saya. Saat itu saya juga membaca buku psikologi, dan personality. Setelah menulusuri kesemuanya, saya belum juga puas.

Awal masuk kuliah, saya mulai membaca beberapa sumber bacaan terkait agama dan kepercayaan. Tak hanya tentang agama yang tertera di KTP saya, tapi juga selain itu. Saya membaca sedikit tentang Hindu, berdiskusi dengan teman Katolik, atau membaca artikel mereka yang mengaku diri ateis. Saya menemukan diri saya mempertanyakan kembali kepercayaan yang saya anut saat itu. “Kenapa saya tidak boleh menyembah tuhan ini dengan semua cara?” jika pencipta yang dimaksud semua agama itu adalah merujuk pada dzat yang sama. Pencipta itu diberi nama yang berbeda-beda oleh manusia, sehingga pada praktiknya, tata cara penyembahanpun berbeda-beda.

Kembali ke keyakinan saya, kami punya tata cara tersendiri untuk berdoa, ada hukum-hukum yang mengatur cara kami hidup, berprilaku, dan lain sebagainya. Cara berdoa inilah yang membedakan agama yang satu dan lainnya. Sehingga cara ibadah agama yang satu tidak dapat diterima oleh agama lainnya. 

Di tengah kebimbangan saya berfikir, "Life is the matter of choices. Once you decide to take it, you have to be responsible of the choice that you have chosen". Berarti, ketika saya memilih untuk beragama islam, saya harus melakukan setiap ajarannya dengan taat, apapun konsekuensinya.

Dalam sebuah sumber, orang yang mengaku atheis menganggap setiap agama memiliki kemungkinan yang sama untuk salah. Mungkin begitu. Karena kita belum mengetahui apa yang akan terjadi di alam berikutanya, setelah kehidupan dunia. Entah agama mana yang akan benar, itu tergantung apa yang kita yakini. Setiap agama memiliki klaim masing-masing perihal ini. Melalui kitab masing-masing, setiap agama punya cerita akan seperti apa kehidupan setelah kematian. Di sini, keimanan terhadap kitab suci itu dipertaruhkan. Lalu saya sampai pada kesimpulan "bagaimana mungkin saya yang kecil ini mampu memikirkan hal yang tak definisikan seperti itu? Apa logika saya mampu mejangkau Dia yang Maha itu?".

Dalam keputuasaan mencari jati diri yang kemudian merebet pada keyakinan itu, saya memutuskan untuk tetap memilih islam, mempelajarinya kembali. “I'll take all the risk of this choice” tekad saya. Bertanggungjawab atas pilihan adalah hal yang saya pelajari dari pengalaman hidup yang singkat ini.

Lalu apa kaitanya dengan memiliki anak?apakah alasan saya memiliki anak? Itu masih saya pertimbangkan. Saya harus selesai dengan pertanyaan ini dulu. Dalam pikiran saya, saya tidak ingin menjadi egois, memaksa anak untuk hidup di dunia yang bagi saya cukup "Cruel". Bergulat dengan kehidupan yang entah mereka akan sukuri atau tidak.  Meskipun saya menyadari, penciptaan manusia dalam agama saya tujuannya adalah untuk menyembah sang Pencipta, serta menjadi Khalifah di muka bumi. 

Bagi saya, alasan memiliki anak tidak sesimple “ agar ada yang merawat di masa tua, agar ada yang mengingat kita dalam doa ketika sudah tiada, agar kita merasa memiliki kebahagiaan yang lengkap, agar kita tidak dianggap mandul, agar kita diterima di kehidupan sosial”. Alasan-alasan ini saya fikir egois, karena masih berorientasi pada diri sendiri. Kata orang-orang cinta pada anak itu “uncoditional”, tanpa syarat. Lah, sebelum ada saja sudah banyak syarat begitu.

Belum lagi trend orangtua yang memaksa anak-anaknya untuk les dari umur 4 tahu, dari les baca, tulis, hitung, nari, musik, dengan harapan mereka akan menjadi anak yang cerdas tanpa pernah bertanya keinginan si Anak. Sejak kecil anak-anak dipaksanakn untuk begini dan begitu, tanpa diberi kebebasan untuk memilih. Sudah dilahirkan atas ego orang tua, setelah lahir malah dipaksakan untuk memilih jalan yang sudah ditetapkan oleh orang tua. Duhh!! well ya, memang ini diharapkan untuk kebaikan mereka, tapi apa harus seperti itu?

Ditambah dengan kecemasan, jika saya melahirkan anak di tahun-tahun ini, itu berarti saya melepaskan si anak untuk bertarung di dalam ring, yang memaksa manusia tidak hanya bertarung sesama manusia, tapi kecerdasan buatan yang kecerdasannya berkali-kali lipat dari manusia. So scary!!!!

Lagi pula, bukankah prestasi hari ini diukur dengan cara yg beda?. Mungkin zaman dahulu, melahirkan anak banyak dan selamat sampai dewasa merupakan sebuah prestasi. Mengingat kehidupan kala itu masih terbilang sulit, dunia medis dan teknologi tak semaju hari ini. Mungkin angka kematian bayi saat itu cukup tinggi juga. Jadi pertanyaan warisan "kapan punya anak?" Bisa saja tak lagi relevan. Karena hal itu bukan lagi dipandang sebagai prestasi (bagi sebagian orang).

Hari ini, prestasi bisa saja didefinisikan sebagai karir yang mapan, kepemilikan atas properti, lahan luas, rumah mentereng, dan hal-hal lainnya. Atau prestasi dalam benak saya yang berarti bermanfaat bagi orang lain. So, bisakah kita berhenti mengurusi kehidupan orang lain dengan bertanya "kapan punya anak?".


Kamis, 20 Februari 2020

WNI Eks-ISIS; Apakah Keinginan untuk Hidup Layak Merupakan Dosa?

