Rabu, 12 Juli 2017

Yang rumit itu istimewa

Dia Maha segala, sedangkan ciptaan tidak ada apa-apanya
Ciptaan dibuat tunduk karena tak berdaya dihadapanNya
Ciptaan yang tunduk akan diberika surga
Dan yang membangkan akan diberi gajaran berupa neraka
Dia meciptakan penyakit, juga obatnya
Dia menciptakan masalah, juga solusinya
Ciptaan kemudian kebingungan dengan  pertanyaan-pertanyaan dari mana, mengapa, untuk apa dan segala tentang "ADAnya".
Ciptaan merasa dirinya begitu rumit, tentu saja. jika ia dapat memahami dirinya dengan otaknya maka ia adalah ciptaan yang tidak istimewa.
Jika untuk menjadi istimewa ciptaan harus menjadi rumit, bagaimana dengaNya?
Tidakkah Ia juga akan terkesan terlalu rumit untuk memahami diriNya sehingga Ia menciptakan kita?

*Istigfar*
Sebelum ini terlintas dibenakku, sepertinya Kau sudah lebih dahulu tahu 😁
"Seharian aku tengah bingung, medalami sebuah kelainan yang oleh para ahli disebut sebagai bipolar. Sebuah keadaan dimana emosi tidak stabil dengan perubahan yang sangat signifikan. Dari depresi hingga hiperaktif (red: mania). Jika menjadi bipolar disebut sebagai " disorder" dan merupakan ketidak normalan  aku menyadari bahwa Tuhan menciptaan manusia yang begitu rumit dan istimewa dengan segala problematikanya. Mereka menjadi unik dengan caranya, terutama pada hal psikologis. Jika saja dengan otak ini aku mampu memahami manusia, mungkin tuhan telah menciptakan mahluk yang begitu bodoh tapi, karena ia terlalu kompleks untuk dipahami maka ia menjadi ciptaan yang spesial"

Rabu, 24 Mei 2017

Generasi

Suatu kerajaan atau dinasti pasti pernah mencapai masa kejayanya. Namun, pada akhirnya kerajaan itupun mengalami kemunduran dan pada akhirnya runtuh.

Penyebabnya pun beragam, bagiku salah satu penyebanya adalah tidak tuntasnya transfer ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika generasi satu tingkat dibawahnya menerima transfer ilmu setingkat lebih sedikit, maka semakin ke belelakang, generasi tersebut akan mendapatkan transfer ilmu yang lebih sedikit pula, dan seterusnya sampai mereka berada diujung keruntuhan. Karena generasi satu tingkat dibawahnya menerima ilmu dan didikan yang berbeda maka hasil didikan itu melahirkan orang-orang yang berbeda pula.
Namun, hal itu tentu saja bisa di atasi. Jika saja generasi selanjutanya mau belajar lebih, tidak hanya dari 1 sumber ,namun juga sumber sebelum-sebelumnya. Jika generasi setelahnya memiliki kesadaran penuh untuk menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya.

Permasalahn selanjutnya adalah faktor pada kondisi seperti apa generasi itu dibesarkan. Ketika suatu generasi dibesarkan pada masa kejayaan, maka generasi tersebut akan terbiasa dengan kehidupan yang mewah. Sehingga lahirlah generasi yang oportunis. Ketika generasi oportunia ini lahir dan tak biasa berada dalam tekanan maka itu adalah akhir dari masa kejayaan kerajaan tersebut.

Dan faktor selanjutnya adalah setiap generasi memiliki corak yang berbeda, ketika dihadapkan dengan generasi dengan kesadaran yang rendah, kualitas yang tidak begitu baik, etos kerja yang rendah pula, keberanian yang tergadaiakan, maka habisalah kerajaan ini. Pola didikan seperti yang dikatakan pada faktor penyebab pertama tadi akan mempengaruhi generasi macam apa yang dihasilkan oleh kerajaan tersebut.