Bebeapa waktu lalu saya berdebat cukup panjang sehabis baca berita terkait pemulangan WNI eks-ISIS. Pemerintah resmi memutuskan untuk tidak memulangkan mereka. Saya termasuk orang yang pro untuk tidak memulangkan mereka. Mungkin ini akibat dari membaca berita di media yang lebih banyak memuat tentang pemulangan Eks-WNI yang dianggap sebagai ancaman. Atau pemberitaan yang berkutat pada hal-hal yang bebau simbol, seperti pasport yang dibakar, bendera, dan lainnya. Di antara sekian banyak pemberitaan di media, ada dua media yang memiliki sudut pandangan yang berbeda. Ada BBC Indonesia dengan video wawancaranya bersama seorang anak perempuan yang diikutsertkana ayahnya ke Suriah. Ada juga berita dari Tirto.id yang mengulas lebih dalam perihal pemulangan ISIS.

Saya yang awalnya kekeh pada pendirian untuk tidak memulangkan mereka karena menganggap bahwa hal ini adalah konsekuensi dari pilihan mereka bergabung dengan ISIS. Lalu saya sadar, asupan bacaan saya akhir-akhir ini lebih banyak dari media "Katanya", yang hanya memadanga isu ini hanya sebatas hitam-putih ; anatara dipulangkan vs tidak dipulangkan.  Media-media ini hanya megutip mereka yang pro atau kontra, hanya sebatas itu. Ini yang membuat saya berasumsi bahwa pemulangan mereka hanya akan menjadi beban, " Indonesia masih memiliki ratusan juta rakyat untuk diberi makan, mengikhlaskan jumlah yang ratusan ini bagi saya bukan hal yang besar. Toh, itu juga pilihan mereka bukan?" demikian saya bergumam.

Namun perdebatan singkat dengan partner saya membuat saya berfikir lebih dalam. Ia menganggap saya menggunakan standar ganda dalam melihat kasus ini. "bagaimana bisa kau berempati dengan mereka yang di Papua, Uigur, Yaman, dan kaum tertindas lainnya, tapi tidak dengan mereka ini (Eks-WNI). Saya sempat mengelak, "apa yang terjadi pada WNI eks-ISIS ini berbeda, mereka melakukannya atas kehendak sendiri. Orang-orang di Papua atau Uigur kan melakukan perlawanan atas penindasan, lah mereka?" kata saya panjang lebar malam itu. obrolan kami berlanjut sembari menunggu lampu merah berubah warna.

Sesampai saya di rumah, saya memikirkan kembali apa yang saya ucapkan dalam perjalanan tadi. Saya yang akhir-akhir ini sedang belajar terkait hak-hak anak mulai merenungkan kembali perihal kasus ini. Apakah ini hanya perihal bendera dan passport? Memang, hak dasar seseorang setelah ia dilahirkan adalah identitas. Tanpa identitas ini, mereka tidak akan mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan hak-hak lainnya.

Bagaimana bisa, saya yang menolak terjebak dalam nasionalisme banal (memandang nasionalisme sebagai simbol-simbol) malah terbawa arus dalam narasi media yang hanya menyuguhkan informasi hitam-putih, padahal isu ini cukup kompleks.

Sebutlah anak yang diboyong ayahnya untuk bergabung dengan ISIS tadi, Nada Fedulla yang malang. Dia sedang asik-asiknya belajar, dan bercita-cita ingin menjadi dokter. Malah harus putus sekolah untuk mengikuti perintah sang ayah. Melihat wawancaranya dengan Quentin Sommerville membuat saya bertanya-tanya, apakah pola relasi dalam keluarga Nada ini adalah relasi yang setara?

Saya membayangkan relasi dalam keluarga ini cukup timpang, ada anak-anak dan istri dalam posisi subordinat, dan si ayah memiliki otoritas untuk menentukan apa yang terbaik untuk keluarganya. Saya melihat pola relasi ini seperti hubungan negara dengan warganya, apapun yang negara katakan harus dipatuhi oleh warga, tidak peduli jika itu harus membuat warga kehilangan mata pencahariannya. Jika negara mengatakan, "saya akan membangun bandara" makan warga harus tunduk, meskipun itu berarti warga akan kehilangan lahan pertanian untuk menopang hidupnya.

Nada Fedulla Tak Semujur Nur Dhania


Foto bersama Nur Dhania dalam acara ASEAN Youth Ambassador for Peace

Tahun lalu, dalam acara ASEAN Youth Ambassador for Peace yang diselenggarakan BNPT, saya bertemu dengan Nur Dhania. Dhania memaparkan pengalamannya saat bergabung dengan ISIS pada tahun 2017 silam, ia kemudian berhasil pualng ke Tanah Air pada tahun berikutnya. Kisah Dhania ini kemudian diangkat menjadi sebuah Film yang bertajuk Seeking The Imam. Dahnia kemudian banyak diundang untuk memberikan pemaparan tentang kisahnya.

Berbeda dengan Nada, Dhania memiliki posisi tawar dalam keluarganya. Ialah yang berperan membujuk orangtuanya untuk pindah ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Bagaimana dengan Nada? Gadis ini tak semujur Dhania. Meskipun sama-sama pernah bergabung dengan ISIS, Nada tak bisa kembali ke Tanah Air setelah pemerintah memutuskan untuk tidak memulangkan WNI eks-ISIS.

Framing media
Kita terus-menerus diberikan pilihan oleh media, memulangkan atau tidak memulangkan. Seolah-olah tak ada opsi lain. Kita dipaksa untuk memilih, jika kita sepakat dengan pemulangan eks ISIS tadi, maka kita akan dicap sebagai pendukung ISIS. Sebaliknya, ketika kita menolak berarti kita mejaga Republik ini dari ancaman terorisme. Begitulah narasi yang kebanyak dimuat media. selain itu kita terjebak pada Nasionalisme simbol-simbol, pembakaran passport, dan lainnya.\

Tapi ada hal yang tidak banyak dimuat media, seperti "apa yang akan terjadi ketika mereka kita biarkan 600an orang ini stateless?" Mereka kehilangan hak identitas, hal untuk dilindungi, akses pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Kita membiarkan mereka terobang ambing dalam ketidak pastian, seraya bergumam "toh itu pilihanmu".

Apakah mereka memilih bergabung ke ISIS semata-mata karena alasan agama? mungkin ada sebagian dari propaganda ISIS yang iming-imingi mereka sebuah negara yang makmur, terbebas dari kesenjangan sosial, negara tanpa pemerintahan yang korup, hukum yang adil, semacam baldatun tayyibatun warabbul gafur. Bukankah alasan-alsan di atas seharusnya membuat negara berkaca kembali?

Saya melihat fenomena ini seperti orang yang teratrik investasi bodong karena ditawarkan untung dalam jumlah yang lumayan, ditengah ketidak berdayaan. Lantas siapa yang bisa disalahkan? Korban yang kurang melek sehingga membuatnya tertipu, serta keadaannya yang mungkin serba kekurangan. Bukankah ini sebuah usaha untuk merubah hidup?

Kisah Keberhasilan Deradikalisasi BNPT

Cukup lama saya memantau berita yang bersliweran, tapi tidak jua menemukan berita tentang keberhasilan BNPT dalam menderadikalisasi eks-teroris dan eks-ISIS. Sepertinya narasi ini tak banyak diberitakan. Kita semua larut dalam judgment dan pesimisme.

Bukankah Indonesia punya pengalaman menangani WNI eks ISIS? ya, tentu saja ada. Tirto.id memuat berita dengan tajuk "Mengapa 600 WNI Eks ISIS Perlu Dipulangkan dan Diadili di Indonesia". Dalam berita tersebut, keberhasilan Indonesia menangani WNI eks-ISIS, salah satunya mantan direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Badan Pengusahaan Batam, Dwi Djoko Wiwoho pada 2018 lalu. Djoko dan keluarganya menghilang sejak Agustus 2015. Belakangan diketahui Djoko telah bergabung dengan ISIS dan beroperasi di Irak. Akhirnya Djoko dan keluarganya berhasil dipulangkan ke Indonesia, tapi Djoko mesti mendekam di penjara setelah divonis 3,5 tahun penjara. Sementara anggota keluarga lainnya menjalani program deradikalisasi beberapa minggu sampai akhirnya dilepaskan.

Elit-elit yang Judgmental

Media mengutip beberapa pernyataan elit politik, pimpinan ormas, pakar hukum, dan lainnya. Namun, ada pernyataan pernyataan elit-elit kita di media yang cenderung judgmental, bahkan menyamakan WNI eks-ISIS ini dengan pasien virus corona. Pernyataan ini seolah-olah menganggap keduanya adalah penyakit yang satu-satunya jalan untuk menghindar darinya adalah menjauhinya, bukan menyembuhkannya. Apakah seperti wajah kita? Tak butuh lama untuk melayangkan stigma. Padahal perkara-peraka seperti ini butuh pendekatan yang lebih humanis. Apakah keinginan untuk bertahan hidup, dan hidup layak adalah sebuah dosa???

Kamis, 16 Januari 2020

Dilemma KPR Yang Tak Jua ACC


"Emang susah jadi orang miskin," celetuknya seusai melihat layar handphone.
Reaksi suamiku yang masih menunggu kabar dari salah satu Bank untuk pinjaman KPR.

Satu tahun menikah, kami memang masih mengontrak. Saya si tidak masalah mengontrak atau kos, karena sudah terbiasa nomaden. Tapi kalau dipikir-pikir, biaya sewa rumah tak jauh beda dengan biaya angsuran rumah subsidi. Beberapa waktu lalu, kami menengok beberapa perumahan subsidi. Tapi entah karena kendala lokasi atau suasana membuat kami enggan melanjutkan ke proses bank. 

Kali ini kami mengajukan pinjaman ke Bank untuk mengambil sebuah rumah. Rumah tersebut terletak di tengah-tangah sawah, rumah ini dibangun di atas tanah kavlingan seluas satu are. Namun, karena SK kerja saya yang tak kunjung juga diterbitkan, alhasil kami agak kewalahan untuk mengajukan pinjaman. 

Belum lama ini, kami juga sudah membooking rumah komersil di lokasi yang cukup asri. Namun, mejelang hari H penyerahan DP, kami berbuah pikiran setelah melihat cicilan bulanannya. Belum lagi uang DP yang minta developer belum terkumpul sampai batas waktu yang ditentukan. Alhasil, uang booking itu hangus, karena sudah lewat tempo.

Sebenarnya, kami memiliki lahan yang sudah dibangun, meskipun hanya berupa fondasi. Tapi, karena alasan akses jalan yang lumayan sulit, jadi kami menunda pembangunanya. Akses jalan ini kemudian berimbas pada biaya angkut material dari jalan utama ke lokasi pembangunan, ini memakan biaya tak kalah banyak dari harga materialnya.

Ada ada seorang kawan yang nenawarkan kami rumah. Istri kawan ini kebetulan bekerja di developer perumaha yang ia tawarkan. Lokasinya cukup strategis, sekitar 10-15 menit dari pusat kota. Lingkunganya terbilang cukup asri, dikelilingi area persawahan. Agak sedih sebenarnya melihat bangunan di tengah area persawahan. Ini menjadi opsi ke-2 kami, jika pengajuan pinjaman ke bank tak jua ACC. 

Akhir-akhir ini pembangunan perumahan di sekitar daerah Lingkar, Kota Mataram , memang cukup massif. Alhasil, wilayah yang dulunya hanya area persawahan yang ditanami padi, jagung, dan kangkung itu berubah jadi kawasan perumahan yang lumayan padat. Perumahan yang satu bersambung dengan yang lainnya. Akses jalan yang luas, juga menyebebkan banyaknya toko dan rumah makan baru bermunculan di sepanjang jalan Lingkar.