07/desember/2016

Rabu, 08 Maret 2017

Kau tau


Hari ini mungkin hari bahagiamu
Dimana tawa dan senyummu tercapur indah
Semua kata manis akan tertuju kepadamu
Hingga do'a dan harapanpun terselip di setiap celah

Tapi hari ini terasa sedih bagiku
Walau bahagiamu aku pinta tak berselang
Hanya aku tersadar di sendiriku
Detik yang diberikanNya telah hilang

Waktumu sudah semakin menipis
Dengan semua yang sudah terjadi
Membatku ingin melihatmu terus
Kekal, tak akan pernah pergi

Kau tahu bahwa aku manusia biasa
Aku tahu kau bersamanya

Sedikitpun aku tak pernah takut
Jika kau memang bersamanya
Hanya satu yang aku takut
Dimana aku kehilangan rasaku ini semuanya

By: AOZ
09/03/2017
To Me

Senin, 06 Maret 2017

Waiting for godot

Sama seperti dalam drama waiting fo godot, mereka terus membicarakan hal yang sampai akhir drama tidak pernah muncul. Sama seperti pertanyaan akan hal yang bisa dikatan diluar jangkauan pengindraan(trasenden), kita selalu bertanya namun tidak pernah berakhir pada jawaban yang benar-benar final. Karen itu, kemudian kita memilih untuk menjalankan banyak hal tanpa bertanya. Mereka berkata daripada bertanya dan tidak mendapatkan jawaban, lebih baik lakukan saja. Namun, hal ini pun kontradiktif, karena kita dikaruniai fikiran untuk berfikir, lalu akupun kembali bertanya. Sama seperti sebelum-sebelumnya hal yang penuh dengan kontradiksi itu begitu absurd.

Kembang kuning-sikur-lotim
7 maret 2017
02.33 am

Kamis, 08 Desember 2016

Live in piece

Pasca abad pertengahan, kemajuan ilmu pengetahuan tak lagi dapat dibendung. Dunia memasuki sebuah era yang mereka sebut sebagai era modern. Era ini telah merubah wajah dunia, segalanya serba instan dengan dikepalai oleh mesin. Ya, tenaga dan bahkan otak manusia semakin lama semakin tergantikan dengan hadirnya mahluk bernama "mesin". Mesin yang menghasilkan suara bising, memuntahkan asap pekat dengan bau menyengat.

Mesin-mesin berkolaborasi dengan manusia tak henti-hentinya mengeruk isi bumi dan berproduksi untuk memenuhi dahaga mahluk yang bernama manusia. Semakin lama mahluk yang tidak pernah merasa puas ini semakin serakah. Karna kebahagian, kesejahtraan dan segalanya diukur dari materi, untuk mengejar materi. Manusiapun saling menipu, menjatukan, bahkan saling melenyapkan. Tenti saja yang paling kuatlah yang akan bertahan. Semacam hukum rimba. Terdengar " hewani" bukan? Tak sekedar hewani, tapi hal ini mengerikan !!

Terkadang, terlintas dibenakku untuk menghindar dari dunia seperti ini. Kembali ke alam yang penuh dengan keindahan, kedamaian, kesederhanaan, dan jauh dari kebisingan, serta polusi. Menghindar dari konflik, hidup ditempat menjunjung tinggi kebersamaan, toleransi dan persaudaraan. Hidup dalam kesederhanaan, mengambil secukupnya dari alam. Terdengar konservatif bukan? Mungkin saja. Aku hanya membayangkan hidup dalam keluarga kecil, bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan. Sesekali pergi kepasar untuk mencari kebutuhan lainya, lalu mengajarkan adik-adikku membaca buku, belajar tentang agama, perbedaan, dan alam semesta. Ah mimpi itu terlalu ideal sepertinya, karna yang konservatif akan akan tergilas oleh arus. Mungkin aku terlalu banyak menonton Kartu serial Krishna yang hidup di sebuah desa bernama Vrindavan. Bukankah itu terdengar lebih damai daripada hidup dalam ambisi yang tidak akan pernah ada habisnya?

Rabu, 21 September 2016

Existence- essence- perfect.


  • Existence

Selalu terfikir olehku, aku lahir, tanpa tahu untuk apa? aku lahir begitu saja, tanpa ada persetujuan ingin atau tidak? istilahnya kecebur gitu aja. Meski begitu, terlahir ke dunia ini dianggap sebagai sebuah kemenangan. Karena, ada jutaan sel sperma yg bersaing satu sama lain untuk membuahi sel telur, dan yang mampu melewati tantangan itu adalah the chosen one untuk melihat dunia. Sering terpikir olehku, bagaimana rasanya tercipta menjadi orang lain atau mahluk lain. Misalnya, bagaimana rasanya terlahir sebagai anak sang presiden, anak penyandang cacat atau bagaimana rasanya jika aku terlahir sebagai burung yang bisa terbang bebas diangkasa. kenapa aku terlahir menajadi aku? mengapa tidak dilahirkan menjadi mahluk tuhan yang lain?

Bahkan, ketika mempelajari sejarah orang-orang terdahulu dan menemukan pemikiran yang sama dengan mereka, entah karena pemikiran itu adalah common sense atau apa, sehingga terkadang membuat ku kadang berfikir, kenapa mereka dilahirkan terlebih dahulu? bagaima jika mereka adalah aku? apakah aku pernah ada dahulu? apa mungkin reinkarnasi itu ada?. Ataukan mungkin setiap orang terlahir dengan ide-ide yang sudah ada, hanya saja mereka lupa, dan apa yang dilakuakn seperti belajar adalah cara mengingat kembali ide-ide yang sudah ada itu?? Pertanyaan itu mengalir terus menerus. Memang menggelontorkan pertanyaan begitu mudah, tapi tidak dengan mencari jawabnya. Dalam kesendirian dan kesunyian aku terus mencari-cari. Namun, yang kutemukan hanya jalan buntu. Pada akhirnya, untuk mengobati rasa penasaran akan jawaban dari segala pertanyaan, aku berkata “Mungkin tuhan pernah bertanya, meminta prsetujuanku, apakah aku sanggup atau tidak dengan apa yg akan Ia gariskan, akan tetapi aku lupa. Dan menjalani setiap detik adalah cara untuk mengingat apa yg telah ia gariskan”. Seorang teman yang aku anggap adviser pernah berkata  “better to do an action than thinking of question that u don’t know the answer”.  
  • Essence

Mencari tahu arti keberadaanku takkan dapat terlepas dari perbuatan, jadi mungkin temanku benar. Aku tak harus menarik diri dari lingkungan hanya untuk berfikir dan menghabiskan seluruh waktu dari hidupku untuk mencari jawaban dari pertayaan itu. Berbuat sesuatu dan menjadi bermakna untuk lingkungan adalah salah satu jalan untuk mengingat kembali apa yang sesungguhnya telah tuhan gariskan sebagai jawaban dari pertayaan-pertanyaan diatas.  Seperti apa rasanya menjadi orang yg berarti bagi orang lain? aku belum tahu, karna aku baru memulai. Lagipula, berarti atau tidaknya seeorang ditentukan oleh penilaian orang yang menganggapnya berarti. Seberapa besar aku dapat berarti berbanding lurus dengan seberapa berat dan seberapa besar tanggngjawab yang aku ambil. Apakah aku akan dapat menyelesaikan misi yang telah digariskan dan dapat mencapai kesempurnaan? Meskipun kesempurnaan itu tak pernah ada dan usaha kita untuk mencapai kesempurnaan adalah kesia-sian, namun mereka yang mengkonstruksi pikiranku berkata bahwa kesempuraan itu berarti “akhir”.
  • Perfect


Sempurna, sebuah kata yang sulit bagiku untuk mendefiniskan seperti apa dan bagaimana rasanya. Entah karna mengekor atau apa, tapi seperti yang mereka katakana,  kesempurnaan hanya milikNya. Mungkin, karna penilaian manusia mengenai tingkat kesempurnaan itu berbeda-beda sehingga tak ada hal yang nampak sempurna bagi manusia. Mungkin juga, karna manusi tak pernah merasa puas, sehingga tak ada yang benar-benar sempurna baginya. Di atas langit ada langit katanya. Dan lagi-lagi, orang yang mengkonstruksi pemikiranku berkata bahwa kesempurnaan itu dapat tercapai pada akhir hayat, atau kematian itu sendiri. Akupun masih bingung mengapa demikian? hipotesisku, mungkin saja ini dikarenakan pada saat kematian itulah manusi akan merasa cukup dan dititik itulah kesempurnaan itu tercapai.  Tak puas rasanya menemukan diriku yang diinterfrensi oleh apa yang aku baca dan berdasarkan pengalaman orang lain. Hal itu membuatku merasa ingin kembali ke titik nol, dimana aku terbebas dari segala macam konstruksi. Tapi tentu saja, kerajaan memory tak bisa dihapus dan dikosongkan  begitu saja. Jadi biarlah seperti itu, seperti anggapan orang-orang itu bahwa kesempurnaan adalah kematian itu sendiri.  In conclusion, anggap saja fase hidup seperti ini: lahir(existence)-> berarti (essence)->mati (perfect). jika difase kedua, seseorang tak mampu menjadi berarti mungkin ia mati sebelum waktunya. 

Sabtu, 16 Juli 2016

Think again about Cool-yah

Dari tempat dimana bintang bersinar begitu terang, namun tidak dengan mimpi. Mimpi disini, bukan mimpi ketika kau terlelap, namu apa yang ingin kau raih saat kau membuka matamu, lalu kau bergerak.