Well, mungkin ini karena tetangga kami di perumahan tempat kami mengontrak sekarang teramat sayang pada kami, maka dari itu rencana mengambil rumah sendiri belum jua terealisasi. Mereka selalu bilang, "di sini aja mbaq, jangan pindah". Ucapan ini bisa berarti dua hal, yang pertama mereka mendoakan kami terus mengontrak. Yang ke dua, mereka mendokan kami cepat kaya agar mampu membeli rumah di perumahan yang terbilang mahal ini.😅

Yes, life is dream for the wise, comedy for the rich, game for the fool, and a tragedy for the poor.
If you are poor, then be wise. So this life may be just like a dream🤣.

Minggu, 07 Juli 2019

Pasar malam yang ramah jam malam

Kamis sore lalu, grup WhatsApp(WA) Blogger Lombok tiba-tiba ramai. Bunda muslifa, sebagai kepala suku hendak mengajak beberapa Blogger Lombok untuk ikut di acara Lounching Pasar Malam di Aruna Seggigi. I'm so exited to hear that. Tak butuh waktu lama, I put my name on the list. Kupikir ini kesempatan bagus untuk bertemu kawan-kawan blogger yang hanya saya temui lewat grup WA.

Usai solat magrib, bersama dua orang blogger yang sudah lebih dulu saya kenal, Asmak dan Fadil, kami langsung meluncur ke lokasi acara. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja untuk sampai di hotel Aruna Senggigi. Sampai di area kolam, kami disambut dengan hangatnya suasana pasar malam. Para pekerja yang tak henti-hentinya menebar senyum sembari melayani pesanan para tamu, anak-anak yang tiduran di karpet sambil bermain game dan bercengkrama dengan keluarganya, alunan live music yang menyegarkan di telinga dan hati, serta gerombolan muda-mudi yang asik mengobrol diikui gelak tawa.
Terlampau asik mengamati suasa pasar malam ini membuat saya lupa, di depan saya sudah ada bang Ajie dan bang Didit yang sudah lebih dulu tiba di lokasi. Bergantian saya menjabat tangan keduanya sembari memperkenalkan diri. Bang Didit tiba-tiba nyeletuk, " dalam bayangan saya, hikmah itu emak-emak yang badannya lebar". Semua tertawa menyadari bandan saya tak selebar yang dibayangkan bang Didit.
.

Ka Asmak langsung menggeret saya ke stand Nasi Puyung. Tapi, saya lebih suka melipir ke stand popcorn🤭. Awalnya berharap dapat popcorn asin, ternyata hanya ada rasa karamel yang semanis hidup saya. Tak lupa, kami memesan jus jeruk untuk minuman bersama. Kami memilih untuk duduk di karpet dibandingkan di kursi, agar lebih leluasa tiduran dan duduk bersila. Saya tiduran sambil menonton babang penyanyi memainkan gitar akustiknya. Band Ajie datang membawa Wedang, dan Bang Didit membawa Nasi Liwet. Ada juga Satai Usus dan Telur Puyuh. Satu persatu kami icip makanan yang sudah terkumpul di tengah-tengah kami. Menu yang belum sempat saya coba adalah Bakso.

Setelah makan, masing-masing dari kami memilih menu favorit. Minuman favorit kami jatuh pada Wedang , si hangat yang sangat cocok untuk suhu Lombok di bulan Juli. Dinginnya cuaca di Lombok yang terkadang bisa mencapai 20 derajat Celcius membuat kami butuh minuman jenis ini.  Kehangatan wedang menambah hangatnya meet up kami malam itu. Sedangkan untuk makanan, pilihan kami beda-beda. Ka asmak memilih Nasi Balap, Bang didit dengan Nasi Liwet, dan saya yang bunda Muslifa sebut sebagai anak bioskop banget memilih Popcorn.

Harga makan dan minuman di sini bervariasi, dari satu dolar hingga tiga dolar.
Terbilang murah untuk tempat yang berkonsep taman dengan makanan street food, tapi jauh dari riuhnya kendaraan dan polusi. Untuk mendapatkan dolar ini, anda bisa menukarkannya dengan uang rupiah di stand khusus penukaran. Satu dolar seharga sepuluh ribu saja. Dolar ini khusus untuk berbelanja di area pasar malam. Jika dolar anda tak habis anda belanjakan malam itu, anda bisa menukarnya kembali dengan uang asli, atau kembali berbelanja pada jawal pasar malam berikutnya.

Pasar Malam Aruna ini hanya ada empat kali dalam semingggu, yakni hari Senin, Rabu, Jum'at, dan Minggu. Dibuka dari jam 19.00-21.00. Tentu, jadwal pasar malam ini ramah bagi muda-mudi yang ingin hang out tapi masih terjerat jam malam. "You have to go home before 10 o'clock!" Mom says.

Sabtu, 18 Mei 2019

Usaha terasi dan pemberdayaan perempuan

Terasi atau dalam bahasa Sasak disebut sebagai acan merupakan salah satu jenis bumbu yang terbuat dari ikan atau udang yang difermentasi. Warna dari bumbu yang satu ini bervariasi mulai dari hitam, coklat dan merah gelap. Terasi ini memiliki rasa dan aroma yang sangat tajam. Di Indonesia, bumbu ini digunakan untuk membuat sambal terasi. Selain itu, terasi juga digunakan sebagai penyedap dalam berbagai makanan tradisional Indonesia. Tak hanya ditemukan di Indonesia, bumbu ini juga dapat ditemukan di negara Asia Tenggara lainnya dan Tiongkok selatan

Untuk membuat terasi terbaik, pekerja di desa Jerowaru membutuhkan bahan baku terbaik. Mereka menggunakan udang rebon pilihan. Selain itu, pembuatannya harus melalui proses yg higienis. Pembuat terasi dari "Jero Acan", Desa Jerowaru, Lombok Timur, memiliki standar dalam proses pembuatan terasi, seperti menggunakan sarung tangan dan masker.

Hal yang membuat terasi JeroAcan berbeda dari terasi lainnya terletak pada proses pengeringan. Terasi ini dijemur di rumah penjemuran yang tertutup, hal ini membuat produk JeroAcan tidak terkontaminasi oleh benda-benda asing yg tersebar melalui udara terbuka. Tentu saja, ini membuat terasi JeroAcan gurih, bersih, dan higienis.


Salah satu perempuan belia yang kami temui merupakan salah satu anak pekerja di JeroAcan. Dia kuliah di salah satu universitas di Mataram. Dia mengatakan usaha terasi ini membuatnya mampu belajar sampai perguruan tinggi. Dia membayar biaya kuliahnya dengan uang yg dihasilkan dari usaha ini. Ini membuktikan bahwa usaha ini tak hanya memberdayakan pekerjanya, tapi juga anak-anak mereka.


Rabu, 03 April 2019

Dapat untung dari lestarinya alam

Enam orang wanita tengah sibuk dengan pisau kecilnya. Benda tajam itu dengan cekatan digunakan untuk menyisir setiap ruas tubuh kepiting rajungan, kepiting dengan ukuran kecil. Setiap harinya, sekitar sepuluh orang perempuan bekerja di PT ini untuk memilah daging kepiting rajungan. Dalam dua hari, mereka bisa menguliti sekiar 100 Kg kepiting rajungan untuk diambil dangingnya.

Salah satu pekerja di PT tersebut mengungkapkan dari 100 Kg kepiting rajungan, hanya sekitar 23 Kg yang berisi  daging kepiting. “Dari 1 kwintal, paling cuma 23 Kg isinya. Tergantung bagus atau gaknya rajungan itu” Ujar perempuan yang sudah bekerja untuk PT ini sejak tahun 2000. Saat ditanya terkait penggunaan cangkang kepiting, mereka serempak mengatakan “eee, biasanya dibuang, kalo ada yang pesen baru kita bungkus, bisa jadi makanan ayam”.

Di  PT inilah Harniati, ketua kelompok usaha perempuan dusun Keranji, mengambil cangkang kepiting untuk bahan baku kerupuk. Harniati mengatakan, Ia bisa mendapatkan satu karung cangkang kepiting hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp. 25.000. “ kan dulunya dibuang jadi sampah, ee sekarang kita bisa olah. Sekarung itu kita bayar 25 ribu” terangnya.
Upaya kelompok usaha perempuan ini mampu merubah limbah cangkang kepiting menjadi komoditas yang memiliki nilai jual. Ini tak hanya membawa keuntungan bagi kelompok usahanya, akan tetapi juga bagi penyedia bahan baku, PT Sinar Selatan.
Selain itu, seperti yang diungkapkan para pekerja di PT tersebut, dari 100 Kg rajungan hanya 23 Kg daging kepiting yang bisa diambil. Sehingga, bisa diperkirakan kurang lebih 77 Kg yang berupa kulit kepiting menjadi limbah. Pemanfaatan cangkang kepiting menjadi olahan kerupuk mampu mengurangi limbah cangkang kepiting, yang tentunya baik untuk lingkungan. 

Senin, 04 Maret 2019

Berkah dari inovasi kerupuk cangkang kepiting

Aroma bawang putih tercium dari teras ibu Harniati. Ia dan beberapa perempuan lainnya tengah berjibaku dengan bahan-bahan untuk membuat kerupuk. Ada yang tengah sibuk membuat adonan sembari menunggu adonan yang sedang dikukus mateng. Ada pula yang sibuk memotong adonan yang telah matang. Sedangkan kerupuk setengah kering masih terjemur dibawah terik matahari.

Seperti inilah aktivitas sehari-hari kelompok usaha perempuan di dusun Keranji, desa Paremas. Kelompok usaha ini terdiri dari enam orang, yang diketuai oleh ibu Harniati. Usaha yang menjadikan limbah cangkang kepiting sebagai bahan dasar ini baru berlangsung selama empat bulan, namun telah terasa dampaknya bagi perempuan-perempuan yang tergabung dalam kelompok usaha ini.
“ Senag sekali rasa ada usaha seperti ini” ujar Siti Faizah. Ibu dua anak juga menambahkan, dengan adanya usaha seperti kerupuk cangka kepiting ini perempuan-perempuan di dusun tersebut memiliki kegiatan tambahan selain mengurus rumah. Senada dengan siti, Raihan juga merasa terbantu secara financial dengan adanya kegiatan seperti ini “adalah kita dapat tambahan untuk belanja” ujarnya.

Beberapa anggota kelompk usaha ini memang menggantungkan hidup dari kiriman suami yang tengah bekerja TKI. Rumini, ibu dua anak yang masih memiliki balita ini sedang ditinggal suami ke Malaysia. Rumini mengaku usaha kerupuk cangkang kepting ini dapat membantunya memenuhi kebutuhannya.
Menurut Harniatin, beberapa perempuan di dusun tersebut juga mulai tertarik untuk belanjar cara pembuatan kerupuk cangkang kepiting ini “ sumiati, angota yang saya tunjuk jadi sekertaris kemarin berniat untuk membuat kelompok baru, soalnya banyak yang minta diajarin cara buat kerupuk ini”.

Ketua kelompok usaha ini juga mengungkapkan, selain gaji harian yang ia bagi ke anggota-anggotanya, keuntungan usaha yang ia simpan juga biasa ia pinjamkan ketika ada yang membutuhkan, “ kadangan ee saya pinjamkan ke anggota, tapi ada juga selain anggota yang minjem” tandasnya.