Di tempat ini, aku hanya ingin istirahat sejenak dari rutinitas mengejar angka-anagka yang tak kupahami untuk apa. Ya, angka-angka yang hangat disapa dengan sebutan GPA, yang mengukurku dan segenap kemampuanku, dari banyak aspek katanya. Padahal yang kau butuhkan unuk mendapatkan GPA tinggi hanyalah memuaskan ekspektasi para penentu ukuran itu. Ukuran tersebut bisa saja hanya sebatas pertimbangan mereka, atau hanya berdasarkan apa yang mereka suka. hah, tidakkah semuanya terlihat seperti pemahat yang memahat sebuah patung sesuai keinginannya?
Lantas dimana kebebasan yang mereka gembar-gemborkan?
Tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia katanya. Semua tujuan, terlihat ideal bukan? namun pada kenyataannya tak ada yag benar-benar ideal. Bukankah hakikat manusia untuk bebas? Bebas untuk memilih dan menentukan jalanya sendiri. Namun, berada dibawah bayang-bayang ekspektasi orang lain, bukankah sebuah penjajahan yang menihilkan kebebasan?

Akupun ikut terbawa arus. Arus yang terlalu deras untuk dilawan. Dan mungkin akan terlihat lucu untuk menjadi badut diantara banyak kartu Spade, Heart, Diamond, Club.  Mungkin juga karna aku terlalu takut untuk memilih jalan yang berbeda,( meskipun aku selalu berfikir bahwa aku tetap menjadi diriku sendiri untuk menjadi berbeda) . Mengapa begitu takut memilih jalan yang berbeda? untuk keluar dari sistem pendidikan mainstream. Padahal, banyak yang memilih untuk berbeda dan mampu bertahan dan bahkan sukses dengan pilihanya itu.  Alasanya sederhana, menjadi sebuah kebajikan ketika seorang anak menjadi apa yg orang tua harapkan. meskipun dengan begitu harus terpenjara dalam sebuah sistem pendidikan.  apa itu melawan nurani? entahlah

Apakah menjalani hal ini merupakan keihlasan  atau hanyalah dalih?
Aku tak benar-benar tahu seperti apa keihlasan itu, namun yang kulakukan hanyalah mengikuti arus.seperti yang orang-orang katakan”let it flow”. Bukankah hidup ini layaknya sebuah pohon yang memilki banyak cabang? kau hanya perlu memilih untuk melalui dan mejalani satu ranting dari banyak cabang tersebut. Pilihan itu akan mengantarmu pada sebuah akhir yang telah digariskan. Akan tetapi, setiap ranting akan memberikan cerita yang berbeda. Cepat atau tidaknya kau mencapai ujung pohon, tergantung pada cabang dan ranting mana yang kau pilih. Bisa saja ranting itu penuh lika-liku dan panjang atau mulus dan singkat. Namun, tak ada ranting yang mudah untuk dilalui, karna semuanya memiliki tantangan tersendiri. Terserah padamu bagaimana untuk melalu tantangan-tantangan tersebut. 

Ada beberapa tipe ranting yang mugkin akan ditemui, yang penuh resiko dan yang aman. Mungkin ada yang harus melewati ranting itu dengan berdarah-darah karna ia memilih ranting yang penuh dengan resiko. Ranting tersebut berbeda dari yang lain (read: anti-mainstream) yang tak pernah dilalui orang serta tak ada guideline untuk melewatinya. Sehingga untuk lolos dari ranting itu kau harus harus jatuh bangun. Adapun orang yang memilih ranting aman, yang banyak dilalui orang , akan mudah menaklukkannya karna ada guideline dari orang sebelumnya pernah melewati jalan tersebut. Semua pilihan ada ditanganmu. Untuk mengikuti jejak yang telah ada atau membuat jejak baru.  Begitu gambaran singkat perjalanan sebagai proses untuk mencapai ujung pohon.

Mengenai keputusan untuk memilih cabang dan ranting itu.  Tentu saja setiap orang akan bertanggung jawab terhadap semua pilihannya, dan kualitas orang tersebut akan ditentukan oleh seberapa beresiko pilihan yang diambil. Mungkin aku terlalu oportunis, karna tak berani untuk menggambil sebuah pilihan yang berbeda dan lebih beresiko. Bertahan untuk berbeda dan menjadi diri sendiri challenging bukan? Lantas, sanggupkah manusia mejadi diri sendiri? Benar-benar mejadikan apa yang mereka inginkan tanpa membiarkan lingkungan membentuknya..? Dan tanpa membiarkan dirinya terpengaruh pemikiran orang lain?
 

min verden Template by Ipietoon Cute Blog Design