Selasa, 25 Desember 2018

What is morality?

By all his crazy project, people think he's crazy
I really familiar with the word "crazy" especially when the word refers to my dad. I keep wonder how could he keep doing good thing to those people who think he's crazy. Don't he feel upset coz nobody say thanks to whatever he did?
I ask him" why are we sacrifice our land for them and build this dike? They said that u're crazy, they never apreciate what u did"
he reply" there are two kind or people, those who satisfy with their own achievement without thinking about other people, and those who never satistfy without sharing with other. Which one do u choose?"
I was thinking "i choose the second, yaaeh sometimes i also realize that we fight for some people's right while those people don't care we fight for the"
he said " then, do i live for their comment or they live from my craziness? "
I took few second to think " yeah, u make something for them, it needs service and material and economic circle is alive".
he said " yeah, so i told you. Kindness is not working in that way u said. U don't need their apreciation to you, but here(pointed to his chest) u can feel it. That's what make us alive in the real way " i said " does it what people call as morality? When we do something beyond our own responsibility''

Senin, 10 September 2018

Tentang kebebasan

Dalam buku yang berjudul "krisis kebebasan", Albert Camus mengatakan bahwa usai diraih, kebebasan itu laksana udara yang bisa dihirup oleh siapa saja. Namun, tau kah kau apa yg terjadi ketika sesuatu itu bebas dinikmati oleh siapa saja? tak ada lagi yang benar-benar memperhatikannya. Hingga ia terkikis sedikit-demi-sedikit lalu menghilang, barulah orang tersadar bahwa ia telah tiada.
Bagi petani dapat menanam apa saja di ladangnya tanpa dihalangi oleh siapa saja merupakan kebebasan. Bagi organisator, bebas untuk berserikat dan mengungkapkan pendapat adalah kebebasan yang tentu tak dapat diganggu gugat. Tentulah kebebasan di sini merupakan kebebasan yang bisa dipertanggungjawabkan dan tidak merenggut hak orang lain. Namun apa yang terjadi hari ini? Petani menjerit karena lahanya diganggu oleh kaum yang seharusnya membela mereka ketika dalam kesulitan. Organisasi dibubarkan karena dianggap bertentangan dengan ideologi pemilik rumah tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Kemerdekaan yang identik dengan kebebasan mulai kita pertanyakan keberadaannya. Apa yang dimaksud dengan merdeka dan bebas? Bukankah itu adalah hak yang kita bawa sejak lahir? Namun, ketika tumbuh dan berkembang dalam lingkungan masyarakat kita terikat oleh aturan yang diciptakan dan kemudian menciptakan kita. Pun dengan kebebasan yang kita bawa sejak lahir, ia harus tunduk pada sekat-sekat tertentu. Dan tentu saja, sekat yang diciptakan bukanlah sesuatu yang murni tanpa kepentingan. Untuk melangengkan kekuasaan?  Mungkin itu salah satu alasanya.

Jumat, 17 Agustus 2018

Perayaan Hari Kemerdekaan dan Politik Etis

Sama seperti pesta pada umumnya, perayaan hari ini pasti akan berakhir. Lantas apa yg akan tersisa? Anggaran yang dihabiskan untuk perayaan hari ini tentu tidak sedikit, tapi itu tidak ada apa-apanya. Kan bangsa ini adalah bangsa yang kaya, kalau cuma pesta kaya gini mah kecil. Malu juga si, bangsa kaya raya kok pelit untuk sekedar membiayai peringatan hari jadinya. Pajak rakyat memang diperuntukkan untuk itu kan?
Dibalik kemegahan peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia di Istana Negara, di luar sana banyak orang memperingatinya dengan cara yang berbeda. Ada yang sibuk bermain tarik tambang ketika tambang-tambang di Negeri ini ditarik oleh investor, ada juga yang sibuk dengan pakaian rapi nan indah serta hidangan beraneka rupa, ketika kaum miskin kebingungan mencari pengganjal perut dan penutup badan untuk menghalau hawa dingin. Ada yang sibuk dengan memperhatikan manuver-manuver pesawat TNI yang di udara, ketika para veteran perang berjalan dengan kaki tiga karena telah diusia senja tak kunjung sejahtera. Ada juga yang sedang khidmad melaksanakan upacara dipuncak gunung, atau menyatu dengan keindahan alam di bawah laut sembari mengibarkan bendera kebanggan.
Bagi sebagian orang, berbaris, hormat bendera, serta bernyanyi menghadap sang saka merah putih terkesan militer, maka aku memilih tenggela dalam lautan kata-kata sebuah novel sejarah tentang bapak yang terlupakan. Novel tersebut berjudul "Tan sebuah novel"  karya Hendri Teja. Ketika orang berpanas-panasan upacara di bawah terik matahari sembari hormat berdera dan diiringi lagu indonesia raya, saya larut dalam bacaan sembari merasakan semangat Ibarahim muda yang memuncak ketika penulis menceritakan tentang keberhasilannya menyelenggarakan kongres pelajar Hindia di Nederland kemudian membentuk Perhimpunan Pelajar Hindia Nederland (PPHN). Hal yang menarik bagiku dalam buku ini adalah program politik etis. Ya, perogram yg mengizinkan rakyat Nusantara untuk bersekolah dibiayai oleh pengusaha-pengusaha Nederland. Kesempatan ini memang diperuntukkan untuk kalangan tertentu. Sebagai seorang yang memiliki gelar Datuk, Ibrahim muda diperkenankan mengenyam pendidikan tak hanya di Bukit tinggi, namun juga berkesempatan untuk menimba ilmu ke Nederland.
Program politik etis yang diselenggarakan sebagai bentuk balas budi pada rakyat Hindia yang kala itu menyokong pemasukan yang cukup tinggi ke dalam kas Nederland. Untuk tetap mendapatkan keuntungan, tentu cara-cara yang dilakukan oleh pengusaha Nederland untuk menghisap manusia-manusia polos dari Hindia menggunakan cara yang represif seperti menyiksa para pekerja, mereka juga diminta bekerja maksimal dengan upah yang minim. Kembali ke Ibrahim muda dan kawan-kawannya di PPHD, mereka adalah orang-orang pilihan karena berasal dari keluarga terhormat. Bagaiaman dengan keadaan dunia pendidikan hari ini? Biaya pendidikan yang terbilang cukup tinggi, hanya mampu diraih oleh mereka yang tergolong mampu.
Saya fikir, sampai hari ini politik etis alias balas budi masih berlangsung, sebuah negara akan memberikan beasiswa bagi pelajar dari Indonesia untuk belajar di Negaranya sebagai balasan karena telah diberikan ruang investasi atau kerjasama dibidang ekonomi berupa import barang dari negara tersebut, tentu cara itu tidak lagi dengan cara yg represif tapi persuasif (ISA). What make it different? Hanya perubahan dari cara penjajahan dari represif ke persuasif. Selain itu, politik balas budi  ketika ibarahim muda medapatkan beasiswa ke Nederland itu kita belangsung ketika kita belum memperingati 17 agustus, sedang  sekarang kita sudah memperingati 17 Agustus 
Merdeka %??

Kamis, 17 Mei 2018

Shared value (myth) vs Intersubjective reality

Selama beberapa waktu terakhir, saya tengah berfikir "apa jadinya negara ini tanpa legitimasi?". Jika orang-orang mulai sadar akan segala sesuatu yang dilakukan oleh negara melalui legitimasi untuk mengatur dan menundukkan rakyatnya. Rakyat tidak lagi hidup dibawah nilai atau aturan yg sama yang ditetapkan oleh negara, melainkan rakyat sudah bisa memproduksi nilai yg mereka yakin masing-masing yg berlawanan dengan negara. Sebut saja hal ini dengan istilah shared myth atau shared value (nilai bersama) vs intersubjective reality (realitas yg diyakini masing-masing individu).

Dalam kasus bom Surabaya misalnya, negara memiliki versi bahwa pelaku pengeboman adalah kelompok JAD atau kelompok yang sudah berbaiat ke Daulah Islamiah. Namun di lapangan, bermuculan beberapa asumsi bahwa ini adalah rekayasa pemerintah untuk melanggengkan kekuasaan. Atau, pelaku pengeboman hanyalah kurir suruhan untuk mendiskritkan islam. Atau pandangan lainnya. Pandangan-pandangan tersebut kemudian diyakini oleh beberapa individu sebagai realitas mereka.

Ketika negara gagal menancapkan legitimasi pada kasus ini, untuk membuat rakyat yakin bahwa kelompok JAD itu ada, bahkan sebaliknya negara yang dituduh berada di balik ini semua. Apa yang akan terjadi? Sebagai orang tak lagi percaya  pada apa yang negara yakini atau kebenaran versinya. Semakin lama kepercayaan terhadap negara dan instansi lainnya semakin terkikis.

Kita menyadari bahwa selama ini, yang membuat kita masih menjadi negara yang utuh adalah karena kita memiliki "mimpi yang sama" atau shared value tadi yang tertuang dalam segala aturan untuk menciptakan kehidupan berbangsa yg lebih baik. Jika kepercayaan pada negara mulai terkikis dan mimpi-mimpi yg sudah dibangun itu tak lagi dianggap sebagai mimpi bersama maka, bukan tidak mungkin kita akan memilih jalan masih-masing dan bubaran (eits, jangan baperrrr di bagian ini 😂😂)

Itulah mengapa, legitimasi dan shared value itu penting. Untuk menjaga mimpi bersama yg sudah dibangun bersama. Meskipun yg namanya mimpi tidak jauh berbeda dengan myth 😊.Langgengkan legitimasimu mewujudkan mitos-mimpi bersama.

Dan ini semua tentang kepatuhan~~
Tapi, bisakah kepatuhan ini didapat tanpa menghilangkan sikap kritis? Ah.. let me think about it.

Kamis, 10 Mei 2018

Do you think am odd?

Tak semua orang suka untuk diajak berfikir. Tak semua orang suka bertanya, apalagi menanyakna hal-hal yang sudah panten dan tabu untuk dipertanyakan. Ketika aku mulai bertanya tentang siapa aku, mengapa aku ada, apa aku pernah ada sebelumnya, apakah aku telah mengetahui jalan dan akhir  hidupku seperti apa. Mempertanyakan kembali apa yang aku yakini sebagai kebenaran, agama serta tuhan. Mempertanya tentang kehidupan selanjutnya, tentang apa yang ada di luar angakasa sana ; misteri alam. Mempertanyaka apakah yang aku ketahui ini bukan hal yang baru, melainkan hal ini merupakan memory yang sudah tertanam di dalam sana, dan aku hanya perlu mengingatnya dengan cara belajar kembali ( 😂😂 entah kenapa bisa mikir gini, in my imagination this ia how world is running) .
Ketika aku mengajak kawan-kawan seusiaku untuk merenunginya, atau sekedar berdiskusi, sebagian dari mereka menolak. Bahkan mereka menganggapnya sebagai suatu hal yg aneh. Sebagian lainnya tertarik, namun mencari jawabnya dari pertanyaan-pertanyaan itu bukan perkara mudah. Bahkan filsuf yang telah lebih dulu ada berabad-abad yang lalu, belum bisa merumuskan jawaban yang dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena, setiap jawaban akan menemukan anti-tesisnya seiring berjalanya waktu, akan ada jawabn baru, sehingga jawabannyapun bergam. Jawabanmu tergantung bagaimana kau menangakap realitas dengan inderamu dan akalmu, lalu kau memprosesnya dengan caramu.
Lantas, bagaimana dengan jawaban-jawaban atas yg diberikan oleh filsuf-filsuf terdahulu? Kita bisa menjadikannya sebgai referensi. Namun, perkara jawaban itu sama atau berbeda adalah hal yang wajar, karena setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda dengan caranya masing-masing.
Ini omongin apa sih?
But, you know what? my friends are right, I am odd 🙌

Bertanya?

Manusia dilahirkan dengan jiwa 'curiosity". Memiliki keingin tahuan yang begitu besar. Ketika masih difase anak-anak, mungkin kita begitu lelah meladenin pertanyaan dari anak-anak. Setiap melihat hal yang baru mereka ingin merabanya, ketika memegang sesuatu mereka akan mencoba memasukkan ke mulutnya, ketika mereka sudah pandai berbicara mereka akan bertanya setiap kosakata baru yang mereka dengar. Sejatinya seperti inilah manusia, melalui rasa ingin tahunya, mereka terus bertanya dan mecoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Inilah yang membawa duni menuju perubahan dan tetap dinamis.

Namun, seiring bertambahnya usia, rasa ingin tahun dan kemampuan dasar untuk bertanya semakin berkurang. Beberapa alasan mengapa ketika beranjak dewasa enggan bertanya adalah karena kita kehilangan rasa penasaran dan mulai menganggap apa yang ada di dunia sebagai hal yang biasa, sebagai dari kita lebih penasaran dengan apa yang terjadi di luar angkasa sana. Selain itu, tak jarang lingkungan di mana mereka tumbuh memaksa mereka untuk lebih sering menerima ketimbang harus bertanya. Karena orang yg lebih tua terkadang malas meladeni pertanyaan atau terlibat dalam perdebatan.

Bagaimana dengan dunia pendidikan yang sejatinya dialektis? Melaui pertanyaan-pertanya tentu diharapkan muncul anti-tesis dan sintesa sehingga dunia pendidikan akan menjadi lebih dinamis. Namun faktanya, kita bisa lihat seberapa sering mahasiswa berani mengajuakan pertanyaan atau adakah semangat mengajukan pertanyaan? Saya yakin tidak banyak. Jika hanya untuk memunculkan pertanyaan saja begitu sulit, bagaiamana bisa memunculkan anti-tesis dari apa yang diajarkan di kelas. Mungkin kau pernah menemukan beberapa orang yang berani untuk berdebat dengan dosen yang berujung dengan nilai E. Tentu hal ini akan menjadi hipotesis, lingkungan semacam ini disadari atau tidak mematikan jiwa kritis manusia hari ini.
Lantas siapa yang lebih berpotensi membunuh kemampuan untuk mengajukan pertanyaan itu lingkungan? Atau keraguan dalam diri karena takut disangka bodoh karena bertanya.
Masih dalam lingkungan pendidikan, apa yang terjadi ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan atas beberapa hal dan tak mendapat jawaban yang memuaskan? Mereka akan dituduh pembelot karena berani-beraninya bertanya. Terutama hal yang dianghap tabu dan privat atau bisa dikatakan aib. Bukankah dari anti-tesis yang dimunculkan dan pertanyaan itu bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi. Tentu, karena selalu dibutuhkan perbaikan. Bukan dengan mebangun citra bahwa apa yang dipertanyakan itu adalah adalah sudah final dan bertanya atau membangun anti-tesis yang berlawan dengan apa yang dikatakan tetua berati sebuh kesalahan. Bukankah sejatinya kita lebih baik menerima anti-tesa yang muncul dan melalukan evaluasi? Dari pada terus menutupi dan menganggap bahwa seolah-olah segala sesuatu itu baik-baik saja dan tak perlu perubahan.

Rabu, 07 Maret 2018

Virus akalbudi

Meme dikatakan sebagai ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya.Sebagai unit terkecil dari evolusi budaya, dalam beberapa sudut pandang meme serupa dengan Gen. Richard Dawkins, dalam bukunya The Selfish Gene, ia menceritakan bagaimana ia menggunakan istilah meme untuk menceritakan prinsip Darwinisme dan menjelaskan penyebaran ide ataupun fenomena budaya. 

Bagaimana jika saya menolak apa yg buku ini katakan tentang meme? Dengan membaca buku ini berarti saya telah masuk ke dalam pemikiran si penulis dan segala penafsirannya tentang "meme". Bukankah si penulis juga sedang menggandakan virus dengan menulis apa yg ia pikirkan tentang meme? Bagaimana jika saya menyebut  "meme" yg Ia tulis di sini dengan istilah lain, seperti legitimasi, wacana, adat, kebiasaan, aturan dan hegemoni? Istilah yg juga dibuat oleh orang-orang yg tidak saya kenal dan saya juga tidak tahu kenapa harus menerima istilah itu. Hanya saja itu semacam kesepakatan yang secara sadar dan mungkin juga tidak sadar diterima, diulang, diperbanyak sampai ada yg datang dengan istilah baru dan menolak yang lama.
Sama seperti bagaimana saya menulis setiap kata untuk mengungkapkan apa yg saya pikirkan dengan simbol-simbol yang sudah kita sepakati sebagai bahasa.

Lihatlah, kita memang mahluk yg paling getol mencari makna dan terus mencoba untuk menjelaskan setiap fenomena yang ada.
Penjelasan akan setiap fenomena tergantung bagaimana indera kita menangkap realitas yang ada dan memprosesnya dengan logika.
Penjelasan itu yang kita anggap sebagai yang benar. Akan tetapi, apakah kebenaran itu utuh atau hanya setengah dari kebenaran? Itu akan berubah seiring dengan perubahan cara menangkap realitas itu.
Itulah mengapa saya menolak pengkultusan akan sesuatu atau seseorang, tentun hal itu akan membuat kita meyakini apa yang ia katakan sebagai kebenaran dan memprogram akalbudi kita untuk menerimanya tanpa pernah bertanya. ( Untuk hal-hal non-trasenden)

 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design